"Kemaren abis dari mana lo?" ujar Catrin seraya menatap Stella dengan mata menyipit.
Stella yang tadinya hendak menyuapkan satu potong batagor ke mulutnya langsung menghentikan gerakannya. Ia menurunkan garpu perlahan, lalu menatap Catrin sambil meringis pelan.
"Ehehe... kemarin tuh aku niatnya mau ke rumah kamu, tapi--" ujar Stella gugup.
"Tapi apa?" potong Catrin cepat, nadanya mulai meninggi.
"Tapi aku lewat gerbang belakang sekolah, terus di sana tuh, kamu tahu, Cat... banyak pedagang yang jual makanan yang jarang aku temuin. Jadi aku beli deh... terus aku keas--"
Nada suara Stella langsung mengecil ketika melihat tatapan Catrin yang semakin tajam.
"--yikan makan... jadi lupa waktu," lanjut Stella sambil terkekeh canggung.
Catrin mendengus keras lalu memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan kesal.
"Kenapa harus lewat gerbang belakang sekolah, sih?" tanya Catrin tak habis pikir.
"Pengen cari suasana baru, Cat. Soalnya kalo lewat gerbang depan tuh aku bosen," jawab Stella dengan nada manja sambil meringis kecil.
Catrin menatap Stella dengan tatapan penuh curiga.
"Kok lo tahu jalan ke gerbang di belakang sekolah?" tanyanya menyelidik. "Lo aja ke kelas masih suka nyasar, gimana bisa tahu jalan ke belakang sekolah?"
Stella membeku. Dalam hati, dia memaki dirinya sendiri. Dia bisa tahu letak gerbang belakang dari ingatan milik Stella yang asli. Masa dia harus jujur soal itu, yang ada dia bisa di cap gila.
"A-aku ngikutin orang!" Ujar Stella cepat.
"Ngikutin orang?" ulang Catrin, nada suaranya terdengar tak percaya.
"Iya!" jawab Stella cepat.
"Terus dari mana lo tahu kalo orang itu mau ke gerbang belakang?" tanya Catrin lagi, makin curiga.
Stella meringis, menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lebar-- senyum yang jelas dibuat-buat.
"Dari penampilannya!" jawab Stella dengan semangat.
"Maksudnya?" Catrin menaikkan satu alisnya, dengan ekspresi bingung.
"Maksudnya tuh, orang itu penampilannya berantakan banget, kayak anak nakal gitu. Nah, anak nakal kan biasanya suka bolos, jadi pasti tahu jalan ke gerbang belakang!" ujar Stella cepat, lalu diam-diam menghela napas lega. Dalam hati, dia bersyukur karena otaknya masih bisa berpikir cepat.
Catrin berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Jawaban lo selalu absurd," gumamnya. "Tapi... untuk kali ini gue coba percaya."
Stella langsung memalingkan wajahnya ke samping, menutupi senyum lega yang muncul di wajahnya.
"Denger ya, La," ujar Catrin serius. "Kalo besok lo mau ke mana pun lagi, harus bareng gue. Harus sama gue. Ngerti?"
Stella langsung mengangguk-anggukkan kepalanya. "Siap, laksanakan!" ujarnya sambil memberi hormat seperti tentara.
Catrin yang awalnya masih pasang ekspresi serius mendadak berubah jadi gemas. Ia langsung menjulurkan tangannya dan mencubit pipi kanan Stella.
"Gemes banget sih lo! Rasanya pengen buang ke sungai!" ujar Catrin dengan nada gemas.
"Ih, jahatnya!" rengek Stella sambil memegangi pipinya yang memerah.
Catrin tertawa lepas. "Biarin! Salah sendiri ngeselin tapi gemesin!"
Stella hanya bisa manyun, dan itu malah membuat Catrin tertawa semakin kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
