Chapter 15

21.2K 1.6K 93
                                        

Author POV

"SIAL! KENAPA NGGAK ADA SATU PUN YANG BERHASIL!" teriak gadis itu sambil memukul keras setir mobilnya. Suara pukulannya menggema di kabin sempit mobil hitam yang ia parkir di tepi jalan, membuatnya semakin gelisah. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang mendidih di dada.

"Gue udah coba datengin tempat dia biasa nongkrong sama temen-temennya, tapi nyatanya nggak ada!" lanjutnya, nada suaranya meninggi di antara deru napas kasar. Ia menggenggam setir erat, buku jarinya sampai memutih.

"Gue udah coba nge-chat dia, tapi nggak dibales! Gue udah coba sebar aib si Elara di sosmed, tapi dia nggak ngaruh, malah akun gue yang di-banned!" ujarnya lagi, kini suaranya hampir berubah jadi teriakan frustasi.

Ia menunduk sebentar, menarik rambutnya kasar hingga beberapa helai terlepas. Matanya memerah karena menahan amarah yang tak tersalurkan.

"Kenapa Jacob sampai segitunya sih? Apa yang bagus dari Elara?" ujarnya penuh emosi, suara seraknya menggema di dalam mobil. "Cantik? Gue bahkan lebih cantik dari Elara!"

Nada mendesis keluar dari bibirnya, matanya menatap pantulan dirinya di kaca spion, mata itu penuh kebencian dan luka yang dibalut obsesi. Ia menatap dirinya lama, lalu tiba-tiba tersenyum miring.

"Oke… fine." Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Ini baru permulaan. Gagal di awal bukan berarti kalah. Rencana selanjutnya harus berhasil."

Ia menegakkan tubuhnya, merapikan rambut yang berantakan di sekitar wajahnya, menyapukan sedikit bedak dari tas kecil di kursi penumpang. Gerakannya kini jauh lebih tenang.

Dia menghembuskan napas pelan. "Tapi gue tetep harus lampiasin kekesalan gue… sama dia."

Tatapannya berpindah ke arah luar jendela mobil. Dari kejauhan, di depan gerbang Leandros High School, disana terlihat seorang gadis dengan seragam rapi sedang berbicara dengan seorang pria. Gadis itu terlihat kesal, suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat darah di kepala si gadis di dalam mobil kembali mendidih.

Senyum miringnya perlahan muncul di bibirnya. Ia menyipitkan mata, menatap tajam ke arah gadis itu.

Tangannya beralih ke kunci mobil, memutarnya hingga mesin berbunyi keras. Suara deru mobil memecah keheningan sore itu. Ia menekan pedal gas sedikit, merasakan getaran halus dari mobil yang siap melaju.

Begitu gadis di depan gerbang itu mulai melangkah hendak menyebrang, si gadis di mobil langsung menginjak gas dengan kuat. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan bekas hitam di aspal. Tubuhnya condong ke depan, matanya menatap lurus dengan ekspresi haus kemenangan.

Namun, sebelum mobil itu menyentuh gadis yang menjadi targetnya, sosok pria di samping gadis itu dengan cepat menarik gadis itu menjauh dari mobilnya.

Mobilnya melintas hanya beberapa inci dari mereka.

"SIALAN!!" teriak gadis di dalam mobil itu, memukul setir dengan keras hingga suara dentumannya menggema. Wajahnya memerah oleh amarah, matanya terlihat tak fokus.

Ia sempat menoleh ke kaca spion, di sana terlihat kerumunan orang yang berlari ke arah dua siswa yang hampir tertabrak. Gadis yang menjadi targetnya terlihat gemetar, sementara pria di sampingnya tampak memeluknya erat, menenangkan dengan wajah tegang.

"DASAR BRENGSEK!" teriak gadis di mobil itu lagi, menekan pedal gas lebih dalam dan mempercepat laju mobilnya, meninggalkan tempat itu.

Dari kejauhan, samar-samar masih terdengar teriakan orang-orang yang melihat kejadian itu.

"Gila! Hampir aja ketabrak!"

"Catet plat nomornya!"

Namun mobil itu sudah melesat.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang