Cahaya pagi merayap masuk lewat celah tirai, tipis dan pucat. Eveline membuka mata dengan napas terengah, sisa mimpi buruk masih mencengkeram dadanya. Ia duduk perlahan di ranjang, keringat dingin masih melekat di kulit. Untuk sesaat, ia harus meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar terjaga, bahwa suara wanita yang memanggil namanya barusan hanyalah mimpi.
Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Semakin ia menatap sekeliling kamar, semakin ia merasa ada sesuatu yang berubah. Tirai jendela sedikit terbuka, padahal ia yakin semalam menutupnya rapat.
Perlahan Eveline bangkit, mendekat, dan menyingkap tirai sepenuhnya. Taman di luar terlihat sunyi, embun pagi masih menempel di rerumputan. Tapi di kaca jendela, samar-samar, ia melihat jejak tangan. Bukan miliknya, terlalu besar untuk itu.
Jantungnya berdegup kencang. Seseorang masuk ke kamar ini?
Sebelum rasa takutnya semakin liar, suara ketukan pelan terdengar.
Tok! Tok!
“Selamat pagi, Nona Eveline,” suara pelayan terdengar dari balik pintu. “Tuan Ken meminta Anda sarapan bersama di ruang makan. Beliau menunggu.”
Eveline menelan ludah, berusaha menormalkan suaranya. “Baik, aku akan turun sebentar lagi.”
Langkah pelayan menjauh. Eveline masih menatap bayangan tangannya di kaca, ragu apakah ia harus menceritakan hal itu pada Ken atau menyimpannya sendiri.
Lorong menuju ruang makan dipenuhi cahaya matahari, tapi justru membuat Eveline semakin merasa asing. Ia berjalan pelan, seakan setiap langkah membawa dirinya semakin dalam ke rumah yang penuh rahasia ini.
Ken sudah duduk menunggu di meja panjang yang penuh hidangan. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum saat melihat Eveline. “Tidurmu nyenyak?” tanyanya, nada suaranya seolah benar-benar tulus.
Eveline terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Ya, cukup.”
Ia tidak sanggup mengatakan kebenaran.
Ken mempersilakan Eveline duduk. Mereka makan dalam keheningan sejenak, hanya terdengar suara sendok dan garpu. Hingga akhirnya Ken menatapnya, sorot matanya serius.
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Eveline.”
Eveline mengangkat kepalanya, kaget dengan nada Ken.
“Apa?”
Ken meletakkan gelas anggurnya, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Apakah semalam kau berjalan-jalan di rumah ini?”
Tubuh Eveline menegang seketika.
Pertanyaan itu menusuknya seperti pisau, membuat semua darahnya terasa dingin. Ia mencoba mengatur wajahnya agar tetap tenang, meski jantungnya berdebar kencang.
Ken menunggu jawaban, matanya seolah ingin menembus lapisan kebohongan sekecil apa pun.
Apakah Eveline harus jujur? Atau berpura-pura tidak tahu?
Eveline menelan ludah. “Tidak, aku hanya di kamar. Aku bahkan tidak sempat keluar,” jawabnya pelan, berusaha terdengar meyakinkan.
Ken menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang Eveline sanggup tanggung. Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang entah kenapa membuat Eveline semakin merinding.
“Begitu, ya?” suaranya datar, seperti tidak percaya tapi memilih untuk tidak memperpanjang.
Eveline menunduk, menatap piringnya tanpa benar-benar melihat. Tangannya bergetar saat memegang garpu. Ia tahu Ken mencurigainya.
“Rumah ini,” ujar Ken tiba-tiba, nada suaranya lebih berat, “memiliki banyak bagian yang tidak semua orang boleh tahu. Beberapa pintu sebaiknya tetap tertutup. Mengerti maksudku, Eveline?”
KAMU SEDANG MEMBACA
WOUNDED
ChickLitRaisa, gadis lemah dan penurut yang hidupnya selalu ditindas, meninggal setelah menyelamatkan seorang anak kecil dari kecelakaan. Namun takdir memberinya kesempatan kedua, ia terbangun dalam tubuh Eveline Queenzy Smith, seorang mahasiswi yang ternya...
