halllooooooo🙌🏻
dara kembaliiiii👧🏻
sorry yaaaa 🙇🏻♀️ baru bisa up
draf aku hilang semuaaaaaa huhuhu(´ . .̫ . ')
sedih banget🥲
jadi males ngetik ulanggggg🙇🏻♀️
hehehehe( ꈍᴗꈍ)
𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Untuk pertama kalinya Xavier kalah oleh tangisan Prince kecilnya.
Dan untuk pertama kalinya Xavier Alexander D'lucifer tidak menyentuh pekerjaannya.
Jika biasanya di pagi hari Xavier telah duduk di kursi kebesarannya, maka kali ini ia memilih duduk di kursi ayun dengan Xiel yang meringkuk bagai bayi di dalam dekapannya.
Jika biasanya Xavier sibuk menandatangani, membaca, dan menatap grafik, maka kali ini ia lebih memilih memegang botol susu singa milik Bayi kecilnya, dan menatap wajah damainya sepanjang hari.
Jika biasanya Xavier di sibukkan dengan telefon kantor, maka kali ini ia lebih memilih mendengar celotehan dengan nada lucu dan manis bayi kecilnya.
Dan jika biasanya Xavier terlihat begitu rapi dengan setelah formalnya, maka kali ini jas kebesarannya tergeletak begitu saja di lantai, dasinya longgar, hanya menyisakan sosok Daddy yang sepenuhnya milik anak mungilnya.
Kursi ayun besar itu berderit pelan setiap kali tubuh Xavier bergerak.
Xiel mendongak. "Daddy..." panggilnya lirih, suaranya sengau karena tangisan yang baru saja reda.
"Hm?"
"Daddy wangi..." celoteh itu meluncur begitu polos. "Pelukan Daddy juga hangat, seperti rumah... Xiel suka."
Xavier sempat terdiam. Kata-kata sederhana itu seperti tusukkan kecil di dadanya. Tak seorang pun yang pernah memuji dirinya seperti ini. Ia terbiasa menerima pujian tentang kekuasaan, kekayaan, dan kekuatannya. Namu sekarang, putra kecilnya hanya mengatakan kalimat sederhana, ia hangat seperti rumah.
Sudut bibirnya terangkat tipis. "Begitukah?"
Xiel mengangguk semangat pipinya merona tipis. "Iyaaaa! Daddy itu rumahnya Xiel. Jadi jangan pergi yaa Daddy... nanti Xiel nggak punya rumah lagi."
Xavier menunduk, bibirnya mengecup singkat ubun-ubun si kecil. "Daddy tidak akan pernah meninggalkanmu bayi kecil Daddy ini."
Xiel tersenyum puas, lalu meneguk kembali susunya. Tapi tak lama kemudian, ia dorong botol itu ke dada sang Daddy. "Habis..."
Xavier menerima botol kecil itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya tetap menopang tubuh mungil sang anak. Masih dengan Xiel yang menempel erat di tubuhnya, Xavier berjalan menuju meja di sudut kamar, di mana tersedia termos air hangat dan susu bubuk khusus.
"Daddy bikinkan lagi hmm?" Tanyanya dengan suara rendah.
"Em... tolong yaa Daddy, Xiel haus."
Xavier mengangguk. Tangannya yang besar meraih botol susu dengan motif bintang kecil yang baru, membuka tutupnya dengan gerakan halus. Dengan cekatan menakar susu bubuk itu dan dengan hati-hati ia menuangkan air hangat ke dalam botol sambil tetap menggendong Xiel di lengan satunya. Xiel menatap sang Daddy dengan mata berbinar.
"Wahh, Daddy kuat dan hebat banget! Bisa bikin susu sambil gendong Xiel."
Biasanya, Xavier tidak pernah goyah oleh pujian apa pun. Ia adalah pria yang tak tergoyahkan oleh rayuan dunia. Tapi kini, pipinya terasa sedikit panas. Sesuatu hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Daddy-nya, Adek hebat yaaa." Xiel mengulang perkataannya. Tangannya menepuk-nepuk dada bidang sang Daddy, menunjukkan bahwa ia begitu kagum pada Daddy-nya.
Xavier berdehem kecil, mencoba menutupi rasa yang begitu membuncah di dadanya. "Hmm. Daddy memang harus hebat dan kuat agar bisa menjaga sekaligus menjadi rumah yang hangat untuk bayi kecil ini."
"Xiel sayang Daddy..." gumam Xiel lembut, sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu. "Sayang banget... Xiel love Daddy banyak-banyak... hehehe."
Xavier membeku sejenak. Kata-kata itu memang terdengar sederhana, tapi baginya, itu adalah pengikat rantai yang lebih kuat dari besi baja sekalipun.
"Daddy juga..." suaranya tercekat, nyaris tak terdengar. "Daddy begitu menyayangi bayi kecil ini."
Xiel tertawa kecil. Tawa yang memperlihatkan gigi mungilnya. "Daddy malu ya?" Tanyanya polos.
Xavier mengerjakan matanya. "Tidak."
"Sungguh? Tapi pipi Daddy merah... sama seperti Xiel jika sedang malu." ucap Xiel sambil menangkup wajah sang Daddy.
Xavier menunduk, matanya menatap tajam si kecil yang berada di pelukannya. "Diam, Prince. Jangan main-main dengan Daddy hmm." tapi suara berat itu tak mampu menutupi kenyataan, telinga pria itu merona samar, detak jantungnya berdentum keras.
Kursi ayun kembali bergoyang pelan. Ruangan itu hanya dipenuhi suara kecil Xiel yang menyeruput susu dan celotehannya yang tak pernah habis. Tentang boneka singa, tentang keinginan mempunyai dot baru berbentuk bintang, dan tentang hal-hal kecil yang ingin ia lakukan bersama Daddy dan keluarganya yang lain.
Dan Xavier tetap setia mendengarkan. Setiap kata ia simpan, dan setiap tawa ia ukir di dalam hatinya. Baginya, semua itu lebih berharga daripada kekuasaan yang ia bangun dengan darah.
Di luar, mata hari sore menembus tirai tipis, menyinari wajah mungil Xiel dengan cahaya keemasannya. Xavier menatapnya lama, jemarinya menyusuri setiap jengkal wajah sang anak mencoba menyimpan semuanya di dalam ingatan.
"Tetap seperti ini, Bayi," gumamnya lirih. "Tetaplah jadi bayi kecil Daddy."
Xiel, dengan polosnya mengangguk. "emmmm, Xiel promise. Xiel akan tetapi seperti ini untuk Daddy, selamanya"
Xavier menghela nafas, dadanya terasa sesak oleh rasa manis yang begitu asing baginya. Dan di kursi ayun itu, dengan bayi kecil di dekapannya, Xavier Alexander D'lucifer menyerah sepenuhnya.
𖦹𖦹𓇼𖦹𖦹
Di sebuah ruangan yang temaram.
Terdapat siluet seseorang yang sedang duduk bersandar di kursi kecilnya sambil memperhatikan ribuan foto pemuda manis yang tertempel di dinding.
Tangannya dengan hati-hati mengusap foto tersebut. Matanya terpejam membayangkan pemuda itu sepenuhnya berada dalam genggamannya.
"Daddy jagalah bayi mu dengan baik. Sebelum aku mengambilnya."
☘︎☘︎☘︎
TBC..
masih nyambung ga yaa??
takut banget tiba-tiba jadi ga jelas'(
demiiii mood aku jelek banget🙇🏻♀️
bahkan draf cerita 'bromance' ku yang lucu gemoy juga hilang bagai di telan bumi
sedihhhh bangettttttttt++++++😿
[ maaf kan dara yaaaa🙆🏻♀️ ]
tapi ehhhh tapiiiii....
ini udah hampir mendekati konflik hehhe😹
kalian harus siapin diri okeeeey...
buat chap depan mau kapan?
nanti aja yaa kalau commentnya rameee
biar dara yang comel dan lucu ini bisa mikir🤭
atau ada request ga? yang manis-manis tapiii ya
soalnya udah mau konflik ini mwhehehe(◔‿◔)
Bye bye💐💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
