Chapter 23

15.8K 1.2K 68
                                        

"Omg…" ujar Stella lirih seraya menatap pohon besar yang berdiri dipojok area parkiran sekolah.
Wajahnya terlihat tercengang, matanya membulat tak percaya menatap kearah puncak pohon itu.

Catrin yang berdiri di sebelahnya spontan ikut menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya ikut membesar.

Sedangkan Evan hanya menaikkan sebelah alis dengan tatapan datar.

"Kok bisa…" gumam Stella lirih.

Langkahnya perlahan mendekat ke arah pohon besar itu. Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke atas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Sepeda aku…" ucapnya nyaris berbisik. "Kenapa bisa ada di atas pohon? Bannya juga ilang…"

Catrin yang sempat terpaku segera bergerak cepat menghampiri Stella. Ia merangkul bahu sahabatnya dan mengusap lembut punggungnya.

Air mata Stella pun jatuh perlahan, membasahi pipinya yang memerah karena menahan emosi.

'Pertama kalinya aku dapet hadiah yang aku mau, dan langsung diginiin…' batinnya bergumam sendu.

'Bego banget aku. Tau gitu aku gembok aja kalau tahu bakal ada yang jailin.' lanjut batinnya lagi.

Stella menarik napas panjang lalu mengusap kasar air matanya.

'Yang ngerjain aku, apa nggak ada kerjaan lain? Aku punya salah apa? Ngapain juga ganggu aku…' batinnya menggerutu kesal

Tatapannya kembali naik ke arah sepeda merah muda yang menggantung di antara dahan besar. Rasa sesal menyelimuti dirinya, hadiah dari Abian itu kini tampak seperti bahan lelucon.

"Nggak usah nangis. Nanti gue nyuruh orang buat nurunin sama benerin sepeda lo," ujar Catrin lembut seraya menyeka air mata di pipi Stella.

Stella menoleh, menatap Catrin dengan wajah sendu. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan melepaskan tangan sahabatnya yang memeluk bahunya.

Matanya kembali menatap ke arah pohon besar itu.

'Pohonnya nggak tinggi-tinggi amat. Aku bisa manjat. Toh dulu aku sering manjat pohon mangga punya orang… jadi ini mah gampang.' Batinnya.

Ia lalu berjongkok, bersiap melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Namun sebelum sempat melanjutkan gerakannya, sepasang kaki muncul di hadapannya.

"Mau ngapain?" suara berat itu membuatnya mendongak.

Evan berdiri tegap di depan Stella, kedua tangannya diselipkan ke saku celananya, rahangnya terlihat sedikit mengetat.

"Manjat," jawab Stella pelan, lalu melanjutkan gerakannya lagi.

Evan mendesah kasar. "Lo gila? Tuh pohon tinggi. Yang ada lo malah nyangkut di atas sana."

"Stella, jangan gila!" sahut Catrin panik dengan nada sedikit tinggi.

Stella menarik napas panjang, lalu berdiri dan menatap Catrin.
"Aku nggak gila, Cat. Aku cuma mau naik pohon doang," ujar Stella dengan raut wajah serius.

Catrin menggelengkan kepalanya. "Nggak. Lo nggak boleh!" katanya dengan nada tegas, penuh tekanan.

Stella hendak membuka mulutnya, hendak menjawab ucapan Catrin, tapi suaranya terhenti ketika suara lain memotong percakapan mereka.

"Lo pada ngapain berdiri di bawah pohon?"

Mereka bertiga langsung menoleh disaat bersamaan. Aldi berdiri di sana dengan wajah bingung, seraya memegang botol air mineral di tangannya.

"Kenapa?" tanyanya dengan raut polos, dia merasa bingung ketika melihat ekspresi mereka bertiga.

Stella hanya mendesah dan kembali berjongkok. Namun Evan langsung ikut berjongkok, dihadapan Stella.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang