"Ini udah hampir jam enam, kenapa Stella belum pulang juga, mana hp-nya mati lagi," ujar Dania dengan nada cemas. Ia lalu berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya.
Di sebelahnya, Elara berdiri sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan panggilan tak terjawab. Wajahnya juga tak kalah tegang. Sejak Leon memberi kabar bahwa Stella tidak terlihat di sekolah, perasaannya langsung tak enak.
"Tadi Leon bilang Stella nggak ada di sekolah. Dia bahkan nunggu di depan gerbang sampe satu jam, tapi Stella nggak keluar juga," ujar Elara pelan.
"Katanya satpam udah ngecek, semua murid udah pulang. Di dalam cuma tinggal beberapa guru."
Dania lalu menatap putrinya dengan wajah pucat. "Terus sekarang gimana, El? Mama takut Stella kenapa-kenapa…"
Elara menelan ludahnya kasar, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Tenang, ma. Papa sekarang pasti lagi cari Stella. A-aku yakin Stella pasti bakal ketemu dan Stella bakal baik-baik aja."
Dania berhenti berjalan. Tangannya meremas ujung blusnya sendiri. "Tapi kenapa bisa lama banget, El? Biasanya Stella nggak pernah pulang selama ini. Paling lambat juga jam lima udah sampe rumah."
Elara menggelengkan kepalanya. Langit mulai meremang jingga keabu-abuan, tanda malam akan turun sebentar lagi. Suara kendaraan lalu lalang di kejauhan terdengar samar, tapi cukup untuk menambah kecemasan di dirinya.
"Dia memang sempet bilang bakal pulang agak telat," ucap Elara pelan. "Tapi aku juga nggak nyangka bakal selama ini."
Dania menghela napas berat, lalu dia menyandarkan tubuhnya di pintu. Tangannya terlihat gemetar saat meremas blouse yang dipakainya.
"Kamu udah coba telepon Catrin?" tanya Dania dengan nada gusar.
"Udah," jawab Elara. "Tapi kata Catrin, hari ini dia nggak masuk sekolah. Lagi sakit."
"Ya ampun…" lirih Dania, seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aduh, kemana sih anak itu, mama takut dia kenapa-kenapa."
Elara segera melangkah mendekat dan berdiri di samping mamanya, ia lalu memeluk bahu Dania. "Stella nggak akan kenapa-kenapa, ma. Dia anaknya pintar, pasti dia tau cara jaga diri."
"Tapi El…" suara Dania kembali bergetar. "Stella itu kadang terlalu polos. Mama takut dia dijahatin sama orang."
Elara diam sejenak. Dalam hatinya pun, dia juga khawatir. Stella memang terlalu polos, terlalu mudah percaya pada orang lain, apalagi kalau orang itu keliatan ramah.
Tapi Elara tak mau menunjukkan rasa khawatirnya di depan mamanya, dia takut mamanya bertambah panik.
"Mama coba tenang dulu ya. Aku udah minta papa buat muter ke arah sekolah dan taman belakang. Kalau masih nggak ketemu, aku mau nyusul juga," ucap Elara lembut, meski nada suaranya terdengar tegas.
Dania langsung melihat kearah Elara. "Kamu mau keluar?"
Elara mengangguk. "Iya, tapi nanti aja kalo udah agak gelap. Aku mau nunggu kabar papa dulu. Kalo sampai jam tujuh belum ada kabar, aku langsung nyusul."
Dania menatap putrinya lama, lalu menghela napas. "Mama ikut aja deh."
"Nggak usah, ma," ujar Elara cepat, seraya menatap mamanya dengan lembut. "Mama di rumah aja. Kalau Stella pulang, terus mama nggak ada, nanti malah tambah kacau.”
Dania terdiam, matanya berkaca-kaca. "Kamu yakin Stella aman?"
Elara mengangguk mantap, meski di dalam dadanya rasa khawatir terus menggerogoti. "Aku yakin, ma. Papa pasti bisa nemuin dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
