Toilet perempuan di lantai dua kampus tampak lengang. Dinding marmer putih bersih berkilau di bawah cahaya lampu modern, sementara cermin besar membentang hingga ke ujung ruangan, memantulkan bayangan siapa pun yang berdiri di depannya. Bau pembersih yang tajam masih tercium samar, meninggalkan kesan rapi dan teratur. Suasananya terlalu hening, dingin, nyaris membuat siapa pun yang masuk merasa asing.
Di depan cermin itu, Eveline berdiri seorang diri. Kedua tangannya bertumpu di atas permukaan wastafel dingin. Ia sengaja izin keluar kelas dengan alasan ke toilet, padahal sebenarnya ia butuh jeda. Sejak tadi kepalanya berat, konsentrasinya buyar, dan duduk di ruangan penuh mahasiswa hanya membuat dadanya semakin sesak. Toilet sepi ini memberinya sedikit ruang untuk bernapas.
Ia membuka keran. Air jernih mengalir deras, membasuh tangannya sebelum ia menepuk-nepukkan ke wajah. Rasa dinginnya sedikit mengusir lelah yang membebani kepala. Eveline menatap bayangan pucatnya di cermin, lalu menghela napas panjang.
“Setidaknya di sini aku bisa bernapas sebentar,” gumamnya pelan.
Namun ketenangan itu buyar seketika ketika pintu toilet terbuka. Suara tawa kecil yang sangat familiar menyusul masuk, membuat darah Eveline langsung membeku.
Ia menoleh. Tubuhnya menegang.
Luna. Dan di sampingnya, Annabelle.
Wajah Luna menyeringai begitu melihatnya. “Oh, ternyata kau di sini.” Suaranya ringan, tapi nadanya menusuk.
Annabelle menyilangkan tangan di dada, memandang Eveline seakan melihat sesuatu yang hina. “Aku kira kau sudah tahu tempatmu. Ternyata masih suka berkeliaran sendirian.”
Eveline menarik napas dalam, mencoba menahan diri. “Aku hanya sebentar. Tidak mau membuat masalah.”
Luna melangkah mendekat perlahan, setiap hentakan hak sepatunya terdengar nyaring.
“Tidak mau membuat masalah? Lucu sekali. Padahal kau yang membuat masalah besar waktu itu.”
Eveline memilih diam. Ia tahu apa pun yang keluar dari mulutnya hanya akan memperkeruh keadaan. Ia menegakkan tubuhnya, lalu melangkah ke arah pintu.
“Minggir,” ucapnya lirih, tapi tegas.
Luna menghalangi jalan dengan lengannya, menyeringai. “Kalau tidak?”
Eveline mendongak, menatap langsung meski jantungnya berdegup kencang. “Aku tidak mau cari masalah, Luna. Jadi jangan paksa aku.”
Annabelle tertawa sinis. “Kau pikir bisa apa sendirian di sini?”
Eveline menepis lengannya. Gerakan itu membuat Luna terhuyung.
Brak!
Bahu Luna menghantam cermin hingga bergetar. Tawa lirih Annabelle pecah di belakang, jelas menikmati tontonan.
“Kau berani menyentuhku?!” suara Luna naik.
“Kenapa tidak?” balas Eveline, kali ini dengan nada tajam.
Plak!
Tamparan Luna mendarat keras. Pipi Eveline panas, telinganya berdengung, rasa perih menjalar ke rahang. Tapi ia tidak mundur, ia malah membalas.
Plak!
Tamparan keras mengenai wajah Luna.
“Arghhh!” Luna meraung, rambutnya kemudian dijambak Eveline. Helai-helai rambut tercabut, membuat gadis itu menjerit nyaring.
Keduanya kini saling tarik, saling dorong. Tubuh Luna menghantam pintu bilik. Eveline, meski gemetar, tak lagi diam. Tangannya mencakar, mendorong, menampar, membabi buta.
KAMU SEDANG MEMBACA
WOUNDED
ChickLitRaisa, gadis lemah dan penurut yang hidupnya selalu ditindas, meninggal setelah menyelamatkan seorang anak kecil dari kecelakaan. Namun takdir memberinya kesempatan kedua, ia terbangun dalam tubuh Eveline Queenzy Smith, seorang mahasiswi yang ternya...
