𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Pagi itu, meja makan keluarga D’Lucifer dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul di marmer hitam. Hidangan mewah tersaji rapi, tapi suasana sama sekali tidak terasa santai. Semua mata menatap ke arah satu sosok mungil yang duduk dengan kaki menggantung, wajah merajuk, pipi tembamnya mengembung seperti roti.
Tangan mungilnya terlihat begitu sibuk memotong roti kecil dengan sendok mungilnya. Mata coklatnya jernih, polos, tanpa sedikit pun noda kelicikan yang biasanya menjadi darah daging keluarga.
"Xiel…" suara berat sang Daddy, pecah duluan. "Kalau Prince mau tinggal di rumah, Daddy bisa pesankan boneka singa yang bisa mengaum sungguhan. Boneka itu hanya akan mengaum kalau bayi yang memeluknya. Bagaimana?"
Xiel menoleh, matanya membesar.
"Singa? Sungguh, Daddy? Tapi apakah ada?"
"Ya," Xavier mengangguk mantap, meski jelas itu ide gila. "Kecil, berbulu, dan hanya jinak untuk Bayi."
Mata Xiel berkilau, bibir mungilnya terbuka. Tapi lalu ia buru-buru menggeleng kuat-kuat, rambut coklatnya bergoyang.
"Tidak, tidak… Xiel tatap mau ikut, kan Daddy udah ijinin Xiel semalam. Singanya tetap ada setelah Xiel pulang, kan?"
Gagal.
Xavier terdiam, jemarinya mengepal di meja.
Luciano, pun tak mau kalah. Suaranya lebih lembut, hampir seperti penjual mainan yang sedang merayu anak kecil. "Kalau begitu, bagaimana kalau Ayah belikan dot singa? Dotnya dari emas, gambar singa kecil. Lucu sekali, hanya dibuat satu di dunia."
Xiel menoleh cepat, tawaran yang sangat menggiurkan. "Dot singa lucu, Ayah?"
Luciano menyahut cepat. "Ya, Kalau Bayi mau, Ayah bisa pesan 100 dot berbeda, spesial untuk Bayi."
Xiel menutupi wajah dengan kedua tangannya, untuk menyembunyikan rasa senangnya. "Hhh… Xiel… Xiel tidak mau! Xiel… tetap mau ikut sekolah. Dotnya… bisa untuk nanti kalau Xiel tidur siang..."
Aurora, sang Oma, tertawa kecil, suaranya lembut. "Kalau Bayi di rumah, Oma akan siapkan taman bermain penuh boneka hidup. Mereka bisa bicara, menari, dan bernyanyi hanya untukmu, sayangku. Bayi tidak akan kesepian.”
Xiel langsung mengangkat kepala, matanya berbinar. "Boneka hidup?! Mereka bisa nyanyi? Nyanyi apa, Oma?"
"Apa saja yang Bayi minta."
Xiel menggigiti bibirnya, jelas tergoda. Tapi lalu ia menunduk lagi, berbisik lirih, polos:
"Kalau boneka nyanyi… bisa lain kali saja... Xiel mau tetap ikut."
Kendrick, akhirnya ikut bicara. Dengan suara berwibawa, ia mencondongkan tubuh.
"Bayi kecil. Opa akan hadiahkan seluruh koleksi cake dan susu. Ada ribuan. Bayi boleh makan semuanya, kapanpun Bayi mau, asal Bayi kecil tidak pergi ke sekolah."
Mata coklat terang itu membesar lagi. "Cake dan susu stroberi?"
"Ya, tentu. Semua rasa ada, khusus untuk Bayi. Tak perlu ikut hmm, dunia luar terlalu kotor untuk mu bayi."
Xiel menghela napas panjang, seolah benar-benar galau. Ia memandang Vincent dan Harvey di seberang meja, lalu menggenggam garpu mungilnya erat-erat. "Emm... Xiel tetap pengen ikut." cicit Xiel
Semua orang di meja terdiam. Para penguasa dingin keluarga D’Lucifer, yang terbiasa menundukkan dunia dengan kekuatan dan manipulasi, kini dipatahkan hanya oleh jawaban polos seorang pemuda mungil yang tak bisa dimanipulasi dengan apapun.
Xiel menatap mereka satu per satu dengan wajah lugu, lalu mencelupkan rotinya ke saus stroberi. Dengan suara riang ia berkata:
"Jadi, Xiel tetap boleh ikut sekolah, kan? Nanti kalau Xiel pulang, Xiel bisa peluk singa, coba dot singa, makan cake, dan dengar boneka nyanyi. Kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
