𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Ruang makan keluarga itu megah sekaligus dingin. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke permukaan meja marmer hitam, menimbulkan pantulan samar wajah-wajah di sekelilingnya.
Lilin hiasan di vas kristal bergoyang pelan, memberikan kesan hangat yang palsu di tengah udara yang sedang di hirup oleh para manusia berhati iblis.
Dindingnya berlapis lukisan leluhur keluarga, mata mereka menatap dari masa lalu, seakan mengawasi generasi baru yang kini duduk di bawah cahaya mereka. Semua tertata sempurna – sendok di sisi kanan, garpu di sisi kiri, dan berbagai macam makan tertata sempurna. Seolah setiap inci ruangan ini dikendalikan oleh tangan tak kasat mata yang tidak mentoleransi kekacauan sekecil apapun.
Namun malam ini lagi-lagi satu hal mengusik keseimbangan. kursi kecil khusus di sisi kanan, kosong. Bukan karena lupa, tetapi Xavier dengan suara rendah dan tenang, memberitahukan untuk membiarkan sang buah hati beristirahat lebih lama.
"Prince kecil sudah cukup makan. Tiga botol susu dan semangkuk bubur sore tadi lebih dari cukup."
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu di balik ketenangan itu – terselip kelembutan yang terasa seperti peringatan. Tak ada yang menentang, karena cinta sering kali berbicara dengan cara dingin dan kaku.
Namun, ketidakhadiran tidak berhenti di situ. Kursi milik Xanara dan Theo pun ikut kosong. Dua orang yang harusnya disiplin, kini absen bersamaan, membuat udara di ruangan terasa lebih berat dari biasanya.
Hening, tak ada suara yang terdengar selain detak jam di dinding, menghitung waktu yang melambat seperti helaan napas yang tercekik. Dia puluh menit hampir berlalu sebelum langkah pelan terdengar mendekat ke arah meja makan. Xanara muncul dengan wajah setenang air, dan Theo datar seperti biasanya.
Mereka berdua meminta maaf dengan sopan, bukan karena merasa bersalah tetapi hanya sebuah formalitas belaka. Tetapi keheningan menjawab lebih keras dari kata.
Sampai akhirnya Cassius berdecak keras. "Jangan ulangi kesalahan untuk kedua kali. D'lucifer tidak memberi ruang bagi kebiasaan buruk kalian, pengecualian untuk bayi singa."
Suaranya datar, tapi tajam bahkan lebih tajam dari pisau yang baru diasah. Dan setelah itu, tak ada lagi yang berbicara.
Keheningan kembali mengisi. Yang tersisa hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring dan suara nafas.
𖦹𖦹𓇼𖦹𖦹
Makan malam telah usai, langkah-langkah tenang beradu di lantai marmer, mangalun ke arah ruang keluarga yang luas dan remang.
Lampu kristal sengaja di ganti rendah dan diredupkan, menciptakan bayangan panjang di lantai. Udara terasa lebih berat.
Di sana, peta digital terpampang di layar besar, memperlihatkan titik-titik merah, dan garis pengamanan yang rumit. Pembahasan mereka serius, terukur, dan setiap kata memiliki makna lebih berat dari sebuah janji darah maupun nyawa.
Namun, tidak semua mata dan pikiran tertambat pada strategi. Ada satu sosok yang berbeda dari biasanya.
Ia duduk di singel sofa gelap berlapis beludru, kursi yang sering di gunakan oleh Xiel. Bahunya bersandar santai, matanya setengah terpejam. Di tengah riuh rendah pembicaraan serius, ia terlihat asing, tubuhnya memang sedang berada di sini tetapi pikirannya seperti sedang berada di ruang lain dan waktu lain.
Jari-jarinya menelusuri bibirnya sendiri dengan pelan dan hati-hati, seolah sedang mengingat rasa dan menyimpan nya rapi.
Senyum samar muncul, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat udara disekitarnya terasa lebih panas nyaris membakarnya. Antara rasa ingin memiliki tubuh kecil itu seutuhnya dan dosa yang nyata di bungkus apik dalam ketenangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
