CHAPTER 31

2.2K 163 30
                                        


Lorong itu terasa semakin panjang ketika Eveline melangkah kembali ke kamarnya. Suara bisik-bisik para pelayan masih bergema di kepalanya. “Kalau bukan Tuan Ken, berarti semua ini tentang dia.” Kata-kata itu bagai racun, merembes perlahan ke dalam pikirannya, memicu rasa takut sekaligus penasaran.

Setibanya di kamar, ia menutup pintu pelan dan menyandarkan tubuhnya. Dadanya naik-turun cepat, jari-jarinya gemetar. “Dia siapa?” gumamnya hampir tanpa suara. Seolah menyebutkan kata itu saja bisa memanggil sesuatu yang tak kasat mata.

Eveline berjalan menuju jendela, menyingkap tirai, dan menatap ke taman. Senja menggantung dengan warna jingga pucat, namun keindahannya tak mampu menenangkan hati. Di balik cahaya itu, ia justru merasa sedang diawasi. Dari balik pepohonan, dari setiap sudut yang tertutup bayangan, seakan ada sepasang mata yang menunggunya lengah.

Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mengusir perasaan itu. Mungkin aku hanya terlalu tegang. Mungkin semua ini kebetulan. Namun semakin ia meyakinkan diri, semakin jelas bahwa tak ada yang kebetulan. Bahkan kamar ini, kamar yang katanya selalu dibersihkan meski kosong, seakan memang dipersiapkan khusus untuknya. Untuk apa?

Eveline menatap sekeliling. Kamar itu indah, mewah, dengan ranjang besar dan hiasan dinding yang tampak mahal. Tapi sekarang ia melihatnya dengan kacamata berbeda. Semua terasa asing, dingin, dan penuh rahasia. Ia teringat ucapannya sendiri kepada Ken, “Seolah semua sudah dipersiapkan jauh sebelum aku datang.” Dan kenyataannya memang begitu.

Ia duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri. Tapi diam terlalu lama justru membuat pikirannya semakin bising. Rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan ketakutannya. Eveline bangkit, mendekati lemari besar di sudut ruangan. Ia membuka satu per satu lacinya. Rapi, penuh dengan deretan pakaian yang tersusun begitu teratur. Eveline menelusuri kain sutra dengan jemarinya. Bukan miliknya, tapi dipilihkan untuknya. Rasa tidak nyaman merambat ke kulit.

Lalu ia membuka laci terbawah. Bukannya menemukan pakaian lagi, ia justru mendengar bunyi klik samar, disusul derit kayu. Kening Eveline berkerut. Ia menunduk, meraba bagian dalam laci. Jarinya menyentuh celah tipis di balik papan. Dengan hati-hati ia menekan, dan sepotong panel rahasia bergeser, menyingkap pintu kecil di belakang lemari.

Napas Eveline tercekat. Tangannya gemetar saat mendorong pintu itu. Bunyi berderit kembali terdengar, membuka jalan menuju lorong gelap yang sempit. Udara dingin menyeruak dari dalam, bercampur aroma lembap.

Tubuhnya menegang. Ada lorong.

Eveline menoleh ke pintu kamarnya. Semua sunyi. Jika ia ketahuan, ia tak tahu apa yang akan terjadi. Namun rasa ingin tahunya lebih kuat daripada ketakutannya.

Ia lalu menunduk dan mendorong pintu rahasia itu. Derit engsel tua menggema, udara lembap keluar dari dalam. Ia melangkah masuk, perasaan campur aduk antara takut dan penasaran.

Lorong sempit itu berliku menurun, dindingnya batu kasar, kontras dengan keindahan kamar. Lampu-lampu kecil menempel di sela dinding, redup dan berdebu, tapi cukup memberi cahaya temaram. Cahaya itu menciptakan bayangan panjang yang bergerak setiap kali Eveline lewat. Suasananya membuat bulu kuduknya meremang.

Akhirnya ia tiba di sebuah pintu kayu tua. Tangannya ragu sebelum mendorongnya. Bunyi engsel berdecit, dan ruangan kecil terbuka. Di dalamnya ada meja kayu, kursi, dan beberapa kotak besar. Debu menutupi hampir semua permukaan. Namun yang membuat Eveline terhenti adalah sebuah bingkai besar di dinding, tertutup kain hitam.

Dengan hati-hati ia mendekat dan menarik kain itu. Debu berhamburan, membuatnya batuk kecil. Saat matanya menyesuaikan, ia melihat sebuah potret besar.

Dan tubuhnya membeku.

WOUNDED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang