Author POV
Stella dan Catrin berjalan berdampingan menuju gerbang. Suasana terasa santai, tapi juga agak canggung, terutama karena Stella terus menatap lurus ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu yang penting atau mungkin sedang bingung.
Catrin meliriknya dari samping, tangannya dimasukkan ke dalam saku roknya, ekspresinya datar tapi matanya melihat kearah Stella dengan serius.
"Pulang sama siapa?" tanyanya.
Stella langsung menoleh dengan wajah bingung. "Papa?" ujarnya pelan, lebih terdengar seperti bertanya daripada menjawab.
Catrin menaikkan satu alisnya, langkah kakinya langsung terhenti.
"Yang bener La?" tanyanya dengan raut wajah serius.
Stella langsung nyengir kikuk, tangannya terangkat untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe... nggak tahu, Cat. Aku tadi lupa bawa hp. Aku pikir papa pasti bakal jemput aku... mungkin, ya?" katanya dengan nada ragu seraya tersenyum canggung.
Catrin lalu menatapnya lekat, setelahnya dia menghembuskan napas panjang seraya kembali melangkahkan kakinya.
"Pantesan aja dari tadi lo bengong mulu. Dan tumben-tumbenan, lo nggak bawa hp. Biasanya tuh benda udah kayak organ tambahan buat lo."
Stella terkekeh pelan, mencoba menutupi rasa kikuk.
"Bosen," ucapnya singkat.
Catrin spontan menatapnya dengan ekspresi are you serious right now?
"Bosen? Yaelah, nggak mungkin banget. Lo tuh paling nggak bisa jauh dari hp."
"Aku beneran bosen, sumpah," jawab Stella dengan ekspresi polos tapi meyakinkan.
Catrin menyipitkan matanya, seperti detektif yang sedang mengulik tersangka yang ketahuan bohong.
"Bosen? Padahal hp itu satu-satunya alat lo buat stalking si Jacob. Jangan-jangan lo... lagi berusaha move on dari dia?"
Langkah Stella langsung terhenti sepersekian detik. Matanya sedikit membesar, jelas terkejut karena ternyata Catrin tahu tentang Jacob. Tapi dengan cepat dia menutupi ekspresinya dengan tawa canggung.
"Hehehe... iya, Cat. Aku... lagi nyoba move on, gitu."
Catrin masih menatapnya dengan tatapan menyelidik, bibirnya lalu tersenyum miring.
"Lo nggak bohong, kan?" tanyanya dengan nada yang lebih lembut tapi tatapannya penuh dengan kecurigaan.
Stella buru-buru menggelengkan kepalanya, dan kali ini memasang wajah yang lebih serius.
"Nggak, beneran. Suer, aku udah nggak naksir dia lagi."
Catrin mengangkat sedikit dagunya, ekspresi skeptisnya belum juga hilang.
"Kenapa lo tiba-tiba mau move on?"
Stella langsung menelan ludahnya pelan, jantungnya berdebar kencang.
"D-dia terlalu tua buat aku," ucapnya dengan nada sedikit gagap, lalu Stella buru-buru menambahkan, "udah gitu doang!"
Catrin menyilangkan tangannya di depan dada, lalu memiringkan kepalanya.
"Lo bohong. Gue udah berkali-kali ngomong kalau Jacob itu terlalu tua buat lo, tapi lo selalu ngeyel. Malah makin agresif deketinnya. Jadi jujur aja deh, kenapa lo tiba-tiba sadar sekarang?"
Stella memejamkan matanya sejenak, berusaha menahan tawa getir.
'Duh, bego banget si Stella. Udah tau cowoknya lebih tua, mana pacar kakaknya lagi, masih aja ngotot ngejar.' batinnya menggerutu kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
