Stella menghela napas lelah, matanya menatap kearah depan dengan ekspresi heran dan kesal disaat bersamaan.
'Kenapa harus dia sih…' batinnya menggerutu kesal.
Di sebelahnya, Catrin tampak menatap ke depan dengan tatapan berbinar-binar seperti anak kecil yang baru diberi permen. Dan ketika Stella melirik kearah teman-teman sekelasnya, dia bisa melihat beberapa teman sekelasnya ikut mencuri pandang ke arah dua sosok yang berdiri di tengah lapangan.
Sekarang mereka sedang berada di lapangan basket. Udara terasa panas, matahari menyorot tajam dari atas kepala. Ini adalah jam pelajaran olahraga, dan Pak Roni, guru mereka memutuskan untuk mengundang dua kakak kelas yang mahir basket agar bisa mengajari mereka. Sayangnya, dari sekian banyak kakak kelas di sekolah ini, kenapa harus Evan dan Vino?
"Mingkem…" gumam Stella malas sambil melirik Catrin dari ujung mata.
Catrin langsung menoleh dengan ekspresi tidak terima.
"Nggak mau! Gue nggak bisa ngontrol bibir gue kalo liat dia," ujarnya lirih, pipinya sudah mulai memerah. "Rasanya pengen terus senyum kalo liat muka manis dia."
Stella hanya bisa mendengus pelan lalu menatap ke depan lagi. Namun, sialnya, pandangan matanya malah bertemu dengan Evan yang sedang menatap ke arahnya dengan senyum miringnya.
'Sial. Sial banget.'
Stella dengan cepat memalingkan wajahnya lagi, tapi malah lebih sial lagi karena tatapannya malah bertemu dengan Vino yang juga sedang melihat kearahnya, dengan ekspresi menahan geli.
'Lah, bocah itu ngapain liatin aku sambil nahan ketawa begitu?' batinnya jengkel. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah Pak Roni yang berdiri di depan.
Stella langsung menoleh ketika Lia yang duduk di sampingnya menyenggol bahunya pelan.
"Sst… lo tadi diliatin sama kak Vino tuh. Cieee." Ucap Lia sambil menyunggingkan senyum nakal.
Stella menarik napas panjang. "Kamu salah liat," ujarnya mencoba tetap tenang seraya memasang ekspresi polos.
'Sabar, sabar, orang sabar nanti dikasih es teh dua puluh gelas,' batinnya berusaha menenangkan diri.
"Ah masa sih?" Balas Lia masih dengan senyum menggoda.
Stella mengangkat bahunya dengan raut wajah acuh dan kembali menatap ke depan.
"Kalian mengerti?" tanya Pak Roni dengan lantang.
"Ngerti, Pak!" sahut semua siswa serentak, kecuali Stella yang terlihat bengong.
'Ngerti apa? Lah, aku nggak ngerti apa-apa,' batinnya panik.
Ia lalu melirik ke arah Catrin yang masih tersenyum bahagia, pipinya sampai kelihatan kencang saking lebarnya senyum yang terulas dibibirnya.
'Astaga, aku takut bibirnya robek,' gumam Stella dalam hati sambil meringis kecil.
Ia lalu menyenggol lengan Catrin pelan. "Cat, ngerti apa?" bisiknya sambil sedikit berjinjit mendekatkan bibirnya ketelinga Catrin.
Catrin langsung menoleh seraya menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Elah, Lo ngelamun ya? Suara pak Roni segitu kencengnya nggak kedengeran?"
Stella tersenyum kaku. "Hehe, kedengeran sih… cuma agak telat nyampe ke otak."
Catrin menghela napas panjang. "Tadi pak Roni bilang dia ada urusan, jadi kita disuruh belajar sama kak Vino sama kak Evan. Terus, yang nggak nurut sama mereka bakal dianggap alfa."
"Oh, gitu ya…" ucapnya lalu tersenyum lebar. "Makasih, Cat!"
Catrin menganggukkan kepalanya seraya kembali melihat ke arah depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
