Stella POV
Sekarang aku lagi ada di minimarket yang ada didepan komplek rumahku. Tadi aku udah izin sama mama dan papa dan untungnya mereka bolehin, dengan syarat aku nggak boleh lama-lama.
Dan soal sepeda aku yang bannya tiba-tiba hilang dan digantung di pohon sama orang nggak bertanggung jawab, mereka nggak tahu. Lebih tepatnya aku nggak mau ngasih tahu. Aku cuma nggak mau mereka kepikiran gara-gara hal sepele kayak gitu. Lagipula aku udah janji sama diri sendiri, kalau orang yang ngejahilin aku itu muncul lagi, aku bakal caci maki dia, sebelum bilang sama guru BK.
Soalnya gemes banget! Tiba-tiba aja ngejahilin aku gitu. Emangnya aku salah apa coba? Atau jangan-jangan... dia itu musuhnya si Stella yang asli? Tapi masa sih? Kayaknya Stella nggak punya musuh deh.
Ah, nggak tahu juga sih.
Aku melangkah keluar dari minimarket dengan dua kantong plastik besar di tanganku. Isinya penuh snack, minuman, dan beberapa cemilan manis yang udah aku idam-idamkan dari tadi sore.
Aku baru melangkah satu langkah keluar dari pintu minimarket, tapi tiba-tiba--
Brug.
Tubuhku nabrak seseorang, kenceng banget, saking kencangnya plastik yang aku pegang jatuh, dan snack-nya berhamburan di lantai.
Dan yang paling ngeselin, orang yang nabrak aku itu malah berdiri aja di depan aku, tanpa niat bantuin.
Orang yang nabrak aku, dia pakai heels warna merah terang. Ya udah jelas, ini cewek.
Aku mulai pungutin satu-satu snack yang jatuh, sambil nahan dongkol di dada.
"Makanya jalan tuh pakai mata," ujar si cewek itu, nada suaranya tajam dan nyolot banget.
Aku berdiri perlahan, ngebenerin rambut yang sedikit berantakan, lalu ngelihat ke arah wajahnya. Tapi begitu mataku benar-benar nangkep mukanya, aku langsung membeku.
Deg.
Dia… Miranda.
Si protagonis wanita.
Lah, kok bisa ketemu di sini?!
Dia ngapain keluyuran di daerah deket komplekku?
Setahuku sih rumah dia jauh dari sini.
"Nggak usah terpesona, gue tahu gue cantik," ujarnya dengan nada sombong, sambil ngelirik aku dari atas ke bawah.
Aku nyaris ngakak.
Bukan karena lucu, tapi karena… ya ampun, ini orang pede banget.
"Aku nggak terpesona sama kamu," balasku dengan nada malas.
Miranda mendengus dan menatapku dengan pandangan merendahkan. Tatapannya tuh kayak muak banget sama aku, padahalkan aku baru pertama kali ketemu dia.
"Lo adiknya Elara, kan?" tanyanya ketus.
Aku menaikkan satu alisku seraya natap dia dengan tatapan bingung. Lah, tau dari mana nih orang?
"JAWAB!" bentaknya, "malah bengong, bloon banget sih lo."
Aku langsung menatapnya dengan tidak terima.
Bilang apa tadi dia? Bloon?
"Apaan sih, tante? Nggak usah ngatain aku bloon ya," ucapku ketus sambil melipat tangan di depan dada.
"T–TANTE?" suaranya meninggi.
Aku mengangguk dengan wajah yang ku buat sepolos mungkin.
"Iya, tante."
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
