"Leon anj..." Kalimat itu belum sempat selesai keluar dari bibirku, langsung kutelan lagi mentah-mentah. Aku menggelengkan kepalaku cepat.
"Astaga, nggak boleh ngomong kasar, Stella. Jaga image, jaga image," gumamku pelan sambil menepuk-nepuk pipiku sendiri.
Tapi serius, si Leon tuh ngeselin banget!
Tadi dia bilangnya Elara mau ngomong sama aku, eh ternyata pas nyampe rumah, Elara malah nggak ada. Rumah sepi banget, cuma ada para pekerja dirumah.
Aku berdiri di tengah ruang tamu sambil nyengir kecut. "Emang ya... tokoh novel tuh nggak bisa dipercaya," ucapku sambil melipat tangan di dada. "Ganteng iya, tapi nggak jelas!"
Aku lalu melangkah kearah kamarku, setelah sampai dikamar, aku langsung menjatuhkan badan aku ke atas kasur. Mataku menatap langit-langit dengan pandangan lelah. "Leon bener-bener deh, ngeselin. Entah apa yang dia pikirin sampe harus boong kayak gitu."
Aku menutup wajah dengan bantal.
"Jangan-jangan dia mau modus sama aku lagi?" ucapku pelan, lalu langsung duduk tegak dengan wajah panik. "Hah? Enggak enggak enggak! Mana mungkin dia modus sama bocah absurd kayak Stella?! Dia tuh Leon, si figuran yang tergila-gila sama antagonis wanita."
Aku menggelengkan kepalaku cepat, pengen ngusir pikiran aneh itu.
Akhirnya aku menghela napas panjang. "Yaudahlah, yang penting Elara nggak di rumah. Artinya si Stella nggak buat masalah." Aku tersenyum lega sambil menepuk dadaku sendiri. "Untuk hari ini, aku nggak perlu buat alesan absurd dan yang paling penting nggak ada drama."
•••
Leon melangkah santai memasuki rumahnya, jaketnya sudah dilepas dan tergantung di salah satu lengannya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, tenang tapi juga penuh jarak. Beberapa pekerja rumah menyapanya sopan saat ia melewati ruang tamu, dan Leon hanya membalas dengan anggukan kecil.
Namun langkah kakinya terhenti ketika matanya menangkap sosok seseorang yang tengah duduk santai di sofa ruang tamu, dengan kaki terlipat dan terdapat mangkuk berisi buah potong di pangkuannya.
Leon mengerutkan alisnya. "Ngapain ke sini?" tanyanya pelan, nada suara dan ekspresi wajahnya terlihat heran.
Orang yang duduk di sofa itu menoleh dengan senyum santainya, jemarinya masih sibuk menusukkan garpu ke potongan buah melon.
"Main," jawabnya enteng.
Leon menarik napas, lalu duduk di sofa yang ada di sebelah orang itu. Ia lalu menatapnya sekilas, matanya menelusuri ekspresi orang itu yang terlihat tenang seolah rumah ini adalah rumahnya sendiri.
"Tumben," ucap Leon dengan nada ringan, tapi matanya jelas menyiratkan rasa ingin tahu.
Orang itu terkekeh kecil. "Yaelah, cuma main aja masa nggak boleh?" ujarnya santai, nada bicaranya ringan tapi agak menyenggol nada menggoda.
Leon menyandarkan punggungnya ke sofa, meletakkan jaketnya di atas sandaran sofa. "Bukan nggak boleh," katanya datar. "Cuma tumben aja."
Orang itu menatapnya sekilas, lalu mengangkat bahunya acuh. "Sebenarnya gue ke sini tuh karna kepo."
Leon menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Soal Stella, kan?"
Orang itu menatapnya dengan ekspresi terkejut, lalu tertawa kecil. "Lo cepet banget nebaknya," katanya sambil meletakkan garpu ke dalam mangkuk. "Iya, soal Stella. Tumben lo mau disuruh jemput dia lagi, setelah sekian lama lo ngelak terus dari urusan yang berhubungan sama dia."
Leon tersenyum tipis, tapi bukan senyum yang benar-benar hangat. Lebih seperti senyum yang penuh arti. "Cuma lagi pengen pastiin sesuatu aja."
"Pastiin apa?" tanya orang itu penasaran, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Leon.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
