Cahaya samar menyusup dari celah tirai sutra berwarna krem ke dalam kamar yang luas dan mewah. Langit-langitnya tinggi dengan ukiran detail, lantai marmer dingin memantulkan bayangan lampu gantung di atas ranjang. Raisa membuka mata perlahan, napasnya tercekat saat menyadari sesuatu yang aneh.
Ini, bukan kamar rumah sakit.
Dia menoleh. Bukan pula kamarnya di dunia nyata yang sempit, dinding kusam dan ranjang kecil. Yang satu ini tampak seperti kamar hotel bintang lima, atau istana. Tapi, sejak kapan dia pindah ke tempat seperti ini?
Apa aku mati? Ini surga? pikirnya spontan.
Tapi dia segera menepisnya. Surga tidak mungkin membuat tubuhnya terasa begini.
Dengan hati-hati, dia bangkit dari ranjang, lalu tertegun saat tubuhnya menegang karena rasa nyeri yang menjalar dari punggung hingga kakinya.
Wajahnya mengernyit. Tangannya meraba lengannya yang tertutup baju tidur tipis. Perih. Benar-benar perih.
Langkahnya gemetar menuju cermin tinggi di sisi kiri kamar. Begitu berdiri di depannya, napas Raisa tercekat lagi. Wajah yang menatap balik dari cermin bukanlah miliknya.
Seorang gadis muda, mungkin dua puluh tahun, dengan wajah pucat pasi dan mata sembab. Bibirnya nyaris kehilangan warna, dan di dahi gadis itu, di dahinya, Raisa sadar, ada luka baru yang belum sepenuhnya kering. Luka itu terbuka, mencolok, seolah baru saja terjadi beberapa jam lalu.
Raisa mundur satu langkah. Jantungnya berdetak semakin cepat.
“Siapa?”
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan pertanyaan itu dalam pikirannya, tiba-tiba kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Rasa nyeri menyambar di dalam tengkoraknya, menyusup ke setiap sudut memorinya. Dia jatuh terduduk, mengerang, memeluk kepalanya.
Dan saat itulah semuanya datang.
Kenangan asing, sepotong demi sepotong, menghantam kesadarannya, menginvasi pikirannya.
Seorang gadis bernama Eveline Queenzy Smith. Putri bungsu keluarga konglomerat terkenal di London. Memiliki dua kakak laki-laki. Xavier Smith, 28 tahun, yang kini memimpin perusahaan utama keluarga, dan Allard Smith, 26 tahun, seorang dokter muda yang dikenal berbakat. Ayah mereka, Oscar Smith, dan sang ibu, Mirae Smith, saat ini sedang berada di luar negeri untuk mengurus bisnis cabang dan telah sebulan tidak kembali ke rumah.
Dan Eveline, tinggal di rumah besar itu bersama satu orang lagi, Laluna Cassia Smith, saudara angkatnya. Usianya 23 tahun, hanya terpaut satu tahun lebih tua darinya. Luna diadopsi oleh Oscar dan Mirae karena dulu mereka ingin memiliki seorang anak perempuan, sebelum akhirnya Mirae benar-benar melahirkan Eveline setahun kemudian.
Semua terdengar harmonis di awal. Sebuah keluarga bahagia. Eveline dibesarkan dalam limpahan kasih sayang, mungkin bahkan lebih dari Luna. Namun segalanya berubah ketika Luna berusia sepuluh tahun.
Fitnah demi fitnah mulai dilontarkan. Luna menuduh Eveline mendorongnya, mencederainya, merusak barang-barangnya. Dan entah bagaimana, semua orang percaya. Hati orangtua mereka mulai goyah. Mereka pikir Eveline cemburu karena Luna bukan saudara kandungnya. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Makin dewasa, Eveline makin kehilangan tempat di rumahnya sendiri. Semakin sering ia dituduh, semakin ia dikucilkan. Setiap kali Luna terluka, menangis, atau tampak sedih, Eveline selalu dijadikan kambing hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
WOUNDED
ChickLitRaisa, gadis lemah dan penurut yang hidupnya selalu ditindas, meninggal setelah menyelamatkan seorang anak kecil dari kecelakaan. Namun takdir memberinya kesempatan kedua, ia terbangun dalam tubuh Eveline Queenzy Smith, seorang mahasiswi yang ternya...
