Chapter 3

30.3K 2.1K 65
                                        

Author POV

Ketika pintu restoran terbuka, bunyi lonceng kecil berdenting halus. Aroma masakan hangat langsung menyambut hidungnya, bercampur dengan wangi kopi segar dan rempah yang khas.

Namun yang paling mencolok bukanlah interior restoran itu, melainkan dua sosok yang baru saja masuk.

Elara dengan gaun kasual anggun berwarna ivory, rambut terurai rapi, wajahnya yang tenang dan penuh percaya diri langsung menyedot perhatian. Di sebelahnya, Stella berjalan dengan wajah cemberut, bibirnya manyunnya tak kunjung hilang. Dress biru pastel dengan pita besar di dada, rambutnya yang dikuncir dua, menjulang tinggi di sisi kepalanya, kaus kaki putih panjang, dan sepatu mary jane hitam membuatnya terlihat bak boneka hidup. Menggemaskan.

Tapi bagi Stella, ini adalah aib besar.

Tangan Stella terus ditarik Elara, seolah ia anak kecil yang malas masuk sekolah. Namun Elara, mengabaikan wajah cemberut Stella, dia malah tersenyum penuh kemenangan.

"Leon!" seru Elara pelan ketika melihat seorang pria melambaikan tangan ke arahnya.

Leon sedang berdiri di balik meja yang ada dipojok restoran, dia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat tenang. Namun ketika matanya berpindah dari Elara ke Stella, tangannya perlahan turun. Alisnya terangkat, ekspresinya terlihat heran sekaligus tak percaya.

Sudah lama sekali ia tak melihat Stella berpakaian seperti itu. Karena akhir-akhir ini, Stella selalu berusaha tampil dewasa, berusaha meniru gaya Elara. Leon tahu, Stella menyukai Jacob, dan karena itu, gadis itu selalu memilih pakaian yang terlihat dewasa, seolah ingin menandingi Elara.

Dan selama Stella tidak bertindak kelewatan, Leon memilih diam dan tidak ikut campur.

Tapi kali ini-- gadis itu berdiri di hadapannya seperti anak kecil yang sedang dibawa jalan-jalan.

Stella bisa merasakan tatapan penuh teliti dari Leon. Rasanya perutnya mual, kepalanya panas. 'Apaan sih… ngeliatin sampe segitunya.' batinnya menggerutu. Ia lau melirik ke arah Elara dengan tatapan protes.

Elara pura-pura tak sadar, dia malah tersenyum tenang sambil menuntun Stella ke kursi yang ada dipojok restoran. "Duduk di sini ya, dek."

Dengan berat hati, Stella duduk. Tapi seluruh tubuhnya langsung menegang karena baru sadar, bahwa hampir semua orang yang ada di restoran saat ini sedang melihat kearahnya. Beberapa bahkan berbisik sambil tersenyum geli.

"Ini semua gara-gara kak Elara…" desis Stella pelan sambil meremas taplak meja dengan wajah kesal.

Elara meninggalkannya untuk menghampiri Leon. Mereka terlihat mengobrol ringan di dekat kasir. Sementara itu, Stella duduk sendirian, tangannya mengetuk meja dengan tidak sabar.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil muncul di hadapannya, sambil menyodorkan permen lolipop berwarna merah. Stella menoleh dengan cepat.

"Hah? Buat aku?" tanyanya terkejut, seraya menatap anak laki-laki yang terlihat berusia sekitar tujuh tahun, yang sedang berdiri kikuk di sampingnya.

Anak itu menganggukkan kepalanya  tanpa berani menatapnya kearah Stella. Telinganya terlihat memerah, wajahnya separuh disembunyikan di balik bahu kecilnya.

Stella berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengambil lolipop itu. "Eh… makasih ya." Dia tersenyum tipis, wajahnya masih menunjukkan kebingungan.

'Lumayan buat temen gabut…' gumamnya dalam hati.

Anak itu langsung kembali ke mejanya, di mana orang tuanya sudah menunggu. Dan alangkah terkejutnya Stella ketika melihat kedua orang tua anak itu diam-diam merekamnya menggunakan ponsel, wajah mereka penuh ekspresi gemas, bahkan terdengar lirih bisikan

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang