Chapter 13

21.7K 1.4K 91
                                        

"Gila, gue sampe sekarang nggak nyangka, cewek segemes dia bisa teriak kayak gitu," ujar seorang pria sambil menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi geli di wajahnya.

"Gue juga sama, Al. Gila banget," sahut pria di sebelahnya, Rio, dengan nada tak kalah heran. "Mana waktu teriak dia gemes banget, terus pake acara kabur segala lagi." Rio terkekeh sambil menepuk lututnya pelan. "Kayaknya si Stella naksir si Vino deh."

Vino yang sedari tadi duduk bersandar di tiang ring langsung melempar handuk kecil bekas mengelap keringatnya ke arah Rio. "Nggak usah ngaco, Rio," ujarnya sambil tertawa kecil.

"Lah, gue nggak ngaco. Gue cuma nebak." Rio menoleh ke arah Aldi yang duduk di sampingnya, menatapnya meminta dukungan. "Iya nggak, Al?"

Aldi baru saja akan membuka mulutnya, tapi terhenti ketika Vino menatapnya tajam. "Nggak usah mulai, Al."

Aldi mendengus pelan, wajahnya terlihat kesal. "Ah, nggak asik lo, Vin."

"Menurut lo gimana, Van?" tanya Aldi lagi, kali ini menatap Evan yang sedang memejamkan mata, posisi duduk Evan agak jauh dari mereka bertiga. "Lo juga pasti mikir hal yang sama kan? Kalo si cewek gemes itu naksir sama si Vino."

Evan membuka matanya perlahan, menatap mereka satu per satu dengan wajah datar. "Nggak tahu," ujarnya singkat. "Tanya aja sama orangnya."

Nada suaranya tenang tapi tajam, membuat suasana hening sejenak. Ia lalu menegakkan tubuhnya, meraih botol minum di sebelahnya, dan meneguk sisa airnya. Tanpa banyak bicara, ia berdiri, menyampirkan tas ke bahu kanannya, lalu berjalan meninggalkan lapangan.

Rio dan Aldi saling pandang, lalu tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Cuek banget cowok satu itu," gumam Rio sambil menggaruk tengkuknya.

"Udah, jangan dibahas lagi," potong Vino sambil berdiri dan menepuk celananya. "Udah jam setengah tujuh, mending cabut."

Lapangan kini benar-benar sepi, hanya suara angin yang berembus lembut di antara jaring ring basket. Rio dan Aldi bergegas meraih tas mereka.

"Vin, tungguin!" seru Rio tergesa sambil berlari kecil.

Vino terkekeh pelan, lalu mengikuti langkah Evan yang sudah hampir sampai di gerbang lapangan. Aldi menyusul dari belakang sambil mengomel, "Kalo besok dia neriakin nama lo lagi, Vin, jangan salahin gue kalo gue bilang iya!"

"Stella, ya?" ujarnya lirih.

•••

"Sisa jadwal hari ini, urus," ujar Jacob dengan nada datar tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang, namun tegas dan berwibawa.

"Baik, Tuan," jawab sekretarisnya cepat sambil berjalan setengah berlari di belakangnya, berusaha menyesuaikan langkah sang atasan.

Restoran mewah tempat mereka baru saja mengadakan pertemuan bisnis itu tampak elegan dengan lampu gantung berkilau dan dinding kaca besar yang memperlihatkan langit kota. Beberapa tamu yang masih duduk di meja mereka sontak memperhatikan sosok pria berjas hitam dengan aura dominan itu.

Jacob terus melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh kebelakang sedikit pun, sampai tiba-tiba--

Brak!

Seorang gadis berlari dari arah berlawanan dan menabrak bahunya dengan cukup keras. Tubuh gadis itu terhempas ke lantai, sementara Jacob hanya sedikit bergeser, sama sekali tidak kehilangan keseimbangan. Semua mata di restoran langsung tertuju pada mereka.

Jacob mendengus pelan, jelas kesal.

Gadis itu segera bangkit, seraya menepuk-nepuk gaun yang dikenakannya, lalu menatap Jacob dengan sorot mata tajam. Wajahnya menunjukkan rasa tidak terima.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang