Chapter 1

75.5K 2.6K 23
                                        

Gedung kaca menjulang tinggi itu berdiri anggun di jantung kota. Logo perusahaan Leandros Corporation terpampang besar di dinding depan. Dari luar saja, bangunan itu sudah memancarkan aura dingin, dan penuh wibawa. Orang-orang dengan jas rapi berlalu-lalang masuk kedalam lobi, beberapa sambil membawa berkas, ada pula yang sibuk menempelkan ponsel ke telinga.

Namun suasana serius itu mendadak berubah aneh ketika pintu otomatis  terbuka.

Masuklah seorang gadis mungil dengan dress mini berwarna merah muda menyala. Dress itu terlihat kebesaran ditubuhnya, membuat tubuh mungilnya terlihat tenggelam. Alih-alih tampil seksi dan dewasa, ia justru tampak seperti anak kecil yang nekat menyusup ke lemari ibunya lalu mengambil gaun pesta dan memakainya, dan bersikeras keluar rumah.

Stella Auréliane Marzello, begitu ia menyebut dirinya. Nama yang terdengar indah, seindah harapannya untuk terlihat dewasa hari ini. Tapi kenyataannya… tidak seindah itu.

Cara jalannya saja tidak mencerminkan keinginannya, setiap dia melangkahkan kakinya-- tubuhnya selalu oleng-- seperti anak bebek yang baru belajar melangkah di jalan licin.

Tumit sepatunya mengeluarkan tok-tok tidak mantap. Wajahnya dipenuhi ekspresi congkak, dagunya terangkat tinggi, alisnya sedikit mengerut, ia merasa penampilannya saat ini, seperti seorang putri bangsawan. Tapi nyatanya, kedua pipinya yang menggembung justru membuatnya lebih mirip hamster yang terlihat kesal daripada seorang putri bangsawan.

Beberapa karyawan yang kebetulan berada disekitarnya, spontan menutup mulutnya, menahan tawa.

"Astaga… itu anak siapa?" bisik seorang pria bersetelan abu-abu.

"Dress mini… tapi kok jadi kayak baju gorden di badan dia?" balas temannya, hampir tersedak tawa.

"Ssst! Jangan keras-keras, nanti dia denger."

Stella terus berjalan, mengabaikan tatapan orang-orang. Lipstik merahnya tebal dan agak belepotan, membuat bibir mungilnya mencolok sekali. Orang-orang yang ada di sekitarnya, sampai harus menggigit lidah mereka agar tidak menyemburkan tawa.

Stella lalu berjalan mendekat kearah meja resepsionis. Di sana, ada dua wanita berpenampilan rapi-- mereka berdua sedari tadi terus memperhatikannya.

Keduanya adalah Clarisse dan Helena, resepsionis di perusahaan itu. Begitu Stella berhenti di hadapan mereka, Clarisse dengan cepat menutup bibirnya dengan tangannya, sementara Helena menunduk pura-pura mengetik di komputer. Tapi tawa kecil tetap lolos dari bibirnya.

Stella menatap mereka tajam.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Clarisse, suaranya bergetar karena menahan tawa.

Stella mendengus.

"Ruangan kak Jacob di lantai berapa?" tanyanya dengan nada sinis.

Helena melirik Clarisse dengan raut bingung.

"Jacob?"

Stella mengangkat dagunya lebih tinggi.

"Iya, Jacob. Yang punya perusahaan ini!"

Clarisse berkedip beberapa kali, lalu akhirnya menganggukkan kepalanya.

"Oh, maksudnya Tuan Jacob Leandros?"

"Iya, itu maksud aku!"

Helena tersenyum tipis, mencoba profesional.

"Maaf, kalau boleh tahu… adik ini siapanya tuan Jacob?”

Stella tiba-tiba terdiam.

'Aduh… aku ini siapa, ya? Masa aku bilang kalau aku itu adiknya pacar kak Jacob? Atau bilang calon pacar? Nggak mungkin… nanti kalo ada yang kenal sama kakak gimana? Terus kalo dia ngadu ke kakak-- bisa habis aku, bisa mati ditempat kalau kakak tahu.' batin Stella resah.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang