Chapter 2

34.8K 2K 61
                                        

Stella POV

Tok tok.

Ketukan itu membuat aku yang sedari tadi sedang sibuk mencak-mencak frustasi di kamar mendadak berhenti. Napasku masih tersengal karena habis teriak-teriak, rambut ku berantakan, wajah merah karena emosi. Dengan langkah yang setengah malas tapi penuh rasa penasaran, aku lalu melangkah mendekati pintu.

Begitu pintu terbuka, mataku langsung terbelalak.

Astaga.

Sosok yang berdiri di depanku itu benar-benar seperti keluar dari majalah fashion. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi, wajahnya lembut, matanya teduh, dan senyumnya… ah, senyumnya bisa bikin aku meleleh seketika. Dia adalah Elara, sang pemeran antagonis wanita di novel ini, sekaligus kakak tiri pemilik tubuh yang sekarang sedang kutempati.

"Stella," ucap Elara pelan dengan nada lembut.

Suara itu… serius, rasanya telingaku langsung berdenging. Aku seperti ditampar realita betapa berbeda kualitas karakter wanita sepertinya dengan cewek absurd yang tubuhnya sedang kutempati ini. Pantas saja Jacob tergila-gila padanya, auranya ajaib banget!

"Boleh kakak masuk?" lanjut Elara lagi, suaranya menenangkan tapi ada sedikit ketegasan.

Aku cuma bengong beberapa detik, terdiam mematung di depan pintu, sampai akhirnya aku cepat-cepat mengangguk kikuk.

"I-iya, boleh, kak."

Aku menyingkir memberi jalan. Elara masuk dengan tenang, lalu menutup pintu perlahan. Gerakannya elegan sekali, bahkan saat menutup pintu aja, nggak ada suara brak, beda banget sama aku yang kalau nutup pintu biasanya kayak orang banting kuali.

Kami berjalan ke arah kasur. Aku buru-buru duduk di ujung ranjang, mencoba bersikap santai. Elara menyusul, duduk di sampingku. Raut wajahnya terlihat serius, matanya menatapku seakan mau menembus isi kepalaku.

Aku tahu, pasti dia mau bahas soal kejadian kemarin. Tentang Stella yang nekat datang ke perusahaan Jacob pakai outfit norak. Menurut novel, Elara nggak pernah tahu setiap kali Stella yang asli pergi ke perusahaan Jacob. Tapi kemarin, sialnya, ada salah satu temannya Elara yang kebetulan lewat di depan gedung itu dan lihat Stella keluar dengan dandanan absurdnya.

Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri.

Elara meraih tanganku perlahan, menggenggamnya dengan hangat. "Dek, ada yang mau kakak tanyain. Kamu harus jawab jujur ya."

Tatapannya terasa dalam, lembut, tapi bikin aku gugup. Aku mengangguk pelan.

"Iya, kak."

Elara menatapku serius. "Apa kamu kemarin datang ke perusahaan Jacob?"

Aku berkedip sebentar, lalu mengangguk. Untuk apa bohong? Itu bukan ulanku, tapi ulah si Stella asli.

Elara menarik napas panjang, ekspresinya jelas khawatir. "Boleh kakak tahu… alasan kamu datang ke sana?"

Suara Elara benar-benar bikin aku terpukau. Bayangin aja, orang lagi nanya masalah serius, tapi nadanya masih selembut itu. Kalau aku yang nanya? Udah pasti suaranya naik dua oktaf plus pake gerakan tangan.

"Iseng," jawabku asal.

Ya gimana ya, aku buntu. Baru aja masuk ke dunia novel terus langsung ditodong pertanyaan kayak gini, mana aku sempat mikir.

Elara mengerjap kaget. "Iseng?" tanyanya memastikan.

Aku mengangguk, sambil tersenyum masam. "Yap, iseng. Hm, sekalian cuci mata, kak."

Elara lagi-lagi menghela napas panjang. Dia kayak udah terbiasa dengan jawaban Stella yang absurd. "Tapi… kenapa kamu berpenampilan kayak gini?" tanyanya lagi.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang