Chapter 14

20.2K 1.4K 79
                                        

Stella POV

Begitu aku melangkahkan kakiku ke dalam kelas, suasananya langsung berubah hening sesaat, lalu tatapan-tatapan penasaran mulai mengarah padaku.

Ya, sesuai dugaanku. Semua mata seolah berlomba menatapku, dari yang duduk di bangku depan sampai yang pura-pura sibuk buka buku di pojokan.

Semenjak masuk ke dalam raga Stella, aku udah lumayan terbiasa dilihatin kayak gitu. Tapi hari ini rasanya beda. Tatapan mereka tuh... kayak lebih nyelidik, lebih kepo.

Ada juga yang bisik-bisik pelan sambil senyum-senyum, ada juga yang langsung pura-pura ngelirik ke arah lain pas aku balas natap mereka.

Aku menghela napas pelan, berusaha menenangkan diri. 'Santai, Stella. Ini cuma efek gosip bodoh,' batinku lirih.

Aku melangkah ke arah kursiku, berusaha terlihat tenang walaupun jantungku berdetak kencang.

Aku menarik napas pelan lalu melanjutkan langkah kakiku menuju kursiku. Di meja sebelah tempat dudukku, sudah ada Catrin, dan dia lagi nutup mulutnya dengan tangannya dan bahunya bergetar.

Aku tahu banget dia pasti lagi nahan ketawa.

Kurang asem.

Padahal niat awal aku cuma mau ngerjain dia, eh malah aku yang kena batunya. Tau gitu kemarin aku mending jadi orang kalem aja, nggak usah aneh-aneh.

Aku langsung duduk tanpa menyapanya.

"Elah, pagi-pagi udah cemberut aja nih," ujar Catrin dengan nada menggoda.

Aku mendengus pelan, malas meladeninya.

"Coba senyum manisnya mana?" godanya lagi, suaranya makin terdengar jahil.

"Diem." ucapku ketus, tanpa menoleh.

Eh, bukannya berhenti, dia malah ngakak kenceng sambil nepuk-nepuk bahuku beberapa kali.

"Selamat menikmati karma lo," katanya sambil terkekeh puas.

Aku cuma bisa menghela napas. Aku bener-bener heran sama kelakuan dia. Dia itu suka sama Vino. Harusnya cemburu dong waktu denger cowok yang dia taksir digosipin sama sahabatnya. Tapi ini? Malah ketawa bahagia kayak menang lotre.

"Aneh nih bocah," gumamku pelan.

Aku coba alihin pandangan ke sekitar kelas, berharap ada sesuatu yang bisa nyelametin aku dari rasa malu ini. Tapi malah makin parah. Beberapa anak masih sempat-sempatnya ngelirik ke arahku, kayak nunggu aku ngomong sesuatu.

Dan benar aja, Rini, sekretaris kelas, jalan pelan ke arah mejaku sambil bawa buku catatan.

Wah, pasti dia mau nanya soal berita itu. Oke, ini saat yang tepat buat aku klarifikasi sebelum gosipnya makin liar.

Saat Rini berhenti di depan mejaku, aku memejamkan mata sebentar, menyiapkan diri.

"La, lo udah ngerjain PR matematika--"

"Aku nggak suka sama kak Vino! Berita yang beredar tuh bo--"

Kami berucap bersamaan.

Kami berdua terdiam.

Aku langsung menutup mulut, mataku melebar. Astaga... dia nggak nanya soal itu?

Rini berkedip bingung, sementara Catrin di sebelahku langsung ketawa kencang. "HAHAHA! Astaga Stella!"

Aku menutup wajah dengan tangan. Bloon banget kamu, Stella. Malu-maluin banget, sumpah.

"Eh?" seru Rini, kaget.

Aku membuka mata perlahan dan memaksakan senyum yang jelas-jelas pasti bakal keliatan canggung banget. "Eh, Rini… tadi kamu ngomong apa?" tanyaku polos sambil berharap bumi mau buka diri buat aku masuk.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang