Chapter 18

18.1K 1.3K 132
                                        

Langit sore telah sepenuhnya berubah menjadi gelap, digantikan cahaya temaram lampu taman yang menggantung di sepanjang jalan setapak menuju halaman belakang villa. Udara mulai terasa sejuk, dengan aroma tanah lembap bercampur wangi asap kayu, untuk acara barbeque-an yang baru saja dimulai. Di kejauhan, terdengar suara tawa dan percikan api kecil yang menandakan suasana malam akan segera mulai.

Namun di sisi lain villa, suasananya justru jauh lebih tenang. Deretan pohon besar menjulang di tepi jalan setapak, dedaunan bergoyang pelan tertiup angin. Stella dan Catrin berjalan berdampingan, langkah mereka santai tapi raut wajah menunjukkan lelah setelah seharian berlarian.

"Asik kan, Cil. Ngeyel sih jadi orang," ujar Ethan yang tiba-tiba muncul dari belakang, lalu dengan cepat menyamakan langkahnya di sisi Stella.

Stella hanya melirik sekilas ke arahnya tanpa berniat menjawab. Ekspresinya tenang, dan dari caranya menarik napas pun sudah jelas, dia terlalu lelah untuk sekadar menanggapi celotehan pria itu.

Catrin menahan tawa ketika melihat ekspresi masam Ethan yang tidak mendapat respon dari Stella. "Duh, ekspresi lo priceless banget, Than" katanya seraya terkekeh geli.

Dia kemudian menyenggol lengan Stella pelan.

Stella menatap Catrin sekilas.
"Jawab, noh," ujar Catrin, seraya melirik ke arah Ethan.

Stella menghela napas panjang, lalu menundukkan kepalanya.
"Cape," ujarnya lirih. Suaranya hampir tak terdengar, dan ekspresi wajahnya menunjukkan dia sudah benar-benar kehabisan tenaga.

Ethan mengangguk pelan, tapi matanya menatap Stella dengan heran.

"Oh, bisa cape juga lo ternyata?" ujarnya, dengan nada suara jail.

Stella diam saja.

Catrin langsung menatap Ethan dengan tatapan penuh peringatan.
"Udah. Lagi cape dia," katanya tenang.

"Stella lebay," sahut Ethan cepat, kali ini dengan nada mengejek.

Stella melirik sinis ke arah Ethan, tapi tetap diam.

"Ethan," tegur Catrin tegas.

"Iye, iye," Ethan akhirnya menghela napas malas, lalu mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.

"Mending lo duluan sana, bantuin kak Leon," ujar Catrin dengan nada serius.

"Gue? Bantuin mereka? Males," jawab Ethan cepat.

Catrin menghela napas panjang.
"Dimarahin si Jacob baru tau rasa lo," ujarnya malas.

"Elah, Jacob doang. Gampang," balas Ethan santai seraya tersenyum miring.

"Biarin, Cat. Paling dia nggak dikasih daging," ujar Stella lirih.

Ethan langsung menoleh kearah Stella dengan senyum lebar.

"Akhirnya lo buka mulut juga!" ujarnya dengan nada semangat.

Stella kembali diam.

"Dih, diem lagi," gerutu Ethan kesal.

"Sana, Ethan. Atau lo mau gue lempar pake batu," ujar Catrin mulai geram, nada suaranya datar tapi jelas mengandung ancaman.

Ethan mendesah panjang.

"Pelit bener sih lo berdua. Gue males disana, jadi kambing conge," ujarnya kesal sambil memajukan bibirnya.

"Kambing conge apaan, sih? Disana ada kak Leon sama kak Risa juga, nggak usah alay lo," jawab Catrin dengan nada malas.

"Pelit, pelit!" gumam Ethan sebelum akhirnya melangkah cepat meninggalkan mereka, menuju arah halaman belakang villa.

Begitu sosoknya menghilang di balik dinding, Catrin langsung menghela napas panjang.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang