Langkah-langkah kecil Eveline bergema pelan di lorong panjang itu. Dinding marmer putih memantulkan bayangan tubuhnya, seolah setiap sudut rumah ini ikut mengawasinya. Ia baru saja selesai sarapan bersama Ken, percakapan yang singkat namun menyisakan tekanan tak kasat mata. Kata-kata Ken masih mengendap di kepalanya, bebas, tapi diawasi, lepas, tapi dalam genggaman.
Tangannya meremas ujung gaun pastel yang melekat di tubuhnya. Pakaian indah itu terasa semakin berat, bukan karena kainnya, melainkan karena kesadaran bahwa semua ini bukan miliknya. Setiap helai kain, setiap sudut rumah, bahkan udara yang ia hirup, terasa seperti milik orang lain. Dan entah bagaimana, ia kini termasuk di dalamnya.
Pelayan yang menuntunnya berhenti di sebuah ruangan besar dengan pintu ganda. “Ini ruang tengah, Nona. Jika ingin membaca atau beristirahat, silakan gunakan tempat ini.” Suaranya tetap datar, sekadar menyampaikan perintah, tanpa emosi.
Eveline mengangguk ragu. “Baik.”
Wanita itu menunduk singkat, lalu pergi meninggalkan Eveline sendirian. Sunyi seketika menelan ruangan itu, hanya denting jam besar di sudut yang sesekali terdengar.
Eveline menatap sekeliling. Ruangan ini luas, dindingnya dipenuhi rak-rak tinggi penuh buku berlapis kulit, sebagian terlihat kuno. Ada sofa besar di tengah, karpet Persia terhampar rapi, dan jendela tinggi yang memperlihatkan taman hijau di luar. Dari jauh, ia bisa mendengar suara air mancur yang menetes pelan.
Ia melangkah mendekati rak, jemarinya menyusuri punggung buku. Kulit tebal, berwarna cokelat tua, judulnya terukir dalam bahasa asing yang tak ia pahami. Kenapa semua ini terasa seperti museum, bukan rumah? Batinnya getir.
“Rumah ini menyenangkan, bukan?”
Suara berat itu membuat Eveline terlonjak. Ia berbalik cepat.
Ken berdiri hanya beberapa langkah darinya. Sikap tubuhnya santai, namun tatapannya menusuk. Ada senyum samar di wajahnya, senyum yang entah bagaimana justru membuat Eveline merasa semakin terjebak.
Eveline berusaha menahan degup jantungnya. “Aku, tidak tahu harus bilang apa.”
Ken berjalan mendekat, langkahnya tenang. “Kau bisa jujur. Apa yang kau lihat, apa yang kau rasakan. Aku tidak akan marah.”
Ia berhenti tepat di depan rak, jarak mereka hanya beberapa jengkal. Eveline menelan ludah, tubuhnya kaku. “Aku hanya, heran. Semua yang ada di sini, pakaian, kamar, bahkan buku-buku ini. Seolah sudah dipersiapkan jauh sebelum aku datang.”
Ken menatapnya lama, seakan menimbang kata-kata yang tepat. Lalu ia tersenyum lagi, tipis. “Itu karena memang sudah dipersiapkan.”
Jawaban itu membuat Eveline tersentak. “Oleh siapa?” tanyanya refleks, meski suaranya lirih.
Ken tidak langsung menjawab. Ia meraih salah satu buku, membuka halamannya asal, lalu menutupnya kembali. Gerakannya santai, tapi setiap detiknya menekan Eveline lebih dalam. “Aku hanya menjalankan perintah. Tugasku sederhana, memastikan kau berada di sini, sesuai rencana.”
Rencana. Kata itu menusuk Eveline. Siapa yang merencanakan? Dan untuk apa?
Matanya menatap Ken, mencoba mencari petunjuk. Tapi pria itu tetap tenang, seakan menikmati kebingungannya.
“Tujuanmu apa sebenarnya?” Eveline memberanikan diri, meski suaranya bergetar.
Ken menoleh, tatapannya lurus, dingin. “Tujuan itu bukan milikku untuk dijelaskan.”
Kata-kata itu bagai guncangan. Eveline terdiam, tubuhnya membeku. Jadi benar, Ken bukan dalang dari semua ini. Ada seseorang lain, jauh lebih berkuasa, yang sengaja merancang semua ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
WOUNDED
ChickLitRaisa, gadis lemah dan penurut yang hidupnya selalu ditindas, meninggal setelah menyelamatkan seorang anak kecil dari kecelakaan. Namun takdir memberinya kesempatan kedua, ia terbangun dalam tubuh Eveline Queenzy Smith, seorang mahasiswi yang ternya...
