24. ࿔prince xiel࿔

7.5K 504 18
                                        

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

Pagi ini, udara di taman belakang mansion D'lucifer masih dibungkus kabut tipis. Burung-burung bahkan masih enggan untuk berkicau dan meninggalkan sarangnya. Namun tidak bagi satu sosok mungil yang tengah berdiri di sisi kanan ranjang. Matanya yang bulat menatap lekat pada sosok pria dewasa, yang masih terlihat begitu damai dalam tidurnya.

Dengan keberanian yang seadanya, Xiel mengulurkan tangannya, menepuk pelan punggung lebar sang Daddy. "Daddy... bangun, ya? Temenin Xiel lari pagi, biar perut Xiel nggak besar lagi... kalau kayak gini terus nanti keseksian Xiel hilang..."

Suara itu—lembut, tapi di ujung kata ia memelankan suaranya, hingga nyaris tak terdengar.

Di balik selimut tebal, hanya terdengar dengusan rendah, Xavier sengaja menutup matanya lebih rapat, berpura-pura tidak mendengar, hingga suara kecil itu kembali terdengar, kali ini lebih manis.

"Please, Daddy."

Kata itu keluar begitu lirih, tapi begitu candu. Dan seperti biasa, pertahanan pria dewasa itu runtuh dalam sekejap.

Xavier menarik napas panjang, lalu membuka matanya perlahan. Wajahnya masih setengah tenggelam di bantal, rambut acak-acakan, namun sorot matanya yang tajam langsung tertuju pada mahkluk mungil di sisi tempat tidur—berdiri tegak menggunakan singlet biru muda dan celana di atas lutut tak lupa botol air di tangan dan sepatu olahraga kebesaran yang membungkus kedua kaki mungilnya. Xavier tebak itu pasti sepatu Vincent, yang entah bagaimana bisa si kecil dapatkan.

"Baby sadar, kan, kalau jam lima pagi itu bukan waktu normal untuk joging?" gumam Xavier, suaranya serak, berat, tapi begitu lembut.

Xiel menunduk dengan tangan yang saling meremas, bibirnya melengkung ke bawah. "Tapi Xiel mau..."

Keheningan menggantung beberapa detik, sampai dengusan Xavier terdengar lagi. Ia bangkit dengan malas, lalu menarik tubuh kecil itu ke pelukannya, hangat, rapat, menenggelamkan Xiel di dada bidangnya.

Namun sebelum bangkit dari kasur, Xavier menatap wajah mungil itu dengan intens, tak lama bibirnya terangkat samar. "Biar Daddy yang membantu membakar lemakmu."

"Gimana caranya?" Tanya Xiel.

"Dengarkan Daddy, lari sangat tidak baik untuk paru-parumu, bayi kecil. Tapi jika bayi tetap berada di gendongan Daddy, irama detak jantungmu akan mengikuti Daddy. Itu artinya... Lemakmu akan tetap terbakar tanpa harus berlari."

Mata bulat itu langsung berbinar kagum, seperti baru mendengar teori paling hebat di dunia. Ia mengangguk polos. "Daddy pintar banget!!"

Xavier mengangguk puas. "Hm. Ucapkan lagi itu besok pagi, dan mungkin Daddy akan menuruti semua keinginanmu."

Dalam hitungan detik, tubuh kecil itu sudah berasa dalam gendongan Xavier. Langkah pria dewasa itu tenang, berirama di atas jalan setapak yang dilapisi batu di taman belakang.

Tak terasa 20 menit telah berlalu, hanya suara langkah dan napas kecil yang terdengar.

"Daddy wangi sekali..." gumamnya pelan.

Xavier menunduk, matanya berkilat samar. "Ya, Daddy memang selalu wangi."

𖦹𖦹𓇼𖦹𖦹

Suara gemercik air dan tawa kecil Xiel terdengar dari dalam kamar mandi. Sesi mandi ayah dan anak itu memakan waktu 30 menit.

Sampai suara Mommy Anne, terdengar dari balik pintu.

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang