25. ࿔prince xiel࿔

5.9K 405 28
                                        

hiiiii dara back 🙌🏻
aku baru bisa up sekarang karena
kemarin benar-benar ga punya waktu...

dan setelah aku baca-baca komen kalian...
ternyata belum ada yang bisa tebak siapa
orang jahattttnyaaaa

aku kasih bocoran dikitttt
orang jahattttnyaaaa tuhh ada duaaa!!!
satu darah D'lucifer sendiri, satunya lagi pekerjaan di mansion D'lucifer

dan kalau kalian benar-benar teliti pasti gampang banget buat tau siapa orang ituuuu

semoga BERHASIL!!! (⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

Udara di ruang kerja pagi ini terasa mencekam, berat, padat, dan dingin yang seakan membekukan udara.

Asap cerutu Opa Kendrick mengebul di udara, berputar di bawah cahaya lampu gantung temaram, menciptakan kabut tipis yang membuat ruangan terasa semakin sesak.

Tak ada satupun dari mereka yang berbicara, ruang hening hanya terdengar suara dentingan jam antik yang terletak tepat di atas layar besar di depan mereka, layar yang menampilkan sesuatu yang adegan yang begitu menjijikkan.

Gerakan tangan seseorang di layar, tatapan yang menjijikkan, napas yang terlalu dekat, dan adegan yang terasa begitu kotor.

Tapi yang membuat darah mereka terasa membeku bukan hanya itu. Di sana, di tengah kelakuan busuk itu, ada sosok kecil yang mereka cintai, bayi singa itu, malaikat kecil yang harusnya selalu suci di bawah cahaya lembut—kini ternodai oleh perlakuan manusia hina di antara bayangan menjijikkan seperti itu.

Dan tanpa bisa dicegah sesuatu dalam diri Luciano meledak.

PRANGGG!!!

Ponsel di tangannya melayang, menghantam layar dengan suara keras. Kaca retak. Layar seketika menghitam.

Tangan besar itu gemetar, urat lehernya menonjol, wajahnya merah padam. "AKAN KU BUNUH ANAK MENJIJIKKAN ITU!!!" Suara teriakan Luciano menggema. "DENGAN TANGANKU SENDIRI, AKU AKAN—"

"LUCIANO!" Seru opa Kendrick, tapi suaranya sendiri bergetar marah.

Namun Luciano abai, napasnya memburu. "BUNUH?! Tidak itu terlalu mudah...AKAN KU BUAT DIA MEMOHON UNTUK MATI!" Luciano kembali berteriak, suaranya pecah.

Anne menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya terguncang. Wanita dingin yang bahkan hampir tak pernah meneteskan air mata, kini menangis terisak. "Anakku..." bisiknya parau. "Bayiku..." Kata-kata itu tercekat di tenggorokan, seperti duri. Tak ada seorang ibu yang Sudi melihat hal menjijikkan seperti itu. Dan yang lebih menakutkan... darah yang mengalir di tubuh pelaku itu, darah mereka sendiri.

Oma Aurora menunduk dengan mata yang terpejam erat, lalu mendongak dan menatap layar yang telah retak dengan nanar. "Bayi kecilku," katanya perlahan, suaranya bergetar. "Bagaimana... bisa ada manusia semenjijik itu..."

Amora menegakkan kepalanya, senyumnya tipis. Tawa kecil, getir, dan kosong seorang ibu yang sedang menertawakan dunia yang telah gagal menjaga seseorang yang ia cintai. "Bukankah sejak dulu sudah ku katakan," katanya datar. "Bahwa anak itu... menjijikkan." Nada suaranya dingin, tapi di balik setiap kata ada seseorang yang menyerupai penyesalan. Ia menata layar yang pecah, matanya memancarkan sorot antara jijik dan luka.

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang