16. ࿔prince xiel࿔

9.9K 549 9
                                        

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

Ruang makan keluarga D’Lucifer senyap, hanya suara sendok beradu dengan piring. Semua anggota keluarga duduk di kursinya masing-masing, aura dingin khas mereka memenuhi ruangan. Namun satu kursi masih kosong—kursi kecil berlapis beludru putih, kursi milik Xiel.

"Mana Prince?" Gumam Oma Aurora.

Jawaban segera terdengar. Tiba-tiba, dari bawah meja terdengar suara...

Sret.....sret....sret....

Darren yang duduk di sisi kanan tiba-tiba mengangkat taplak. Dan di sanalah… Xiel dengan tubuh basah kuyup ditemani singa kecil dan boneka lucu, sedang duduk meringkuk sambil memegang tiga batang cokelat besar. Pipinya belepotan, mulutnya penuh, dan matanya berbinar polos.

"Xiel…" suara Darren berat, menahan amarah.

Xiel terlonjak. "E-eh! nggak… Xiel nggak makan banyak kok! Ini cuma… sedikit aja! Cimi yang makan.." katanya dengan nada polos, dengan tangan menunjuk singa kecil dan matanya berkaca-kaca takut dimarahi.

Lionel menunduk dari kursinya, sorot mata dingin menusuk tidak menerima alasan tak logis Xiel. "Keluar dari sana."

Xiel menggeleng cepat, memeluk batang cokelat erat ke dadanya. "Tidak mau! Xiel janji akan makan sayur nanti! Jangan marah ya… please…"

Suasana jadi tegang. Harvey mendengus pendek, lalu menyeringai. "Sepertinya Kaka memang sangat merindukan D'arcy yaa...."

Xiel menegang. "Ja-jangan... jangan Roger hikss..." suaranya lirih.

Lionel mengeluarkan ponselnya tanpa ekspresi. "Groger. Ke mansion. Sekarang."

Xiel langsung panik. Ia merangkak mundur ke dalam kolong meja, tubuh mungilnya gemetar. "Noo... jangan Roger... Xiel minta maaf... Mamas noo. Xiel tidak suka di sana tolongg..."

Namun sudah terlambat. Beberapa menit kemudian, pintu ruang makan terbuka. Roger masuk. Sosok yang dipercaya keluarga D’Lucifer untuk “menjinakkan” bayi singa mereka.

Roger menghampiri Xiel dan membelai rambut basah tersebut dengan lembut. Senyumnya tipis saat menunduk menatap ke arah meja. "Apa lagi kali ini?"

Xiel langsung merangkak keluar, berusaha lari. Tapi Vincent cepat bergerak, mencengkeram pinggang mungilnya dan mengangkatnya dengan mudah. "Kaka sangat nakal."

Xiel meronta, wajahnya merah padam. "Vie, jangan! Xiel nggak mau sama Roger, di sana pasti ada Papi sama Gege kan... Xiel nggak suka!" suaranya pecah, air mata jatuh.

Harvey tertawa gelap, menepuk lembut kepala Xiel. "Tapi Kaka begitu nakal, artinya Kaka merindukan mereka. Kaka pikir kami tega menghukum Kaka? Noo, D'arcy lebih tau caranya."

Roger mendekat, tangannya yang panjang menyentuh lembut pipi belepotan cokelat itu. "Kaka, tenang lah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan menjagamu… seperti bayi singa satu bulan yang manis.”

"Noo… jangan sentuh Xiel…" Xiel menangis kecil, wajahnya merah, tubuh mungilnya meringkuk dalam dekapan Vincent.

Lionel berdiri, membuka pintu dengan gestur perintah. "Bawa."

Maka, dengan tubuh yang masih meronta, Xiel pun diserahkan pada Roger. Pemuda mungil itu meratap panik, tangannya meraih Vincent dan Harvey, tapi kedua saudaranya hanya menatapnya dingin.

Aurora menyesap tehnya pelan. "Biarkan D'arcy yang mengurus. Karena jika kita yang menghukum, Xiel bisa rusak. Hanya D'arcy yang bisa menjaga kemurniannya."

Dan dengan itu, Roger menggendong Xiel seakan boneka mungil yang rapuh. Tubuh kecil itu terus meronta, tangisnya bergema.

𖦹𖦹𓇼𖦹𖦹

Mobil hitam panjang melaju menembus kabut senja. Roger menyetir dengan tubuh mungil Xiel  dipangkunya, tubuh mungil itu meringkuk seperti anak kecil, wajahnya masih belepotan cokelat. Ia memeluk erat hoodie Roger, gemetar, matanya berkaca-kaca.

"Jangan bawah Xiel ke sana… Xiel takut Roger…" suara Xiel lirih, nyaris tercekik tangis.

Roger hanya terkekeh kecil, jemari panjangnya menepuk pelan paha mungil Xiel. "Kau tahu, kaka. Kalau kubiarkan keluargamu yang menghukum tubuh kecilmu ini, kau akan hancur. Mereka terlalu mencintaimu sampai bisa kehilangan kendali. Lebih baik aku yang mengurus."

Xiel menggeleng cepat, air matanya jatuh. " Tapi Xiel takut… di sana ada Papi… ada Gege… mereka seram… seperti hantu…"

Roger menurunkan pandangan, dan tersenyum samar. "Mereka tidak jahat. Mereka hanya… tahu caranya membuatmu patuh. Kau tidak akan terluka, kaka. Kau hanya akan jadi bayi singa mungil yang manis.”

"Bukan bayi… aku bukan bayi!" seru Xiel, wajah mungilnya merah, tubuhnya meronta di pangkuan Roger. Namun tubuh mungil itu terlalu lemah, terlalu kecil untuk melawan. Roger menahan dengan satu tangan saja, seakan ia hanya menggendong seekor kucing kecil.

Perjalanan terasa panjang, dan setiap kali mobil berbelok, Xiel semakin meringkuk erat, mencengkeram dada Roger sambil terisak. Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah mansion bergaya gothic. Gerbang besi tinggi terbuka, lampu-lampu antik menyala remang, memberi bayangan mencekam.

"NOOO… Roger, Xiel nggak mau turun… please…" Xiel menyembunyikan wajahnya di leher Roger, tubuhnya gemetar hebat.

Roger mengangkat tubuh mungil itu tanpa suara, keluar dari mobil. "Terlambat untuk menolak, bayi singa kecil. Keluargamu sudah menyerahkanmu pada kami malam ini."

Xiel hanya bisa terisak, wajahnya tenggelam dalam dada Roger, sementara langkah kaki itu membawa dia masuk ke rumah yang begitu ia takuti.

Begitu pintu besar dibuka, udara dingin menyeruak. Aula besar dengan lantai marmer hitam, dinding dipenuhi lukisan-lukisan mengerikan. Xiel menempel erat di dada Roger, tak berani menoleh.

Di atas tangga, berdiri seorang pria tinggi dengan aura menekan—Papi-Silas D'arcy. Rambut perak, mata tajam, senyum tipis namun dingin. Di sampingnya, seorang pria muda lebih tinggi dari Roger, yaitu Gege—Gerald D'arcy. Tatapan keduanya langsung mengunci pada tubuh mungil Xiel di pelukan Roger.

"Hmm," suara berat Silas menggema di aula. "Bayi singa nakal ini akhirnya datang juga."

Xiel menegang, tubuhnya menggigil. "Nooo… Xiel mau pulang… Xiel janji nggak nakal lagi… ucapnya lirih, matanya berkaca penuh ketakutan.

Gege menuruni tangga perlahan, matanya menyipit penuh minat. "Lucu sekali. Bahkan menangis pun dia tetap manis."

Silas mendekat, berdiri tepat di depan Xiel. Tangan dinginnya menyentuh pipi belepotan cokelat itu. "Kau lihat dirimu, Prince. Usia dua puluh dua, tapi begitu mungil, begitu rapuh. Kau tak layak disebut dewasa. Kau adalah bayi singa. Bayi kami."

Xiel menepis tangan itu dengan gemetar, matanya penuh air. "Xiel besar…"

Gege terkekeh rendah. "Besar? Kau bahkan masih pakai dot setiap kali tidur."

"Shhht! Jangan bilang begitu!" Xiel menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya, pipinya merah padam.

Roger menunduk ke arah ayah dan kakaknya. "Aku akan memulainya. Lebih cepat Bayi ini direset, lebih cepat dia berhenti melawan."

☘︎☘︎☘︎
TBC..

ga kerasa udah chap 16
aja yaaa...
kalian udah siap belum untuk
konflik akhir? mungkin bakal berat dikit sihhh
rencananya cerita ini bakal selesai
sebelum chap 30 sihh....

Ehhhhhh iya satu lagiiii !!!!!
kalian mau ga buat grup wa bareng aku??
rencananya aku bakal up draf pribadi aku tapi pengen pake gambar gitu lohhhh....
tapi aku pusing nyarinya...
kalau kalian mau, spamm di sini yaaa!!!

Bye bye💐💐

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang