Stella melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah tenang. Udara sore ini terasa hangat, cahaya matahari menembus sela-sela tirai ruang tamu yang bergoyang perlahan. Bibir pucatnya kini sudah tertutupi dengan sempurna oleh lip cream milik Catrin, memberikan warna lembut yang menutupi bibir pucatnya.
Sekilas, tak ada yang aneh. Tak ada tanda bahwa beberapa jam lalu gadis itu nyaris tertabrak mobil di depan gerbang sekolah.
Wajahnya kini terlihat segar, matanya tenang. Seolah kejadian tadi hanyalah potongan mimpi yang cepat menguap begitu saja.
Catrin sempat memaksa ingin menceritakan semuanya kepada keluarga Stella, tapi Stella tidak memperbolehkannya.
Dia tidak ingin menambah kekhawatiran, apalagi membuat keluarga Stella panik karena hal yang menurutnya sepele. Toh, dirinya baik-baik saja. Tidak ada luka, tidak ada darah, hanya rasa terkejut yang masih tersisa samar di dada.
"Maaa!" seru Stella tiba-tiba, suaranya ceria. Ia berlari kecil ke arah ruang tamu, menghampiri sosok wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa, tampak asyik membolak-balik halaman majalah.
Dania langsung mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara itu. Senyum lembut langsung terukir di bibirnya.
Tangannya terbuka lebar, siap menyambut pelukan anak gadisnya.
"Sayang," ujar Dania sambil tertawa kecil.
Stella langsung masuk kedalam pelukan itu, menempelkan wajahnya di dada mamanya sambil mendusel manja. Harum lembut parfum Dania yang khas membuatnya sedikit lebih tenang.
"Kenapa udah pulang? Katanya mau main dulu sama Catrin?" tanya Dania heran sambil mengelus rambut Stella lembut.
Stella menggelengkan kepalanya.
"Nggak jadi." Ujarnya singkat.
Dania mengangkat alisnya. "Kenapa? Ada masalah?" tanyanya lembut.
Stella kembali menggelengkan kepalanya. Kali ini dia melepaskan pelukannya dan menatap mamanya sambil tersenyum lebar, menutupi segala sisa takut yang tadi masih menggantung di dadanya.
"Ma, aku ke kamar dulu ya. Mau ganti baju," ujarnya ceria, suaranya ringan seperti biasanya.
Dania menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat.
"Yaudah, sana," ujarnya lembut.
"Iya, ma," balas Stella, lalu mengecup pipi mamanya singkat, setelahnya dia berlari menaiki tangga dengan langkah ringan.
Dania terkekeh pelan melihat tingkah anak gadisnya yang masih suka melompat kecil di setiap langkahnya. Tapi begitu punggung Stella menghilang di belokan tangga menuju lantai dua, senyumnya perlahan memudar.
Suasana ruang tamu tiba-tiba terasa hening. Dania menghela napas panjang, jemarinya menelusuri sampul majalah yang tadi ia baca.
"Maafin mama, Stella…" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Matanya menatap kosong ke arah tangga, tempat anaknya baru saja naik dengan senyum ceria.
"Gara-gara mama, kamu belum pernah ketemu sama dia…" lanjutnya pelan, suara terdengar bergetar.
Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, menahan sesuatu yang terasa berat di dada.
Ia diam beberapa detik, lalu menatap kosong ruang tamu, dia bangkit perlahan menuju dapur. Langkahnya lambat, seperti sedang membawa beban yang tak terlihat.
Disisi lain...
Di lantai atas, Stella baru saja menutup pintu kamarnya. Ia bersandar di balik pintu sambil menarik napas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
