"Evan…" ujar Elara lirih.
Saat ini ia sedang berada di dalam kamarnya. Lampu kamarnya sengaja ia buat temaram, hanya menyisakan cahaya lembut yang jatuh di wajahnya. Elara duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, matanya menatap lurus ke dinding di depannya dengan pandangan kosong.
"Dia siapa…" lanjutnya pelan, nyaris hanya terdengar seperti gumaman.
Beberapa detik kemudian, sorot matanya berubah, dari yang tadinya kosong menjadi tajam dan penuh kewaspadaan.
"Kenapa dia harus muncul di sekitar Stella…" ujarnya lagi, kali ini seraya mendesis tajam.
Elara menghela napas pelan, lalu berdiri. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang ada di pojok kamar, tangannya terulur membuka laptop yang sejak tadi tertutup. Layar menyala, menampilkan deretan data dan wajah-wajah yang tertata rapi dalam folder terenkripsi.
"Evan…" ia mengucapkan nama itu sekali lagi, suaranya kini lebih dingin. "Aku harus selidiki siapa dia sebenarnya."
Tatapannya menajam pada layar laptopnya, sementara jarinya mulai menari di atas keyboard dengan cepat.
•••
Keesokan harinya
"Ayo berangkat," ujar Elara seraya meraih tangan Stella yang sejak tadi duduk di sebelahnya.
Stella mendongak perlahan. Pipi chubby-nya tampak mengembang karena penuh makanan, membuatnya terlihat seperti anak kucing yang sedang menyimpan sesuatu di mulutnya. Di hadapannya, Dania hanya bisa mendesah pelan sambil menatap tingkah putrinya itu.
"Nanti… aku belum selesai, kak," ujar Stella dengan suara pelan dan sedikit sengau karena sedang mengunyah.
Elara terkekeh kecil. "Astaga, La…" ujarnya lembut sambil menatap gemas pipi adiknya yang terus bergerak.
Dania menatap Stella, lalu berujar tegas. "Minum susunya."
Stella langsung menoleh, memandangi mamanya dengan hati-hati.
'Mama masih marah,' gumamnya dalam hati, matanya langsung terlihat gusar. Ia lalu menganggukkan kepalanya dan buru-buru meraih gelas susunya.
"Pelan-pelan," ujar Dania lagi, suaranya terdengar lebih lembut kali ini.
Stella menurut, meski gerakannya tetap tergesa. Dania yang melihat itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak benar-benar marah, hanya berusaha tegas. Putrinya terlalu lembut, terlalu mudah di tipu.
Abian yang duduk di ujung meja hanya memandangi mereka dalam diam. Wajahnya tenang, namun sorot matanya mencerminkan kekhawatiran yang sama seperti Dania. Ia tahu, Stella bukan gadis yang bisa membela diri-- dan itu yang paling membuatnya cemas.
"Stella," panggil Abian lembut, memecah keheningan kecil di meja makan itu.
Stella mendongak cepat, tangannya masih memegang gelas susunya.
"Iya, pa?"
"Pulang sekolah langsung pulang, oke?" suaranya dibuat selembut mungkin, tapi dengan penekanan yang jelas.
Stella menatapnya sesaat, lalu mengangguk pelan. "Iya, pa."
Setelah meneguk susu terakhirnya, ia lalu meletakkan gelas di atas meja seraya berdiri dan berjalan ke arah Abian.
Cup
Stella dengan cepat mengecup pipi kanan papanya.
"Aku berangkat ya, pa," ucapnya dengan suara lembut.
Abian menganggukkan kepalanya, seraya menatap wajah polos anaknya dengan tatapan hangat. Tangannya terulur, mengusap kepala Stella dengan lembut. "Hati-hati di jalan, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
