Stella POV
Aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang, membiarkan berat badanku tenggelam di balik selimut tebal berwarna krem.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan kepala yang terasa penuh. Tapi semakin kupejamkan, semakin berisik isi pikiranku.
"Apa aku berhasil?" gumamku pelan, lalu membuka mataku lalu menatap langit-langit kamar yang putih polos tanpa hiasan.
Pertanyaan itu terus saja berputar di kepalaku sejak aku pulang dari restoran milik Leon. Aku sudah berusaha bersikap menyebalkan, nggak sopan, dan semenyebalkan mungkin supaya mereka-- para tokoh utama novel, menjauh dan mengabaikan aku. Tapi... entah kenapa rasanya kayak gagal.
Aku menggigit bibir bawahku, lalu mendengus pelan. "Terserahlah, berhasil atau nggak. Toh aku juga nggak akan sering ketemu mereka."
Tanganku lalu terulur, mengambil bantal yang agak penyok di sisi kiri, lalu kupeluk erat. "Palingan cuma ketemu Elara," kataku lirih. "Itu juga karena aku tinggal serumah sama dia."
Aku lalu menatap ke arah jendela. Tirainya setengah terbuka, menampakkan bias cahaya bulan yang samar menerpa lantai kamarku. Hening. Begitu hening sampai aku bisa mendengar detak jantungku yang berdetak cepat karena gusar.
"Mungkin aku pindah aja kali ya?" ucapku pelan, nada suaraku seperti sedang menimbang-nimbang. "Kalau aku minta ke mama Stella buat beliin apartemen yang ada di deket sekolah, pake alasan biar lebih fokus belajar, kayaknya masuk akal, kan?"
Aku terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. "Tapi... kemungkinan besar nggak bakal diizinin juga," lanjutku pelan. "Soalnya si Stella ini kan tipe anak polos yang nyerempet bego. Mana mungkin dikasih izin tinggal sendirian."
Aku lalu tertawa kecil, tapi rasanya tawaku tuh hambar. "Apalagi dia anak satu-satunya mamanya. Udah gitu, jadi kesayangan papa tirinya juga. Lengkap sudah."
Tanganku lalu terulur, memainkan ujung rambutku yang menjuntai di bantal. "Aduh, pusing pala Barbie. Baru beberapa jam masuk ke dunia novel aja udah segini ribetnya. Gimana kalo nyampe bertahun-tahun?"
Aku menatap ke cermin yang ada di meja rias, melihat pantulan wajah manis yang tampak kelelahan. "Semoga aja rambutku nggak rontok gara-gara kebanyakan mikir dan overthinking," gumamku pelan.
Lalu aku memejamkan mataku lagi, mencoba menggali ingatan yang bukan milikku, potongan memori milik Stella yang asli. Gambarannya datang samar, seperti potongan film lama. Aku melihat seorang pria yang tersenyum hangat-- Abian, papa tiri Stella dan seorang wanita cantik dengan mata lembut, Dania-- mamanya Stella. Mereka menikah tujuh tahun lalu, waktu Stella berumur sembilan tahun.
"Lumayan lama juga ya." bisikku, dengan mata masih terpejam. "Elara waktu itu udah umur lima belas tahun, berarti sekarang dua puluh dua."
Aku mengerutkan dahi, mengingat satu lagi bagian penting dari kisah ini. "Mama kandung Elara meninggal waktu dia umur lima tahun. Terus, dulunya Abian dan Dania itu temen deket, tapi tiba-tiba berpisah dan ketemu lagi delapan tahun lalu, terus setahun kemudian nikah. Tipikal kisah reuni cinta lama."
Aku mendesah. "Dan papa kandung Stella? Nggak jelas. Kayaknya udah nggak ada, atau pergi entah ke mana."
"Nggak ada satu pun ingatan yang nunjukin mukanya."
Aku menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Kalaupun masih hidup, ya jelas dia bajingan. Kalau bener-bener sayang, pasti nyari anaknya. Nyatanya? Nggak ada kabar."
Keningku berkerut. "Udahlah, nggak usah mikirin itu."
Aku lalu memeluk bantal lebih erat seraya menatap jam di dinding yang jarumnya baru saja melewati angka sepuluh. "Oh iya," aku bergumam pelan, "jarak umur Stella sama para tokoh utama itu sekitar enam tahun. Dan sama protagonis wanitanya, beda tiga tahun. Sekarang si protagonis itu udah kuliah, ditahun kedua."
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
