udah ada yang bisa nebak siapa orang jahattttnyaaaa🤭
pengasuhnya si Xiel tuhhh mending
di depak aja ga sihhhh!!!
nambah-nambah kerjaan ajaa😶
untung aja aku baik...
jadi biarin aja dia hidup yaaaa
𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Jauh dari hiruk-pikuk kerasnya dunia, disebuah penthouse di pinggir kota suasana terasa begitu tenang.
Penthouse Cassius di selimuti suasana hangat yang begitu menenangkan. Udara dipenuhi aroma susu hangat, bedak bayi, bercampur dengan bau samar parfum musk di setiap sudut ruangan.
Di ruang tengah penthouse terlihat begitu ramai, para anak lelaki D'lucifer berkumpul di tambah dengan Roger, Gara, Atala, dan Aksa. Namun banyaknya orang tidak membuat ruangan itu terasa sesak, malah terasa begitu menyenangkan dengan kehadiran bayi singa mereka.
Xiel duduk dengan tegak, kedua tangannya sibuk memeluk botol susu besar yang isinya nyaris habis. Matanya terlihat begitu fokus memperhatikan gambaran mereka, tak jarang Xiel memekik kecil menyuarakan protes ketika warna pada gambaran mereka tidak sesuai dengan yang ia inginkan.
"Abang Enzo, langit harusnya warna biru, bukan abu-abu!" Suaranya melengking kecil, membuat mereka spontan mengulum bibir menahan tawa. "Langit cerah warnanya biru, kalau abu-abu nanti langitnya sedih. Xiel nggak suka." lanjutnya sambil menatap kertas gambar dengan bibir mencebik, antara kesal dan sedih.
Theo yang duduk di sebelahnya tersenyum kecil. "Langitnya tidak sedih, hanya sedikit mendung. perlahan akan kembali cerita, bayi."
"Harus tetap biru, Xiel nggak suka abu-abu." Xiel tetap bersikeras.
Xiel tidak terima. Enak saja warna langit abu-abu, harusnya warna biru. Abu-abu itu tidak keren sama sekali, malah seperti berada dalam alam baka dan itu menakutkan. Dan warna biru tentu saja sangat keren, lihat saja langit, laut, bahkan ikan pun ada yang berwarna biru dan itu sangat cantik. Dan alasan utamanya tentu karena warna biru adalah warna favoritnya.
Namun, protesnya hanya di tanggapi dengan kekehan kecil dan itu berhasil membuat Xiel semakin dongkol.
Beberapa jam berlalu dengan permainan kecil yang tidak ada habisnya.
Di atas karpet bulu tempat mereka semua duduk melingkar. Di tengah-tengah terdapat Xiel yang duduk bersila, mulutnya sedikit terbuka dengan lidah yang sedikit terjulur, menatap serius lego besar berbentuk istana yang belum juga selesai sejak satu dua lalu.
"Yang itu bukan di situ, Seraphine... tapi di sini." suara Theodore terdengar pelan tapi terselip nada menggoda. Potongan lego di tangan Xiel dengan sengaja ia tekan dengan keras ke tempat yang salah, dan kini bentuknya melengkung tak karuan, bahkan hampir roboh.
"Tapi warna sama bentuknya sama, terus kata petunjuknya emang gini tuhh. Theo, jangan coba tipu-tipu Xiel yaa." protesnya, dengan dahi berkerut.
Harvey yang duduk di seberangnya menyadarkan dagu di tangan, menatapnya sambil tersenyum samar. "Sama belum tentu cocok, Prince."
Xiel mengerucutkan bibir. "Kalian!!! Ini lego Xiel, bukan lego kalian. Jadi suka-suka Xiel mau taro di mana!" serunya kesal. Sedari tadi mereka terus mengatakan bahwa dirinya salah, padahal itukan punyanya jadi harusnya yang lebih tau adalah dirinya bukan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
