Chapter 17

19.5K 1.3K 61
                                        

Stella POV

Aku tersenyum menatap pantulan wajah Stella di cermin. Wajah yang sekarang mulai terasa akrab, walau setiap kali aku melihatnya, masih ada perasaan aneh-- kayak aku masih belum sepenuhnya percaya kalau ini aku sekarang.

Dan beberapa hari terakhir berjalan lumayan lancar. Nggak ada masalah besar, nggak ada drama yang bikin jantungku mau copot. Akhirnya, aku bisa hidup dengan tenang.

Aku benar-benar berusaha keras meniru cara bicara dan kebiasaan Stella yang asli, dan ternyata nggak semudah yang aku kira. Kadang aku masih canggung, kadang terlalu kaku, kadang malah over-- kayak orang yang maksa bahagia padahal nggak. Tapi seenggaknya, sejauh ini belum ada yang curiga. Syukurlah.

Aku menarik napas panjang lalu tersenyum miris.

"Paling nggak, aku udah berhasil nggak bikin masalah baru…" gumamku pelan.

Rumah ini terasa hangat. Nggak ada yang manfaatin aku, dan jujur aku mulai nyaman sama keluarga ini-- walaupun aku tahu, aku cuma penumpang sementara di tubuh ini.

Tapi dari semua orang di dunia ini, masih ada beberapa yang belum bisa aku terima sepenuhnya. Jacob, Leon, Ethan, dan tentu saja… Evan.

Ugh, Evan. Awalnya aku sebel banget sama dia. Tengil, nyebelin, dan suka banget bikin darahku naik. Tapi setelah kejadian waktu itu, waktu dia nyelametin aku dari kecelakaan, aku mulai mikir kalau mungkin aku terlalu berlebihan menilai dia.

Sebagai tanda terima kasih, aku mutusin buat ngehapus sedikit rasa sebel aku ke dia. Walau cuma sedikit. Tapi ya ampun, itu pun susah banget! Karena mukanya tuh--uh!--tengilnya kebangetan.

Apalagi tiap kali dia ngeluarin smirk-nya yang nyebelin itu, rasanya tanganku gatal pengen nampol muka dia.

Tapi sejak kejadian itu, dia malah makin sering muncul di sekitar aku. Waktu istirahat, dia suka nongol tiba-tiba. Pulang sekolah pun, dia nungguin aku sampai jemputan aku datang, kadang cuma buat bilang,

"hati-hati."

Dan aku cuma bisa pura-pura nggak peduli, padahal di dalam hati aku ngerasa aneh setengah mati.

Sementara soal Vino, aku udah beresin semuanya. Aku nggak sengaja ketemu dia di koridor, dan lagi sepi, aku nekad samperin dia. Aku bilang terus terang kalau aku nggak punya perasaan apa pun buat dia, dan aku minta maaf soal gosip bodoh yang lagi nyebar di sekolah. Dan jawaban Vino cuma senyum, lalu bilang,

"Santai aja, gue nggak papa kok."

Aku lega banget. Setidaknya satu beban udah hilang dari kepalaku.

Dan sekarang, adalah hari Sabtu. Hari libur. Hari yang paling aku tunggu.

Sekarang udah jam sepuluh lewat tiga puluh menit atau lebih tepatnya, setengah sebelas siang dan tumben banget mama nggak bangunin aku. Biasanya jam tujuh aja udah diketok pintu kamar aku buat nyuruh sarapan.

Hmm.. atau mungkin dia kasian sama aku karena kemarin-kemarin aku mungkin kelihatan capek.

Tapi nggak tau juga sih, aku kan sok tau...

Dan sekarang aku sudah rapi. Rambut diikat setengah, wajah segar, bibirku terlihat cantik karena aku oleskan lip tint.

"Lucu juga aku kalau kayak gini," gumamku sambil cengengesan sendiri di depan cermin. Sekarang tinggal cari makanan, karena perut aku udah konser orkestra dari tadi.

Begitu aku keluar kamar, aku menutup pintu perlahan. Aku turun ke bawah dengan langkah ringan, hampir melompat-lompat kecil karena semangat ingin makan. Tapi langkahku terhenti di tengah tangga ketika terdengar suara ramai dari arah bawah.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang