17. ࿔prince xiel࿔

10.2K 599 15
                                        

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

Roger membawa Xiel menuju kamar besar yang berada di lantai lima atau menara mansion. Kamar itu bukan kamar biasa, kamar itu adalah kamar yang sengaja di sedia untuk Xiel. Kamar besar dengan dinding berwarna biru yang di hiasi bintang kecil, ranjang bayi raksasa, lemari penuh onesie warna pastel, rak besar berisi botol susu berbagai bentuk dan ukuran, serta perlengkapan lainnya. Semuanya disiapkan khusus untuk Xiel.

Begitu pintu raksasa itu tertutup, Roger meletakkan Xiel di ranjang bayi. Tubuh mungil itu segera merangkak mundur, tubuhnya bergetar.

"Lepaskan Xiel... Xiel mau pulang..." pinta xiel, dengan suara serak.

Tidak mendengarkan permintaan Xiel, Gerald segera mendekat sambil membawa rantai tipis berlapis beludru biru. "Adek tidak boleh pulang. Adek akan tinggal di sini."

Xiel menatap benda itu, seketika wajahnya pucat. "Ja- jangan... Xiel bukan tahanan..."

"Bukan tahanan." Roger menjawab datar. Ia menarik pergelangan kaki mungil Xiel, lalu memasangkan gelang rantai itu dengan tenang.

Klik

Dan rantai itu menempel dengan sempurna di pergelangan kaki putih Xiel.

Xiel menjerit kecil, mencoba menendang, tapi rantai itu segera di hubungkan ke sisi ranjang bayi. "Itu untuk keamananmu, adek." Roger menatap dingin. "Kalau tidak, kau akan berlari. Dan Bayi singa tidak boleh lari dari Abang."

Xiel menggeleng ribut. "Xiel adalah kakak," jelas Xiel sambil menunjuk dirinya sendiri. "Dan Roger adalah adek."

Dan di balas gelengan tegas oleh Roger.

Seketika tangis kecil langsung pecah dari bibir mungil Xiel. Ia berusaha menutup wajahnya dengan tangan, namun Roger menahan kedua tangan mungil itu. "Shhh... tenanglah. Adek hanya perlu duduk manis. Kaki itu tidak akan membawamu kemanapun untuk seterusnya."

Lalu Roger membuka kotak hitam kecil. Di dalamnya, terdapat suntikan berisi cairan merah muda bening. Jarumnya tipis, setipis helai rambut.

Mata Xiel seketika membulat. "NOOO... jangan itu... Xiel tidak suka!" Xiel meronta, menarik rantai, tapi tubuh mungilnya tak punya tenaga.

Roger segera mendekat, mengambil kaki mungil itu dengan hati-hati. "Adek, tenang hmm. Ini bukan racun. Ini hanya obat agar tubuh mu aman, agar kau tidak terluka percayalah. Hanya agar kaki kecil itu tidak berlari untuk kabur."

Xiel menggeleng cepat, air matanya jatuh semakin deras. "Xiel tidak akan kabur! Xiel janji! Roger, please... Jangan suntik..."

Namun Gerald sudah menahan paha putih itu dengan lembut, sementara Roger menusukkan jarum itu dengan gerakan cepat namun presisi seakan ia adalah seorang ahli.

"ARGHHHHH!" jeritan Xiel pecah, tubuhnya bergetar, wajahnya merah. Cairan hangat masuk (hayooooolooooo mikirin apaaaaa 🤭)  ke dalam kakinya, dan perlahan otot-otot mungil itu melemas.

Dalam beberapa menit, Xiel terisak, mencoba mengangkat kakinya — namun gagal. Kedua kakinya benar-benar lemah, hanya bisa bergerak sedikit.

"Lihat? Aman bukan." Roger mengusap pipi bulat itu dengan lembut. "Sekarang adek telah menjadi bayi. Bayi tidak bisa berjalan. Bayi hanya digendong."

Xiel menutup wajahnya, tangisan lirih lagi-lagi keluar. "Xiel adalah Kakak... Xiel bukan Adek apalagi bayi... Xiel tidak sukaa..."

Setelah kaki mungil itu lumpuh total, Gerald mengangkat tubuh kecil Xiel dan mendudukkan Xiel di pangkuannya. Roger segera mengambil mangkuk kecil berisi Bubi MP-ASI. Sendok plastik bergambar singa di sodorkan. "Buka mulutmu."

Xiel menggeleng menolak, Xiel akui dirinya memang menyukai bubur tetapi bukan yang sejenis MP-ASI seperti ini. Itu tidak enak, Xiel tidak suka.

Tetapi Gerald dengan lembut menekan pipi Xiel hingga terdapat cela dan dengan cepat menyuapkan bubur sendok demi sendok. Suara isakan kecil terdengar setiap kali bubur masuk, hingga semangkuk bubur pun habis. Dan Gerald sesekali mengusap pipi bulat itu dengan tisu, seperti memperlakukan bayi yang berantakan.

Roger mengangkat botol susu. "Penutup. Habiskan, adek."

Xiel segera memalingkan wajahnya mencoba menghindar. Kedua matanya berkaca, menatap dengan ketakutan.

"Xiel bisa minum sendiri…" suaranya lirih, putus asa. Xiel menyukai susu dalam botol, tetapi tidak dengan paksaan seperti ini.

Namun Silas yang sedari tadi duduk diam di sofa, menepuk pangkuannya. "Kemari."

Gerald tanpa ragu menyerahkan Xiel. Tubuh mungil itu langsung kaku, tapi tak punya kekuatan melawan ketika Papi Silas  menggendongnya dengan posisi menyamping —seperti bayi sungguhan.

"Buka mulut." suara Silas tegas, tak menerima penolakan.

Xiel menutup bibir rapat-rapat, menunduk sambil menggeleng pelan. Tapi Silas tetap menempelkan ujung botol susu ke bibirnya. Dengan dingin dan sabar, ia menekan sedikit, membiarkan tetes susu hangat membasahi bibir mungil itu.

Lidah Xiel refleks bergerak. Dan tanpa sadar, mulutnya terbuka kecil.

Botol susu segera dimasukkan, dan cairan manis mengalir ke tenggorokannya. Xiel menutup mata, air matanya jatuh, namun mulutnya tetap meminum susu itu dengan patuh.

"Ya. Seperti itu" suara Papi datar, tanpa emosi. "Bayiku hanya perlu minum, diam, dan tenang."

Roger berdiri di samping, melihat dengan tenang. Gerald yang bersandar di dinding bahkan tersenyum tipis, menyaksikan bagaimana Xiel yang keras kepala tadi kini tersungkur pasrah dalam pelukan dingin sang Papi.

Xiel berusaha bicara di sela isapan, tapi suara tangisnya teredam susu. Akhirnya, ia hanya bisa menutup mata, membiarkan cairan itu memenuhi dirinya, hingga botol benar-benar habis.

Saat selesai, Papi mengangkat tubuh mungil itu, menepuk punggungnya perlahan. "Sendawakan."

"Ng… nggak perlu… Xiel bukan bayi" Xiel berbisik.

Tepukan itu tetap diberikan, ritmenya tenang. Hingga suara sendawa kecil keluar dari mulut Xiel. Pipi mungilnya semakin merah karena malu, sementara Papi hanya mengangguk tipis.

"Patuh seperti ini. Itulah satu-satunya cara agar kau tetap aman, Prince."

"Ini hukumanmu, Adek. Seterusnya kau akan tetap menjadi bayi. Kau hanya harus tidur, makan, pipis, bermain, dan menangis. Dengan rantai dan kaki yang lumpuh. Sampai kau benar benar mengerti bahwa kau bukan pria dewasa. Kau hanyalah bayi singa kecil, yang harus selalu menuruti aturan bukan membangkang."

Dan Xiel menyerah, tertidur di dekapan hangat Silas. Tubuhnya terkurung dalam rantai, kelembutan dan penjara cinta yang dingin dan penuh obsesi.

☘︎☘︎☘︎
TBC..

aku kembaliiiiiiii......
hihihihhi kalian masih nunggu kann??

setelah baca komen kalian,
aku mutusin ga jadi revisi.
karena ternyata banyak yang suka jugaaa(⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠) senangnya dalam hatiii (⁠^⁠3⁠^⁠♪

dan terimakasih 55k readers🌷🌷
ga espek yang suka ternyata banyak

terimakasih yaaa kalian 💐💐
kalian baik banget lohh
aku ikut semangat jadinyaaa...

Okeeeee dehhh segitu ajaaaa duluuu
takut kalian bosennnn😣😖

Bye bye💐💐



Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang