21. ࿔prince xiel࿔

9.9K 573 26
                                        

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

Suasana pagi di mansion D'lucifer begitu tenang. Semua anggota keluarga berkumpul dan duduk rapi di ruang keluarga setelah menyelesaikan ritual sarapan. Tak ada percakapan semua tatapan tertuju pada bayi singa mereka.

Xiel duduk meringkuk di sofa singel, dengan masih menggunakan baju tidur berbulu lembut, tangan mungil itu menggenggam erat botol susunya. Bibir mungil mencebik dengan sekekali mencuri pandang ke arah sang Daddy.

Xavier menghela nafas dalam, ekspresi dinginnya tak goyah. "Baby... dengar Daddy hanya kekantor. Setelah selesai Daddy akan pulang."

Tapi bagi Xiel, kata “kantor” sama saja dengan “meninggalkan”. Xiel menggeleng keras. Merentangkan kedua tangan mungilnya, berharap sang Daddy mendekat dan memeluknya.

Xavier mendekat ke arah Xiel. Tangannya terulur dan mengangkat sang anak ke dalam gendongannya, lalu kembali ke tempatnya semula dengan Xiel yang telah berada dalam pelukannya.

Kedua tangan mungil Xiel melingkar erat seperti koala kecil. "Daddyyy! Jangan pergi! Xiel janji nggak nakal... jadi anak manis hari ini untuk Daddy... tapi jangan pergi, yaa."

Xiel mendongak menatap sang Daddy. Mata bulat itu mulai basah, wajah memerah samar, suara rengekan itu melengking manis, manja, penuh rayuan.

Seluruh keluarga mendengus keras menyaksikan bayi singa mereka yang begitu lengket kepada pria tua Xavier itu.

Namun Xavier tak goyah. Ia menunduk, jemarinya menyingkirkan tangan mungil itu, dan segera menyerahkan xiel kepada Kenzo, yang berada tepat di sampingnya. "Ya, bayi memang harus menjadi anak yang manis," kedua tangan besarnya menangkup wajah bulat Xiel. "Dengarkan Daddy. Daddy harus pergi sebentar. Bayi-nya Daddy akan baik-baik saja di rumah bersama Mommy."

Xiel terdiam sepersekian detik, lalu—
"Nooooo!!! Adek nggak mau!!! Adek mau Daddy!!!"

Tangisnya pecah. Tangis keras, tinggi, seperti bayi. Tubuh mungil itu bergetar hebat, air mata jatuh tanpa henti, ia menjerit, mencoba meraih Xavier, tapi tubuhnya di peluk erat oleh Kenzo dan Daddy tetap berdiri tegak dengan wajah dingin.

Anne langsung berdiri, mencoba mendekat. "Sayang, jangan menangis seperti ini... Daddy akan pulang setelah pekerjaannya selesai."

Tapi Xiel menepis pelan tangan Mommy Anne. "NOOOO! Adek mau Daddy!!!"

"Prince Xiel." Kenzo mencoba memperingati Xiel, Ia takut tubuh mungil itu jatuh atau kesakitan karena terus memberontak.

Lionel, langsung menghampiri, mengangkat tubuh mungil itu dan mendekapnya dengan erat. "Adek, lihat Mamas. Mamas di sini. Jangan menangis seperti ini hmm."

Namun Xiel semakin berontak, tangannya masih mencoba meraih Xavier yang telah melangkah. "Turunin!!! Adek mau Daddy."

Vincent dan Harvey, menunduk dalam, tangan mereka mengepalkan erat, wajah mereka menegang, mereka cemburu.

Kenzo dan Darren ikut mendekat, mencoba membujuk dengan kata-kata lembut.
"Adek... Daddy hanya sebentar. Setelah Daddy pulang rantai saja kedua tangannya hmm..."
"Ayo, Adek suka es krim bukan nanti akan ka Leon berikan. Tapi berhenti menangis..."

Namun tangisan itu tidak berhenti. Tubuh mungil Xiel terus berusaha meraih Xavier.

Xanara yang sedari tadi diam mulai mendekat. "Kemarikan." tanpa kata Lionel memberi Xiel kepada Xanara.

Xiel yang tadinya memberontak mulai tenang walau tangisnya tetap melengking keras.

Xanara membelai lembut wajah memerah sang kembaran. "Heyy... Tenanglah adik kecil."

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang