Elara menatap heran ke arah Stella. Sedari tadi gadis itu diam saja. Bahkan saat Ethan mencoba mengajaknya berbicara, menggoda, sampai menjahilinya, Stella hanya membalas dengan senyum tipis tanpa suara, tanpa reaksi berlebihan.
Catrin yang duduk di sebelahnya juga ikut memperhatikan perubahan itu, ekspresi wajahnya mulai menampakkan kekhawatiran.
"Lo yakin nggak salah makan semalam, Cil?" celetuk Ethan sambil memutar sedotan di gelas jusnya.
Stella hanya menatapnya sekilas lalu tersenyum tipis tanpa menjawab.
Catrin yang duduk di sebelah Stella ikut mendengus. "Ethan, udah deh. Jangan ganggu dulu," ujarnya sambil menatap Stella khawatir.
Elara meletakkan cangkir kopinya perlahan. "Stella, kamu nggak apa-apa? Kenapa dari tadi pagi diem aja," tanyanya lembut.
Stella menoleh perlahan kearah Elara, matanya tampak lelah. "Aku nggak apa-apa, kak... cuma agak capek aja," jawabnya pelan.
Rosa yang duduk tak jauh dari sana menatap gadis itu dengan pandangan sulit dijelaskan. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dadanya. Ia tahu, semua ini mungkin karena ucapannya semalam. Ucapan yang seharusnya tidak keluar dari mulutnya.
Tatapan Rosa dan Stella sempat bertemu. Stella langsung mengulas senyum tipis, senyum yang tenang namun entah kenapa terasa menyedihkan.
Sementara di dalam pikirannya, Stella tengah berperang dengan dirinya sendiri.
Apa dia harus ikut campur dan menghentikan hubungan Elara dan Jacob?
Atau membiarkan semuanya berjalan seperti dalam novel?
Tapi kalau itu terjadi... maka Elara akan mati, dan semua akan hancur lagi.
Dan jika dia mencoba menghentikannya, Stella takut akhir yang sama akan menimpanya, kematian yang brutal, menyakitkan, dan tak berperasaan.
Pikiran itu membuat tangannya sedikit gemetar. Ia menatap ke arah Leon yang duduk tak jauh dari tempatnya. Pandangan dia dan Leon bertemu. Leon menatapnya dengan dahi yang mengernyit, seolah sedang membaca sesuatu yang aneh dari ekspresi Stella.
Stella sadar itu, dia dengan cepat buru-buru mengalihkan pandangannya dan berpura-pura sibuk menatap lantai.
"Stella." Suara lembut itu memanggilnya, disertai tepukan ringan di bahunya.
Stella menoleh kearah pemilik suara itu. "Hm?"
Catrin tersenyum kecil. "Pulang bareng gue sama kak Leon aja, ya?"
Stella sempat diam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya... makasih ya Cat."
Catrin tersenyum lega, lalu menggenggam tangan Stella erat.
"Ayo, gue bantuin beresin barang-barang lo."
"Iya," jawab Stella pelan.
Catrin berdiri lebih dulu, lalu menarik tangan Stella perlahan. Keduanya lalu berjalan menuju tangga, meninggalkan ruang tamu villa yang kini kembali hening.
Rosa menatap kepergian mereka dengan pandangan sendu. Tangannya meremas rok yang ia kenakan, dan napas panjang lolos dari bibirnya.
Elara yang terus memperhatikan Stella tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu dalam tatapan Stella yang terasa... asing. Seperti bukan dirinya yang dulu.
Ethan yang duduk di sebelah Elara menatap Elara dengan raut wajah bingung.
"El, lo ngerasa nggak sih... Stella akhir-akhir ini beda banget?"
Elara menoleh pelan, menatap wajah Ethan. "Iya," jawabnya lirih. "Kayaknya dia lagi nyembunyiin sesuatu."
Ethan menganggukkan kepalanya, lalu menatap arah tangga. "Iya... kayak pikirannya lagi nggak ada di tempat."
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
