Stella POV
Aku membantingkan badanku ke atas ranjang, hari ini terasa sangat lelah. aku menghembuskan napas berat.
"Haah... gila, capek banget," gumamku pelan, seraya menatap langit-langit kamar.
Baru juga dua hari aku tinggal di rumah ini, dan malam ini sudah jadi malam paling heboh yang pernah aku alami, dan hebohnya tuh pakai banget-nget.
Tadi mama, Elara, dan papa langsung berhamburan keluar begitu aku turun dari motor. Belum sempat aku buka mulut, papa sudah lebih dulu meraih kerah seragam Evan dengan ekspresi yang... yah, menyeramkan banget. Aku cuma bisa diem, masih kaget sama semua reaksi mereka. Dan yang paling buat aku syok, mama sampai nangis.
Hal kayak gitu belum pernah aku lihat seumur hidupku-- setidaknya, di kehidupanku yang dulu. Seorang ibu yang menangis karena khawatir sama anaknya.
Mama di kehidupanku sebelumnya? Boro-boro nangis. Aku jatuh sakit pun dia paling cuma bilang, "minum obat aja," itu pun lewat telepon. Yah, emang karena aku sama mama emang nggak tinggal bareng.
Kedua orang tuaku hidup bersama adik laki-lakiku, sementara aku disuruh merantau ke kota buat kerja dan biayain kuliah adikku. Aku kadang masih nggak habis pikir, bisa-bisanya aku nurut aja waktu itu. Ya mungkin karena aku terlalu sayang sama mereka.
Hampir setengah gajiku tiap bulan aku kirim ke rumah. Sisanya cuma cukup buat bayar kontrakan dan makan sehari-hari. Beli baju baru? Boro-boro.
Nggak kebayang. Hidupku dulu, cuma kerja, kerja, dan kerja. Udah kerja setengah mati, tapi hasilnya nggak pernah aku nikmatin sendiri.
Tapi anehnya, aku nggak pernah benar-benar marah. Cuma... yah, pengen aja sekali-sekali mereka nanya kabar aku. Bukan malah setiap nelepon cuma bilang, "udah gajian belum? bisa kirim uang sekarang?"
Lah, mereka kira aku bank berjalan apa?
Sampai akhirnya aku harus ambil dua kerja paruh waktu biar dapet uang yang cukup. Disaat orang-orang seusiaku kuliah dan nikmatin masa mudanya, aku malah banting tulang di kota orang. Tapi ya, aku tahu aku nggak sendiri. Di luar sana pasti banyak juga yang nasibnya kayak aku.
Aku menghela napas panjang. Dikehidupan sebelumnya aku berumur delapan belas tahun, dan sekarang... Malah jadi bocah umur enam belas.
Tinggal di sini sebenarnya nyaman. Aku nggak perlu kerja keras, nggak perlu mikir bayar kontrakan, semua udah ada. Tapi tetap aja... aku capek. Capek bukan karena lelah fisik, tapi karena aku harus terus waspada.
Aku tahu dunia ini dunia novel-- dunia yang penuh dengan karakter manipulatif dan obsesi aneh. Jadi aku nggak bisa sepenuhnya percaya kalau mereka benar-benar sayang sama aku. Karena bisa aja semua cuma bagian dari alur yang udah ditulis.
Tapi... Elara bikin aku bingung. Dia beda.
Elara keliatannya bener-bener sayang sama Stella. Waktu dia liat luka kecil di lututku aja, dia sampai nangis. Matanya merah, tangannya gemetar waktu nyentuh lututku. Aku sampai nggak yakin-- itu akting, atau dia beneran khawatir?
Aku menarik napas lagi.
Dan tadi... Evan langsung dibawa masuk ke ruang tamu, mungkin buat diinterogasi sama papa. Sementara aku disuruh langsung istirahat.
Aku nurut, soalnya nggak mau bikin suasana makin kacau. Tapi jujur aja, aku ngerasa bersalah. Baru dua hari di sini, tapi aku udah berhasil bikin rumah ini berantakan. Aku yakin banget, besok aku nggak bakal boleh berangkat sekolah sendiri. Dan sepeda baruku... pasti dibatalkan.
Aku mendengus pelan, bibirku maju ke depan.
"Ya ampun, baru juga dua hari udah bikin heboh," gerutuku pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
