𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Beberapa jam berlalu. Kamar sunyi, hanya suara detak jam dan nafas kecil Xiel teratur yang terdengar. Tubuh mungil dengan balutan onesie singa itu meringkuk di dalam selimut, boneka dipeluk erat di dada.
Perlahan, tubuh kecil itu bergerak gelisah. Aliran hangat mulai merembes tanpa di sadari oleh pemilik tubuh.
Xiel menggeliat kecil, wajahnya merona dalam tidur. Botol susu masih berasa di dalam mulut, suara lirih terdengar...
mmmhhhh
Tanpa kendali, air seni mengalir membasahi onesie lembut dan selimut.
Dalam tidurnya, Xiel merasa aneh – hangat, lembab, dan membuatnya semakin resah. Hingga akhirnya matanya terbuka pelan.
"Emmm...?" ia tertegun, menoleh ke bawah. Selimut di sekelilingnya basah, onesie kuningnya menggelap di bagian bawah. Wajahnya seketika pucat.
"Ap-apa... ini..." air mata perlahan mengalir deras. "Xiel pipis... tapi Xiel sudah besar... kenapa ?"
Isakan lirih terdengar, tubuh mungil itu bergetar, tangan kecilnya berusaha menutup noda basah di onesie. Kepanikan semakin bertambah ketika ia mendengar langkah kaki yang semakin dekat.
Tak lama pintu kamar terbuka. Roger masuk pertama kali, diikuti Gerald dan Papi Silas.
Serentak tatapan mereka jatuh ke kasur, selimut, dan xiel yang basah. ( ambiguuu woyyyy )
Xiel menjerit kecil, menutupi wajah dengan batal. "NOOOO!! Jangan look-look Xiel! Padahal Xiel bisa... tapi ke-kenapa keluar sendiri!"
Roger menghampiri, mengusap lembut kepada xiel. "Shhhh... tenang, adek. Ini sesuatu yang wajar untuk bayi, seperti mu."
Xiel menggeleng, membantah pernyataan Roger. "Xiel... sudah dewasa! Xiel sudah 22 tahun... Nggak boleh pipis sembarangan."
Gerald tertawa rendah, tatapannya tajam namun penuh godaan. "Menolak pernyataan. Bayi lihat lah dirimu sendiri, kau basah oleh pipis mu sendiri. Dan kau tau itu tidak mencerminkan pria dewasa sama sekali, perilaku seperti itu hanya di miliki seorang bayi."
Tangisan Xiel semakin keras, wajahnya memerah padam. Sulit menerima kenyataan.
Roger mengangkat tubuh mungil itu dari ranjang. Onesie kuningnya basah, cairan menetes di lantai. Xiel meringkuk, wajahnya menempel di dada Roger sambil terisak.
"Xiel malu sekali... jangan bilang ke siapa-siapa... pleaseee..." suaranya nyaris terputus
"Adek, Tenang." Roger duduk di sofa besar, memangku tubuh mungil itu. Tanpa perduli akan dirinya yang ikut basah. "Rahasia ini tidak akan bocor, adek. Tapi harus kau ingat, bahwa ini bukan pilihan. Tapi keharusan yang harus kau terima."
Xiel masih tetap pada pendiriannya. "Xiel... sudah dewasa..."
Papi Silas akhirnya berbicara, suaranya datar dan penuh kuasa. "Prince kecil. Kau tidak punya hak untuk memilih. Tubuhmu telah membuktikan. Bahwa kau adalah bayi. Bayi kecil yang butuh penjagaan."
Xiel menutup wajah dengan kedua tangan mungilnya. Bahunya terguncang karena tangis. " Xiel... bukan bayi Papi..."
Roger berdiri, membaringkan tubuh kecil itu di meja ganti. Gerald telah menyiapkan popok tebal, bedak, krim anti ruam, minyak telon, onesie, tisu basah dan kering.
"Lihatlah, bayi." Gerald mengangkat popok itu di depan wajah memerah Xiel. "Ini bukan hukuman. Ini memang sudah keharusan. Dan seharusnya benda ini penyelamatmu. Karena jika tidak, kau akan tidur di ranjang basah setiap malam."
Air mata jatuh semakin deras. Tapi kali ini, Xiel tidak lagi menendang dan meronta. Tubuh mungilnya terasa begitu lemah.
Roger membuka onesie basah dengan hati-hati, membersihkan tubuh kecil itu dengan tisu basah dan kering. Setiap sentuhan lembut terasa seperti cambukan rasa malu bagi Xiel.
Lalu, mengoleskan krim anti ruam di area tertentu dan popok tebal di selipkan di bawah pinggul mungilnya. Perekatnya ditutup rapat. Tubuh kecil itu kini terbungkus rapi, bagaikan bayi.
"Begini lebih baik." Roger menepuk perut kecil yang tertutup popok, lalu membaluri tubuh itu dengan minyak telon dan bedak dan memasangkan onesie baru dengan motif bintang-bintang.
Xiel meringkuk, wajahnya memerah padam, botol susu kembali di masukan ke mulutnya.
Papi Silas mendekat, lalu menunduk menatap dengan dingin dari atas. "Sekarang lihat dirimu, Prince. Kau tak lebih dari seorang bayi lemah, yang tak bisa melakukan apapun sendiri. Kau harus menerima kenyataan, Prince. Karena tidak ada pria dewasa yang lemah seperti mu. Kau adalah bayi. Bayi singa kami hm."
Tubuh mungil itu semakin meringkuk, tangisan lirih terdengar, namun tubuh mungil itu tidak melawan. Tangannya memeluk boneka singa erat-erat.
Dan untuk pertama kalinya, Xiel tak dapat mengelak.
𖦹𖦹𓇼𖦹𖦹
Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, menerangi kamar luas itu. Xiel menggeliat kecil, boneka singa masih berasa dalam dekapan eratnya. Botol susu bahkan hampir terlepas dari mulut mungilnya, wajahnya terlihat damai. Sampai tubuhnya merasa tak nyaman akibat rasa hangat dan berat di bawah tubuhnya.
Xiel membuka mata perlahan. Saat ia sadar, tubuh mungilnya kaku seketika. Popok tebal yang semalam di pakaikan... terasa lembab, berat, dan penuh.
"Semalam bukan mimpi..." bisiknya dengan suara serak. Tangannya bergetar, terulur kebawah mencoba memastikan. Dan benar saja, popok itu menggembung, hangat, dan membuatnya ingin menangis lagi.
Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. "Xiel... pipis lagi."
Ketika ia masih terkejut, pintu kamar terbuka, Roger masuk dengan langkah tenang, diikuti Gerald yang membawa nampan berisi botol susu hangat, biskuit, dan bubur MP-ASI, serta papi Silas yang seperti biasa duduk di sofa dan memperhatikan dengan sorot dingin.
Roger mendekat, menyapa dengan suara lembut. "Selamat pagi, bayi. Tidurmu nyenyak?"
Xiel buru-buru menutup wajah dengan tangan kanannya dan menutup bagian bawahnya yang menggembung dengan tangan kirinya, tubuh mungil itu bergetar. "Jangan lihat... Xiel malu... ini – ini penuh..."
Gerald tersenyum tipis, meletakkan nampan di meja. "Hmmm... tentu saja penuh. Itulah gunanya popok, bukan? Agar ranjangmu tidak basah lagi."
"Nooo. Xiel nggak suka... Xiel sudah besarkan?" tanya Xiel, suaranya serak. Mulai meragukan dirinya sendiri.
Papi Silas tersenyum kecil, menggeleng kecil. Lalu berbicara, suaranya seperti vonis yang tak terbantahkan. "Besar? Tidak. Jika sudah besar kau tidak akan bangun dengan Popok yang penuh seperti ini. Lihatlah dirimu, Xiel. Bukan hanya popok, tapi juga botol susu dan onesie? Dan itu cukup menjelaskan bahwa kau jelas masih bayi."
Tubuh mungil itu semakin bergetar, tangisnya pecah, dengan wajah yang memerah hebat.
☘︎☘︎☘︎
TBC..
Yapppp!!!
jadi ini alasan xiel ga pernah dewasa
karena setiap dia udah mulai nakal
Xiel bakal di reset lagi pakai sugesti manipulatif
biar selama-lamanya dia jadi bayiiii
sejauh ini masih oke kan??
Bye bye💐💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
