Chapter 8

24.2K 1.7K 61
                                        

Catrin tidak masuk sekolah hari ini. Itu alasan kenapa sejak pagi Stella menjadi tambah diam. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan absurd yang biasa mengisi jam kosong di antara pelajaran.

Tadi sebelum bel masuk berbunyi, Catrin sempat mengirim pesan.

• "Stell, hari ini, gue nggak masuk ya. Badan gue panas banget. Maaf ya."

Begitu membacanya, Stella langsung membalas pesan dengan cepat.

• "Kenapa minta maaf, aku nggak papa kok. Nggak usah mikir macem-macem, dan cepet sembuh ya."

Dan sampai sekarang pesannya belum dibaca.

Stella mendesah pelan. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi sebelum memasukkannya ke dalam saku seragamnya.

Bel pulang sudah berbunyi sejak 5 menit lalu. Stella bangun dari duduknya lalu meraih tasnya dan langsung keluar dari kelasnya.

"Aku pengen kerumah Catrin." ucapnya dengan nada lesu.

"Tapi naik apa ya?" Lanjutnya lagi dengan suara lirih.

Naik taksi online jelas tidak mungkin. Mama dan papa Stella tidak memperbolehkan.

'Duh, hidup anak orang kaya ternyata ribet banget,' batinnya menggerutu.

"Semoga yang jemput bukan papa," bisiknya pelan.

Karena kalau bukan papanya, mungkin dia bisa sedikit berakting dan minta diantar dengan alasan main sebentar ke rumah Catrin.

Stella berpikir sambil terus berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah pelannya, tapi begitu matanya menangkap sosok seseorang yang ada di depan gerbang, langkahnya langsung berhenti.

Motor hitam mengilap. Tubuh tinggi dengan rambut berantakan di bawah sinar matahari sore itu--

Leon.

"Ah, nggak mau. Aku nggak mau bareng dia lagi," ucapnya lirih, wajahnya seketika berubah menjadi panik.

Tanpa pikir panjang, Stella memutar tubuhnya dan berlari kembali ke dalam gedung sekolah.

"Niatnya ngejauh dari para tokoh novel, kenapa malah mereka yang nyari-nyari aku sih?" gumamnya pelan sambil terus berjalan cepat di lorong sekolah.

Lorong sekolah masih ramai. Beberapa siswa berjalan santai sambil bercanda, sebagian sudah berlari ke arah parkiran. Stella menunduk, berusaha tidak menarik perhatian siapa pun.

'Seingat aku, di belakang sekolah itu ada gerbang kecil. Yang sering dipake orang-orang buat bolos.' pikirnya.

Langkah kakinya semakin cepat. Napasnya mulai tersengal-sengal ketika sampai di halaman belakang sekolah.

Tempat itu ternyata tidak seseram yang dia bayangkan. Disini justru tenang dan asri. Rumput hijau tumbuh rapi, juga ada beberapa pohon besar.

"Depannya aja bagus, masa belakangnya jelek," katanya pelan sambil tersenyum.

Dia lalu mulai melangkahkan kakinya seraya melihat sekelilingnya, mencari gerbang kecil. Langkahnya langsung terhenti ketika matanya menemukan gerbang itu.

"Ah, itu dia!" serunya dengan semangat.

Dia berlari kecil ke arah gerbang dan mencoba membukanya. Ternyata tidak terkunci.

"Nggak dikunci!" ujarnya senang, lalu mendorongnya perlahan hingga cukup untuk meloloskan tubuhnya. Setelahnya dia menutup gerbang dengan hati-hati.

Stella langsung mengembuskan napas lega begitu keluar dari halaman belakang sekolah.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang