13. ࿔prince xiel࿔

13.1K 666 15
                                        


𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆


Pagi di mansion D’Lucifer bukan pagi yang cerah.

Matahari memang naik, tapi tak pernah cukup berani menembus tiraibiru hitam beludru yang menjuntai berat di jendela-jendela besar bagian timur. Bahkan waktu pun seolah berjalan pelan, enggan benar-benar menyapa tempat itu. Kedinginan bukan berasal dari suhu, tapi dari dinding-dinding abu-abu yang menyimpan jejak kebisuan selama bertahun-tahun.

Di dalam kamar berwarna baby blue dengan gaya lucu itu — megah, tapi sepi — Delapan tubuh tinggi besar menjulang  mengitari sebuah tempat tidur bertiang, yang dipenuhi boneka pastel, selimut rajut tangan, dan satu botol susu dengan warna merah muda.

Sedangkan di sofa panjang terisi kan oleh dua wanita dan satu gadis anggun. Dan satu singel sofa di isi oleh sang pendiri D'lucifer.

Langit masih kelabu, dan suara detak jam tua nyaris tak terdengar di antara napas tertahan. Tak seorang pun bicara. Bahkan saat tubuh mungil di bawah selimut mulai menggeliat, mereka hanya menatap — diam, tenang, dan nyaris menyerupai patung dalam museum lukisan abad gelap.

Di tengah kasur, terbaring si pusat semesta: Xiel.

Anak keempat dari Xavier dan Anne. Tubuhnya kecil — terlalu kecil untuk garis darah D’Lucifer yang luar biasa besar. Tingginya hanya 147 cm, wajahnya bulat dengan mata yang terlalu jernih untuk lingkungan sekeras ini. Tapi bukan tubuhnya yang membuat dia menjadi poros semesta — melainkan karena dia satu-satunya yang mereka izinkan untuk lemah.

Dan semalam, Bayi singa mereka menangis.

Tangis lirih yang berubah menjadi ledakan amarah — tentang sepi, tentang perbedaan mereka, tentang rindu yang tak bisa ia namakan. Tentang ingin dimengerti, meski ia sendiri belum tahu cara menjelaskan. Dan tentang arti anak haram.

Tidak ada yang tidur sejak kejadian semalam.

Bukan karena mereka tak bisa. Tetapi karena mereka tak ingin.

𖦹𖦹𓇼𖦹𖦹

"...Masih hidup?" gumam Vincent, bariton pelan menyentuh udara seperti kabut.

Bukan apa, hanya saja sekarang waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat dan Bayi Singa itu masih betah bergulung di dalam selimutnya.

"Dia bernapas," jawab Cassius tanpa berkedip, duduk bersila di lantai. "Meski secara mental, mungkin... sedikit retak."

"Retak adalah kondisi standarnya," timpal Kenzo tenang. "Dia terlalu lembut untuk keluarga ini."

"Prince adalah D’Lucifer," potong Xavier. Suaranya dingin, tegas, dan mengunci setiap celah keraguan. "Lemah atau tidak, dia tetap darah kita."

"Dan Bayi singa tetaplah bayi kita," tambah Darren, berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersilang. "Bahkan semalam Bayi singa kita mengaum untuk pertama kalinya."

"Yaa. Sayangnya ia mengaum tentang rasa sakitnya." sahut Xanara.

"Dan tentu kita telah melenyapkan sumber kesakitan Bayi Kita." lanjut Cassius.

Dan di sambut senyum tipis penuh arti dari mereka semua.

Tubuh mungil di ranjang bergeming, lalu menggeliat pelan. Rambut coklat terang nya kusut, mata sembab terbuka setengah, dan suara kecilnya mengambang pelan di udara:

"Xiel... mau susu strawberry..."

Mata-mata dingin itu berpaling ke arahnya serempak.

Tak satu pun bergerak.

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang