𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Pagi itu berbeda.
Matahari bahkan belum sempurna menyembul dari balik jendela kaca setinggi langit-langit ketika ruang makan utama keluarga D'Lucifer telah penuh. Biasanya, ruangan seluas aula opera itu hanya berisi suara gesekan sendok, gemerisik koran, atau dering pesan dari ponsel-ponsel mahal. Tapi pagi ini, tak ada semua itu.
Semua anggota keluarga D'Lucifer hadir. Tanpa laptop. Tanpa diskusi bisnis. Tanpa ponsel. Tanpa laporan keuangan atau rekaan sketsa gaun haute couture.
Hanya satu pusat perhatian pagi ini.
Xiel.
Prince kecil D'Lucifer yang kini duduk di ujung meja panjang itu dengan tubuh mungilnya yang nyaris tenggelam di kursi tinggi khusus miliknya.
Rambutnya yang sehalus sutra digerai, mata coklat terang nya menatap ke dalam semangkuk oatmeal yang nyaris tak disentuh.
Tak ada rengekan minta tambahan cokelat. Tak ada tangisan karena tidak boleh makan es krim. Tak ada tawa kecil atau gumaman manja yang biasanya memecah sunyi dengan cara paling menghangatkan hati.
Hanya diam.
Senyum tipis yang ditunjukkan pun terasa terlalu rapi. Terlalu dewasa. Terlalu bukan Xiel yang mereka kenal.
Aurora—sang oma, meletakkan garpu peraknya perlahan. "Sayang, oatmeal-nya tidak enak?"
Xiel mengangkat wajahnya. Tersenyum kecil, seperti biasa. "Enak, Oma. Xiel hanya belum lapar."
Darren mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Xiel dengan dahi berkerut. "Kamu tidak tidur semalam?"
"Tidur, kok," jawab Xiel, lirih. "Jam sembilan sudah mimpi."
Tapi tak ada cahaya di matanya. Tak ada percikan ceria yang biasa menari-nari di iris coklat terang nya. Semua tampak padam.
Xavier Alexander, sang Daddy, mengetukkan jari-jarinya di meja. Tatapannya tajam. "Baby tidak sedang sakit, kan?"
"Tidak, Daddy."
"Bohong," ucap Vincent pelan. Ia duduk bersandar di kursinya, menatap Xiel dengan mata gelap penuh kecemasan yang tak biasa ia tampakkan.
Mereka semua merasakannya.
Ada jarak. Ada yang berubah.
Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, si bayi singa mereka yang biasanya cerewet, manja, dan begitu mudah tertawa kini seperti menarik diri. Seperti membangun dinding tak kasat mata yang tak bisa mereka tembus meski mereka punya segala sumber daya di dunia.
Anne meletakkan tangannya di bahu Xiel. "Kalau ada yang mengganggu, kamu bisa cerita ke Mommy, ya. Jangan simpan sendiri."
Xiel mengangguk. Lalu kembali menatap mangkuknya.
Di sisi lain meja, Harvey berdiri. "Ayo, sini. Duduk sama Avey." katanya sambil menarik kursi lebih dekat.
Tanpa protes, Xiel menuruti. Duduk di samping Harvey. Tapi tetap diam.
Xanara melempar pandangan menusuk ke arah meja pelayan. "Bibi Clara mana? Biasanya dia yang menyuapi Xiel sambil nyanyi lagu bodoh itu."
"Dia ada di taman, Nona," jawab salah satu maid dengan cepat. "Tuan Muda Xiel biasa menghabiskan pagi bersama beliau."
"Tiap pagi?" tanya Cassius. "Sejak kapan?"
"Dua minggu ini, Tuan."
Hening menyelimuti ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
