Chapter 7

25.3K 1.7K 54
                                        

Stella menghembuskan napas pelan. Aroma roti panggang dan susu hangat memenuhi ruang makan, tapi bagi Stella, pemandangan di depannya justru membuat matanya jemu.

Bayangkan saja, dia duduk di antara dua pasangan. Iya, dua pasangan. Di sampingnya ada Abian dan Dania yang sibuk saling melempar senyum manis, sementara di seberangnya, ada Elara yang sedang duduk berdampingan dengan Jacob.

'Sialan, ngapain si Jacob pagi-pagi udah nangkring di sini?' batin Stella sebal.

Ia mengernyitkan keningnya, menatap sendok di tangannya, lalu menunduk sambil pura-pura sibuk dengan makanannya. Sesekali matanya melirik sekilas ke arah Jacob yang tampak duduk terlalu nyaman di kursinya.

Sementara itu, Abian duduk di kursi kepala keluarga, seperti biasa. Suasana pagi terasa hangat dan harmonis bagi semua orang, kecuali Stella.

'Aduh, kapan status jomblo ini ilang? Rasanya pengen lenyap ke bawah meja tiap liat orang bucin begini,' gumamnya dalam hati, seraya mendengus pelan.

"Cepetan makannya," ujar Dania lembut, menatap putrinya yang sejak tadi sibuk menatap piring daripada makan.

Stella mendongak dengan cepat. "Aku udah kenyang," ujarnya dengan nada yang dibuat seceria mungkin, mencoba menutupi rasa jengahnya.

Dania menghela napas pelan, lalu tersenyum. "Hmm, yaudah. Tapi minum susunya," katanya seraya menggeserkan gelas berisi susu ke hadapan Stella.

Wajah Stella mendadak kecut. Ia menatap susu itu seperti menatap musuhnya.

'Susu lagi, susu lagi,' batinnya lirih. Tapi karena ini kebiasaan Stella yang asli, mau tidak mau ia harus meneguknya juga. Tidak minum, bisa-bisa dia dicurigai.

Dengan berat hati, Stella mengangkat gelas itu dan meneguk habis isinya. Susu hangat itu terasa manis di lidahnya, tapi ini bukan tipe rasa manis yang ia suka.

Stella menaruh gelas dengan perlahan, ia lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

"Ayo berangkat," ucap Abian ketika melihat Stella meletakkan gelas diatas meja.

Stella langsung menoleh kearah Abian, dia menatap Abian dengan tatapan polos. "Pa, aku berangkat sendiri, boleh?" tanyanya dengan nada penuh harap.

Abian mengangkat alisnya, jelas terkejut. Bahkan Dania dan Elara ikut menatap Stella heran, kecuali Jacob, dia hanya fokus menatap piring dan sesekali melihat kearah Elara.

"Kenapa?" tanya Abian, seraya menatap Stella heran.

"Aku pengen bawa sepeda, pa," jawab Stella cepat. "Soalnya kemarin aku nggak sengaja liat sepeda pak Yanto... warnanya pink, gitu. Aku suka!" ujarnya dengan mata berbinar, mencoba memainkan peran Stella yang ceria dengan sempurna.

"Udah bilang sama pak Yanto belum?" tanya Dania, menatap Stella seraya tersenyum tipis.

Stella dengan cepat menggelengkan kepalanya, menatap mamanya dengan wajah polos.

Dania terkekeh kecil, lalu mencubit pipinya gemas. "Dasar," ujarnya dengan nada gemas, membuat Stella mengerucutkan bibirnya.

Namun sebelum Stella sempat membantah, Elara angkat bicara. "Nggak boleh. Sepeda pak Yanto itu udah tua, takutnya kamu kenapa-kenapa di jalan," ujarnya lembut, tapi tegas. "Sekarang diantar sama papa dulu, nanti sore biar kakak beli sepeda baru buat kamu."

Stella melipat bibirnya kedalam dengan tatapan yang terlihat lesu. "Yahh…" desahnya pelan, tapi cukup untuk membuat semua orang terkekeh.

Abian yang sedari tadi menahan senyum akhirnya bangkit dari kursinya. Ia berjalan menghampiri Stella dan mengelus puncak kepala anak gadisnya itu dengan lembut.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang