𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Suasana di ruang utama rumah keluarga D'Lucifer sore itu begitu tenang. Hening yang hampir mengerikan. Jam antik berdetak dengan nada berat, menghitung waktu dengan kejam. Dan di tengah-tengah ruangan megah berwarna marun keemasan itu, berdiri seorang anak laki-laki dengan satu kaki terangkat, kedua tangan memegang telinga, menghadap dinding.
Price Xiel Seraphine D'Lucifer. Bayi kecil kesayangan semua orang... sekaligus anak yang paling sering membuat seluruh rumah geger karena kelakuannya yang terlalu lincah untuk ukuran seorang D'Lucifer.
Hari ini adalah hari kelima setelah insiden Roger, tuan muda keluarga D'arcy mengobrak-abrik bibir mungil Xiel hingga memuntahkan makanan yang baru si kecil telan.
Xiel sudah sembuh, secara fisik. Tapi secara keluarga? Hukuman tetap harus dijalankan.
Dan hukuman dari keluarga D'Lucifer begitu berat menurut xiel.
"Dua jam," ucap Daddy-Xavier-datar "Tanpa negosiasi."
Dan sejak pukul tiga sore, Xiel berdiri di sana. Kaki kecilnya mulai gemetar. Di menit ke dua puluh, ia mulai merengek.
"Mommy... kaki Xiel kesemutan..."
Tidak ada yang menjawab. Mommy anne bahkan tetap melanjutkan pekerjaannya. Tangannya terlihat sibuk, tapi matanya memerhatikan dari ujung.
"Ka Leon..." panggilnya lirih dengan nada memalas berharap kakak keduanya- Darren yang duduk sambil membaca koran di sofa sedikit perduli padanya.
Darren bahkan tak mengangkat kepala. "Kau bisa lebih dari itu, Prince" hanya itu yang keluar dari mulutnya, dingin dan datar. Membuat Xiel menunduk lesu.
Menit ke lima puluh. Air mata mulai muncul di sudut matanya. Ia berkedip-kedip keras, berharap bisa menyeka tanpa harus melepas posisi. Tapi percuma.
Satu tetes jatuh ke lantai marmer. Disusul yang kedua. Tangisnya masih tertahan. Tapi tubuhnya mulai goyah.
Di menit ke enam puluh, tangisnya meledak. Bukan rengekan. Bukan keluhan. Tapi tangis keras yang memecah keheningan seluruh aula besar rumah.
"HUAAAAAAAAAAA!!!"
Semua orang tetap tak bergerak. Bahkan Mommy yang paling muda luluh hanya menegakkan punggungnya lebih lurus. Dan para lelaki hanya menoleh sebentar dan langsung kembali ke buku yang dibaca dan pekerjaan mereka.
"XIEL MINTA MAAF, APA SEMUANYA TIDAK SAYANG XIEL LAGI, APA TIDAK ADA YANG PERDULI SAMA XIEL LAGI?!!"
Teriakkan itu melengking memenuhi seluruh ruang yang tadinya hening. Xiel tak suka di abaikan, tangannya menepuk-nepuk pipinya sendiri, lalu menjambak rambutnya sendiri.
Dan ketika tubuh kecil itu mulai terduduk lemas di lantai, isakannya berubah jadi lirih dan tak beraturan. Ia meringkuk, memeluk lututnya sendiri, menggigil.
Tapi detik berikutnya, suara langkah berat mendekat. Pelan, tenang, tapi menusuk dada.
Daddy.
Pria paling tinggi, paling tegas, dan paling ditakuti oleh seluruh anggota keluarga.
Ia berlutut perlahan. Jemarinya yang besar menyentuh kepala Xiel dengan gerakan sangat hati-hati. Merapikan setiap helai rambut Xiel dan dipindahkan dari dahi ke belakang telinga.
"Sudah cukup."
Hanya dua kata. Tapi itu membuat Xiel kembali menangis lebih keras.
"Sudah cukup."
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
