Deru mesin sepeda motor meraung membelah keheningan malam Jakarta. Suara itu bukan sekadar bising, melainkan melodi yang familier bagi para penghuni kota yang tidak pernah tidur. Di depan rombongan motor yang bergerak layaknya ular raksasa, melaju sosok di atas motor gede berwarna hitam doff. Tubuhnya tegap, jaket kulit hitamnya berkilauan di bawah cahaya lampu jalan, dan helmnya yang tertutup menyembunyikan ekspresi di balik visor gelapnya. Dia adalah Rony, ketua geng Black Cobra, penguasa jalanan di sektor selatan.
Rombongan itu berhenti di sebuah gudang tua, markas mereka yang dikenal sebagai "Sarang Cobra". Gerbang besi berkarat terbuka, memperlihatkan interior yang penuh dengan motor-motor kinclong, peralatan bengkel, dan poster-poster balapan. Lampu neon berwarna hijau-keunguan menyinari wajah-wajah yang menoleh ke arah Rony. Mereka adalah anggota Black Cobra, sekelompok pemuda yang bukan hanya mencari sensasi, melainkan juga loyalitas dan persaudaraan.
"Ada apa, Rony?" tanya Dion, wakil ketua Black Cobra, saat Rony melepas helmnya. Wajah Rony, yang biasanya terlihat tenang, kini memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Kita akan melakukan patroli malam ini. Seluruhnya," jawab Rony, suaranya dalam dan berwibawa. Mata anggota geng langsung melebar. Patroli seperti ini jarang dilakukan, menandakan adanya sesuatu yang penting.
"Ada yang tidak beres," lanjut Rony. "Semalam, Budi melihat motor asing di perbatasan wilayah kita. Lambangnya bukan dari geng lain yang kita kenal." Budi, seorang anggota muda yang dikenal karena kepekaannya, maju ke depan. "Benar, Bang Rony. Motornya kotor, knalpotnya aneh. Dan ada stiker elang di tangki bensinnya. Kayak lambang The Vultures."
Dion mendengus. "The Vultures? Mereka geng kecil yang cuma bisa bikin onar, Rony. Mereka tidak selevel dengan kita."
Rony menatap Dion dengan tajam. "Jangan remehkan siapa pun di jalanan ini, Dion. Musuh yang paling berbahaya adalah yang tidak kita kenal. Kita akan periksa perbatasan, pastikan mereka tidak berani melangkahi garis batas kita."
Rony kembali memakai helmnya. Mesin motornya meraung, diikuti oleh motor-motor lain. Malam itu, mereka berpatroli dengan formasi yang sempurna. Rony memimpin di depan, dengan Dion di sampingnya, dan sisanya membentuk formasi V yang rapi. Gerakan mereka seakan telah dilatih selama bertahun-tahun, mencerminkan disiplin yang ditanamkan oleh Rony. Rony bukanlah pemimpin yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Dia adalah otak di balik setiap strategi Black Cobra. Dia tahu bahwa di jalanan, kecerdasan jauh lebih berharga daripada otot. Gengnya berkembang bukan karena intimidasi, melainkan karena mereka disegani. Mereka tidak pernah memulai pertarungan, tapi mereka selalu siap untuk menghadapinya.
Mereka tiba di sebuah jembatan layang yang menjadi perbatasan wilayah mereka dengan wilayah geng lain. Rony memerintahkan semua motor untuk berhenti. Di bawah jembatan, sebuah grafiti baru terlihat. Bukan coretan biasa, melainkan gambar elang yang merentangkan sayapnya, mencengkeram lambang Black Cobra yang disilang.
"Mereka berani sekali," geram Budi. Anggota lain mulai berteriak, marah.
Rony turun dari motornya dan mendekati grafiti itu. Dia melihat dengan teliti, bukan hanya lambangnya, tapi juga detail dari sapuan catnya. "Mereka bukan hanya berani," kata Rony tenang, "tapi juga ceroboh. Mereka ingin kita marah, ingin kita merespons. Mereka memprovokasi."
"Jadi kita harus apa, Rony? Kita harus beri mereka pelajaran!" seru Dion, mengepalkan tangannya.
"Tidak. Kita tidak akan merespons. Tidak sekarang," jawab Rony. "Mereka ingin kita masuk ke dalam permainan mereka. Kita akan mengamati. Kita akan biarkan mereka berpikir kita tidak peduli." Rony kembali ke motornya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan di seberang jembatan. "Garis batas ini adalah milik kita. Kita tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya. Tapi kita akan bertarung di waktu dan tempat yang kita pilih. Bukan di waktu dan tempat yang mereka inginkan."
Keputusan Rony membuat beberapa anggota kebingungan, namun mereka semua tetap mematuhinya. Mereka percaya pada Rony, pada nalurinya yang tidak pernah salah.
Patroli dilanjutkan, kali ini dengan tujuan lain: mengamati pergerakan The Vultures tanpa harus berinteraksi. Rony memimpin tim kecil untuk menyusup ke wilayah yang bukan milik siapa-siapa, wilayah yang biasa digunakan untuk balapan liar. Di sana, mereka menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar grafiti. Mereka melihat sekelompok pemuda dengan jaket yang memiliki lambang elang yang sama. Motor mereka berderet di pinggir jalan, dan mereka terlihat sedang menunggu sesuatu.
"Itu mereka, Rony," bisik Budi. "Tipe mereka kotor. Lihat cara mereka berpakaian."
Rony melihat seorang pria bertubuh besar dengan tato elang di lehernya. Pria itu memberikan instruksi kepada anak buahnya dengan gerakan-gerakan kasar. Rony tahu, dia bukan tipe yang hanya mencari hiburan di jalanan. Ada ambisi yang lebih besar di matanya.
"Mereka bukan hanya geng, Dion. Mereka seperti militer. Ada struktur, ada pemimpin yang jelas," bisik Rony kepada Dion. "Mereka mengincar wilayah kita, dan mungkin juga wilayah The Phoenix."
Nama The Phoenix, geng motor yang dipimpin oleh Nabila, terlintas di benak Rony. Rony tidak pernah berinteraksi langsung dengan Nabila, tapi ia sering mendengar namanya. Nabila dikenal sebagai pembalap handal dengan keberanian di atas rata-rata. Hubungan antara Black Cobra dan The Phoenix adalah persaingan, bukan permusuhan. Mereka saling menghormati batas masing-masing.
Tiba-tiba, seorang anggota The Vultures menyadari keberadaan mereka. "Sial!" umpat Dion. "Mereka melihat kita."
Rony dengan cepat memberikan isyarat kepada timnya. Mereka memutar motor mereka dan melesat pergi. Pria bertato elang itu berteriak, memerintahkan anak buahnya untuk mengejar. Deru mesin Black Cobra kembali menderu, tapi kali ini dengan kecepatan penuh. Rony memimpin mereka dalam manuver-manuver berbahaya, meliuk-liuk di antara mobil-mobil yang melaju, hingga akhirnya mereka berhasil meninggalkan The Vultures.
Kembali di Sarang Cobra, ketegangan terasa. "Mereka hampir saja menangkap kita, Rony!" seru Budi, napasnya tersengal.
Rony mengangguk. "Itulah mengapa kita harus lebih berhati-hati. Ini bukan lagi permainan." Ia menoleh ke arah Dion. "Kita harus memperkuat pertahanan. Latih anggota kita untuk lebih cepat, lebih cerdas. Aku tidak ingin ada satu pun dari mereka yang terluka."
Dion mengangguk setuju. Ia melihat tekad di mata Rony yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Apa yang akan kita lakukan dengan The Phoenix?" tanya Dion.
Rony terdiam sejenak. Ia melihat peta wilayah di dinding markas. Wilayah Black Cobra dan The Phoenix saling berbatasan. Jika The Vultures berhasil menembus salah satunya, yang lain akan menjadi target berikutnya. "Untuk saat ini, kita akan mengamati mereka. Kita akan melihat bagaimana The Phoenix merespons ancaman ini. Tapi aku merasa, cepat atau lambat, kita akan berada di posisi yang sama," jawab Rony.
Malam semakin larut, namun tidak ada satu pun anggota Black Cobra yang tidur. Rony, sang pemimpin, berdiri di depan motornya, membersihkan debu-debu yang menempel. Pikirannya melayang. Ia tahu, masa tenang di jalanan telah berakhir. Musuh baru telah datang, dan kali ini, mereka tidak bisa bertarung sendirian. Babak baru dalam perang jalanan telah dimulai, dan Rony tahu, takdirnya akan beririsan dengan sosok yang sama-sama berkuasa: Nabila, sang Ratu Aspal.
