𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Malam ini suasana terasa begitu mencekam di ruang keluarga lantai dua mansion D'lucifer. Semuanya duduk di tempat mereka masing-masing. Dengan Xiel yang berdiri di tengah-tengah, tangan mungil itu memilin ujung baju tidur motif singa miliknya. Xiel tak siap jika harus berhadapan dengan mereka malam ini, ia tak sanggup menatap wajah apalagi mata mereka. Kedua mata bulatnya telah memerah dan berkaca tetapi Xiel menahan itu semua, Xiel tak ingin menangis lagi.
Xiel mengambil satu langkah mundur. "Xiel izin kembali ke kamar... Xiel ingin tidur, selamat malam semua." Ketika Xiel ingin berbalik suara dingin seseorang menghentikannya.
"Tetap di tempatmu." Ujar ayah Luciano.
"Xiel mengan...
"Prince." Suara Cassius terdengar, memotong cepat ucapan Xiel.
"Jangan menguji kesabaran ku Prince." Tambah Darren, karena sungguh Nathaniel telah menahan dirinya beberapa hari ini untuk tak menarik paksa Xiel karena menghindari mereka semua.
Mommy Anne yang sedari beberapa hari ini menahan diri untuk tak mendekati anaknya, kini berjalan cepat menuju xiel.
"Kenapa?" tanya Mommy Anne cepat, matanya memerah karena rasa sedih dan kemarahan yang memuncak. Tangan mencengkram bahu sempit Xiel.
Xiel menepis tangan Mommy Anne dengan kasar, nafas nya memburu. "KARENA SEMUA BILANG KALAU XIEL CUMA BENALU DI KELUARGA INI. KARENA XIEL TIDAK PINTAR, XIEL TIDAK KUAT, XIEL TIDAK GAGAH SEPERTI YANG LAIN. DAN XIEL TAK SEHEBAT OPA, DADDY, PAPI, AYAH, DAN PAPA. XIEL ANAK BODOH, LEMAH, MANJA, DAN XIEL HANYA TAU MENANGIS DAN MERENGEK. Noda. Mereka benar Xiel adalah noda, harusnya xiel tak pernah ada....." Xiel merangkak dan memeluk kedua kaki sang Mommy dengan kedua tangannya erat. Mendongak menatap tepat mata Mommy Anne.
"Mommy... Xiel tidak mampun menanggungnya, Xiel tak suka mimpi buruk itu datang setiap malam Mommy. Kenapa harus Xiel Mommy? Xiel benci diri Xiel sendiri..."
Suasana meledak dalam sekejap.
Xavier menghantam meja dengan tinjunya. "Mereka harus mati, mereka yang berani mengatakan itu semua harus musnah."
"Siapa yang bilang kamu noda?!" teriak Luciano.
"Bukannya benar jika Xiel adalah noda. Xiel memang sebuah noda yang merusak kesempurnaan Ayah... Mereka benar Xiel tak pantas ada di tengah-tengah D'lucifer yang sempurna." suara itu memang kecil tetapi mampu mengguncang satu ruangan.
"Omong kosong," desis Kenzo.
"Akan aku musnahkan mereka yang berani mengatakan perkataan sampah itu," kata Cassius tajam. "Satupun, tanpa sisa."
Amora menarik Xiel ke dalam pelukannya, mencium rambutnya berulang kali. "Sayang, Prince kecilnya Buna tidak perlu jadi siapa-siapa. Bayi sudah cukup. Kamu bayi singa kami. Satu-satunya."
"Tapi Xiel ingin mereka berhenti benci... Xiel tidak suka di benci... padahal Xiel tidak jahat dan nakal... tapi kenapa banyak yang jahat sama Xiel...."
"Biar kami yang urus kebencian itu," ujar Theodore dingin. "Tugasmu hanya... tetap jadi Bayi singa kami."
Lionel yang selama ini diam, bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat, lalu jongkok di depan Xiel.
"Bayi...dengar Mamas, kamu adalah permata kami. Bayi tidak harus menjadi seperti kami, Karena cukup kami yang menjadi monster. Kami kuat karena tugas kami adalah menjaga Bayi kecil ini, dan jika Bayi juga menjadi monster lantas apa alasan kami untuk tetap bertahan hidup? Untuk apa kami semua bekerja keras? Untuk apa kami semua kuat?... Semuanya untuk Bayi ini." wajah Lionel mendekat, mata mereka bertemu.
"Untuk Xiel?"
"Yaaa, semua kami lakukan untuk Bayi singa ini."
Xiel tertegun.
"Kami pulang ke rumah setiap malam bukan karena kami harus. Tapi karena Bayi ada di sini. Karena tawa Bayi. Karena tangisan Bayi. Karena Bayi membuat rumah ini hidup dan hangat."
"Tanpa Prince kecil, rumah ini hanya sebuah kastel batu penuh darah." tambah Xanara, nadanya nyaris parau.
"Baby cahaya kami, Sayang." bisik Oma Aurora.
"Dan tidak ada cahaya yang pernah dianggap noda oleh kegelapan," lanjut Opa Kendrick. "Kegelapan hanya takut padanya."
Xiel mulai menangis. Tangis kecil, pelan, seperti suara hujan pertama setelah musim panjang.
"Xiel sayang semua orang... tapi Xiel takut... Xiel tidak seperti kalian..."
Darren menariknya ke dalam pelukan. "Bayi tidak harus seperti kami. Kami yang harus belajar menjadi seperti Bayi."
"Dan kalau ka prince masih takut," ujar Vincent, "kami akan jadi monster yang menelan semua hal yang membuatmu merasa kecil."
"Kami akan memusnahkan mereka yang membuatmu menangis diam-diam seperti ini," ujar Cassius, rahangnya mengeras.
"Jangan pernah menjauh dari kami lagi, Xiel," ujar Mommy Anne dengan mata berkaca. "Jangan biarkan kami ditelan oleh kegelapan karena kehilangan cahayanya."
Xiel mengangguk. "Maaf... Xiel nggak bermaksud menjauh..."
"Tapi kamu iya, dan itu... karena kami terlalu sibuk," ujar Harvey.
Xiel tak menjawab. Tapi tubuhnya bergeming kecil dalam pelukan erat Lionel. "Maaf. Maaf. Maaf. Maaf bayi."
Kata maaf terus menerus terucap dari bibir Lionel. Hatinya sakit mendengar tangisan pilu dari bayinya, mata yang biasanya selalu terlihat dingin itu berkaca-kaca.
Tak berbeda jauh dengan D'lucifer lainnya mereka merasa sangat bersalah. Akibat dari kelalaian mereka semua, Xiel harus mendengar perkataan buruk dari manusia rendahan.
Dan di ujung meja, Bibi Clara berdiri diam. Ia tersenyum kecil, lalu membungkuk hormat, seakan berkata dalam diam:
Akhirnya... kalian mengerti, siapa yang benar-benar prioritas di istana ini.
☘︎☘︎☘︎
TBC..
B
ye bye💐💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
