Chapter 19

18.3K 1.4K 106
                                        

Stella POV

"Kehidupan ketiga..." ujarku lirih.

Mataku benar-benar bengkak. Dari tadi aku terus menangis-- bukan karena sakit hati karena perkataan Rosa, tapi karena penyesalan.

Aku merasa jahat, karena sudah menilai Stella sejelek itu, bahkan memaki-maki karakternya berkali-kali. Tapi setelah ingatan itu muncul... aku nggak bisa berhenti merasa bersalah.

"Ternyata kamu setulus itu, Stella..." bisikku pelan. "Kamu hebat banget..."

Aku menatap jam digital di dinding kamar villa. Angka merahnya menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Aku belum memejamkan mata sama sekali. Aku sedari tadi hanya berguling-guling di kasur, sesekali menangis dan sesekali termenung.

Gimana bisa tubuh sekecil ini berkorban sebesar itu?

Stella yang asli, ternyata dia sudah mengulang kehidupan dua kali.

Di kehidupan pertamanya, dia bahagia. Dia bersyukur karena akhirnya punya keluarga lengkap, punya papa, dan kakak seperti Elara. Dia benar-benar sayang sama Elara, karena Elara bener-bener jadi sosok kakak yang selama ini dia mau.

Padahal, dulu hidup Stella keras. Sedari kecil, dia selalu dibully cuma karena nggak punya ayah. Teman-temannya selalu mengejeknya.

"Alay banget sih... ngebully orang cuma karena itu," gumamku lirih sambil memejamkan mata.

Sampai akhirnya, mama Stella bertemu dengan papa Elara. Hidup Stella mulai membaik.

Tapi awalnya dia menghindar dari Elara dan Abian, dia nggak nyaman sama orang asing. Elara sadar akan hal itu. Tapi gadis itu tetap nekad terus berusaha mendekati Stella, dia pantang menyerah.

Diam-diam Elara selalu mengikuti Stella setiap kali dia dan Abian datang ke rumah Stella.

Elara ingin dekat dengan Stella, ingin jadi kakak yang bisa melindungi gadis itu.

Hingga akhirnya, Elara tahu penyebab sebenarnya kenapa Stella menjauh. Dia melihatnya sendiri bagaimana anak-anak seumuran Stella memukul, mendorong, dan memaki Stella hanya karena alasan nggak punya papa.

Elara yang melihat itu, langsung lari kearah Stella, dia bantu Stella berdiri, lalu menatap tajam ke arah anak-anak itu.

"KALAU SAMPAI KALIAN GANGGU ADIK AKU LAGI, AKU LAPORIN KALIAN KE POLISI!" teriak Elara marah.

"Dan Stella sekarang udah punya papa!"

Setelah itu, dia langsung menarik tangan Stella dan menjauh dari sana.

"Mulai sekarang, kakak nggak akan biarin kamu diganggu sama mereka," ujar Elara sambil berjongkok di depan Stella.

"Kamu nggak sendiri lagi, Stella. Kamu punya kakak, tante Dania, dan papa."

Air mata Stella langsung jatuh, tapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

"Kalau mereka ganggu kamu lagi, bilang sama kakak, biar kakak yang pukul mereka semua, paham?"

Stella menangis sambil menganggukkan kepalanya lagi, lalu Elara tersenyum dan memeluk Stella erat.

Elara bahkan menggendongnya seperti anak kecil.

"Ayo, kita pulang."

Aku tersenyum kecil membayangkannya. Hangat... tapi menyakitkan di saat yang sama.

Setelah kejadian itu, Stella tumbuh dengan rasa sayang yang besar pada Elara. Dia selalu menempel pada Elara setiap kali mereka bertemu, apalagi saat Abian dan Dania menikah, dia benar-benar nggak bisa jauh dari Elara.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang