Chapter 25

14.5K 1.2K 96
                                        

Stella hampir saja memejamkan matanya ketika suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela kamarnya. Ia langsung membuka matanya lebar-lebar, tubuhnya seketika menegang. Jantungnya berdegup cepat, dan rasa takut mulai merayap di tubuhnya.

Tok. Tok. Tok.

Suara itu terdengar lagi. Stella langsung duduk tegak di tempat tidurnya, matanya menatap gelisah ke arah jendela yang tertutup tirai putih tipis. Ia kemudian menelan ludah, lalu berdiri perlahan.

Sekarang sudah lewat tengah malam. Suasana rumah sunyi. Hanya suara jam dinding dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu keras di telinganya.

"Ssst…"

Tubuh Stella langsung menegang. Ia membeku di tempat, matanya melebar. Suara itu jelas berasal dari luar jendela.

"Siapa?" gumam Stella dengan suara hampir tak terdengar. Ia melirik sekeliling, lalu berjalan cepat ke arah meja belajarnya. Tangannya meraih buku paket tebal, satu-satunya benda yang bisa dijadikan senjata darurat.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan itu kembali terdengar. Lebih pelan, tapi cukup untuk membuat Stella menelan ludahnya dengan gugup. "Kalau itu orang jahat… aku tinggal teriak," bisiknya, mencoba menenangkan diri.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju jendela.

Begitu sampai di dekat jendela, ujung jarinya menyentuh tirai. Dengan hati-hati, ia menyibakkannya sedikit.

"S-siapa?" tanyanya gugup.

Dan saat itu juga, sebuah wajah muncul di balik kaca.

Stella menahan napas, matanya membulat kaget. Tangannya langsung menutup mulutnya agar tidak berteriak.

Setelah beberapa detik, ketika jantungnya mulai tenang, ekspresi terkejut di wajahnya perlahan berganti dengan ekspresi kesal.

"Evan…" desisnya pelan, nada suaranya setengah sebal, setengah lega.

Wajah Evan tampak jelas di balik kaca jendela. Ia sedang menempelkan wajahnya di sana sambil menyunggingkan senyum lebar tanpa dosa.

Evan menatap Stella dengan tatapan geli.

Stella mendengus dan segera membuka pintu yang terhubung ke balkon kamarnya.

Clek.

Suara pintu terdengar pelan di antara kesunyian malam.

"Halo," sapa Evan santai, seolah kedatangannya di tengah malam lewat jendela kamar orang lain adalah hal biasa.

Stella langsung menatapnya tajam.
Evan justru terkekeh, lalu menundukkan sedikit kepalanya, dia mencubit pipi kanan Stella. "Biasa aja dong liatnya," ujarnya ringan.

Stella lalu menepis tangannya dengan cepat. "Kamu ngapain ke sini?" Tanyanya ketus.

Bukannya menjawab pertanyaan Stella, Evan malah mengacak-acak rambut Stella hingga berantakan. "Jangan natap gue kayak gitu," ucapnya tiba-tiba dengan nada serius, tapi mata berkilat jahilnya. "Gue jadi pengen gigit pipi bulet lo."

Bug!

Stella memukul bahu Evan dengan buku paket di tangannya.

Evan tertawa pelan, tak terlihat kesakitan sama sekali di wajahnya. "Ih lucunya," katanya masih sambil tertawa. Ia menahan tangan Stella yang hendak memukulnya lagi.

"Ngapain sih, kak? Ini udah malam," ucap Stella kesal.

Evan dengan santainya mengangkat dua paper bag besar dari balik punggungnya. "Nih," katanya santai.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang