Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 1 - Panggilan Dini Hari

59 3 1
                                        

Tahun 2049. Setelah berbulan-bulan pertempuran sengit, pasukan loyalis Daulat Nusantara Raya akhirnya meraih kemenangan penting atas pasukan pemberontak yang berusaha melakukan kudeta terhadap Kaisar Alimin setahun sebelumnya.

Dengan tercerai-berainya kelompok pro-kudeta, Marsekal Agung Zakaria Assegaf telah dipanggil menghadap Istana untuk mendapat tugas terbaru dari Kaisar sendiri. Meskipun beliau mengira kunjungan ini akan berlangsung singkat, Assegaf segera mengetahui bahwa di balik misi barunya terdapat begitu banyak intrik dan rivalitas.

I

Telepon tombol-tekan tua dan berat berdering pada muka meja samping kasur usai Marsekal Assegaf melaksanakan salat Fajr-nya. Surya baru saja terbit pada pukul lima pagi, ketika kebanyakan orang masih tidur pulas. Kesunyian menyelimuti dini hari, kecuali nyanyian jangkrik dan ayam jantan yang sesekali bersuara dari kejauhan.

"Siapa ini?"

Suara dari ujung telepon milik Rifat bin Sanad, ajudannya. "Maaf mengganggu Pak. Ada pesan dari Istana untukmu."

"Apa isinya?"

"Baginda Kaisar meminta kehadiran bapak di kantornya sesegera mungkin."

Assegaf mendengar dengan seksama ketika Bin Sanad mengusulkan daftar waktu yang sesuai untuk datang ke Istana. Usai membuat keputusan, sang Marsekal Agung mengelus kumis tebalnya dan memberi perintah.

"Siapkan mobilku," ucapnya. "Beri tahu pegawai Baginda Kaisar, saya tiba pukul delapan."

"Baik, Pak."

Assegaf meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya. Sejenak kemudian, ia beralih pandangan ke sebuah foto kecil bersandar di samping telepon. Disitu terpampang dirinya dan mendiang istri Noor Tamimi, di sebuah foto yang diambil dua dasawarsa lalu. Untuk sesaat ia memandang foto tersebut dengan tatapan sayu, mengelus jemarinya di atas wajah lembut Noor seakan-akan menarik kekuatan darinya, sebelum akhirnya menuju ke kamar mandi.

-----------

Mobil Bentley Brooklands melaju lekas sepanjang jalan indah yang menjauh dari Markas Korps Marinir di Cilandak menuju Ibukota Jakarta. Sopir tentara Letnan Eduardus Tjahjo menduduki kursi pengemudi. Marsekal Assegaf duduk di samping kiri, berpakaian seragam dinas berwarna hijau zaitun – tatapan tersembunyi di balik kacamata aviator yang bertengger di atas hidung mancung-nya. Seraya berkendara, Eduardus melirik dua-tiga kali ke samping, bertanya-tanya apa yang ada di benak sang Marsekal sepanjang perjalanan.

Assegaf menoleh tepat pada saat Eduardus meliriknya. "Edi, ada yang mau disampaikan?"

"Tidak, Pak," jawab Eduardus. Suaranya terdengar sedikit malu. "Hanya penasaran apa yang ada di pikiran Bapak sekarang."

Senyum kecut hinggap di muka Assegaf. "Banyak. Kami sudah hampir menemukan lokasi Siregar dan pasukannya, tapi bajingan licin itu entah kenapa masih sanggup menghindari kami."

Setahun sebelumnya, mereka berdua terjebak baku tembak ketika Panglima KOSTRAD (Komando Strategis Angkatan Darat), Jenderal Besar Djauhar Siregar, meluncurkan percobaan kudeta terhadap sang Kaisar. Upaya tersebut hampir berhasil, tetapi gagal tatkala Assegaf berhasil membentuk satuan tugas khusus untuk merebut kembali Distrik Senayan dan mengamankan Kaisar sebelum membersihkan seluruh Jakarta dari pasukan pro-kudeta. Saat itu, Eduardus membantu menyembunyikan keberadaan Assegaf dari pasukan Siregar ketika sang Marsekal Agung sibuk mengumpulkan para perwira loyalis Kaisar untuk menggagalkan upaya kudeta.

"Bapak ingat ketika kita yang harus sembunyi dari Siregar?" tanya Eduardus. "Untung kita bisa kabur dengan selamat."

"Alhamdulillah," ucap Assegaf. Dia memasukkan tangan ke dalam saku kanan seragam dinasnya, menggerakkan bundar-bundar tasbih pemberian Ayahanda sewaktu kecil. Sejak saat itu, dia selalu membawanya kemanapun saat bepergian, baik saat bertugas maupun salat di masjid.

Misi Terakhir - Sebuah Roman Saga MandalaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang