𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Hampir satu jam terlewat, kan? Tetapi bubur di dalam mangkuk bahkan belum habis.
Kebiasaan makan sambil mengemut makanan yang masuk ke dalam mulut itu-itu tak pernah hilang, walaupun sudah ditegur ribuan kali.
Atala yang sedari tadi duduk tenang, mendekat dan meraih mangkuk bubur dari tangan Xana, lalu memberi kode kepada Harvey untuk mengambil Xiel. Karena jika dibiarkan, anak itu akan melewatkan jam minum obatnya.
Melihat Harvey yang berjalan mendekat kepadanya, Xiel segera memegang erat sisi baju Xana sambil menggeleng kuat. Tetapi kali ini, Harvey tak akan luluh lagi. Cukup yang tadi, untuk sekarang bayi singa ini harus menurut.
Ketika Harvey mengangkatnya, tangan mungil Xiel semakin mencengkeram kuat baju Xana.
"Noooo... jangan pegang Xiel. Avey dengar tidak, lepasss." Teriak Xiel.
Setelah teriakan Xiel meluncur, aura ruang tamu seketika berubah mencekam. Tangan Harvey yang tadinya berada di tubuh mungil itu langsung terlepas.
Harvey segera berjalan menjauh. Melihat hal tersebut membuat Xiel merasa bersalah. Kepalanya mendongak, menatap wajah Xana, berharap mendapat pembelaan atau setidaknya senyum kecil-nyatanya yang terlihat hanya tatapan tajam Xanara, membuat Xiel menciut seketika. Kepalanya kembali menunduk, tangan mungil itu memilin ujung bajunya, berharap itu dapat mengurangi rasa takutnya.
"Turun." Perintah Xanara. Suaranya terdengar dingin dan menusuk. Mendengar perintah sang princess, Xiel langsung merosotkan tubuhnya ke bawah, duduk di karpet bulu. Begitu Xiel telah duduk, Xana berjalan mendekat ke arah Atala, mengambil mangkuk bubur itu dan meletakkannya di depan Xiel.
"Makan. Habiskan dalam lima menit." Lanjutnya dengan nada penuh ancaman.
Xiel yang mendengarnya, seketika matanya membulat sempurna. Heyyy, yang benar saja-bubur itu masih sangat banyak. Ia mengedarkan pandangannya guna mencari dukungan, tetapi yang didapat hanya tatapan tajam yang siap menerkam jika ia masih berani protes. Seketika, bahu sempit itu merosot, mata bulatnya berkaca-kaca, bibir mungilnya melengkung ke bawah. Siap menumpahkan muatannya.
Tak ada waktu. Dirinya harus bisa. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya disertai dengan lelehan air mata yang mulai keluar. Bubur itu tertelan tanpa dikunyah. Toh lembek juga-itu bukan masalah, kan? Isakannya dibungkam oleh setiap suapan bubur yang masuk, membuat dadanya sedikit sesak.
Melihat mulut mungil itu makan dengan tergesa, mereka sedikit khawatir. Takut-takut si kecil muntah. Tetapi tak sampai membuat mereka mendekati Xiel.
Waktu tersisa dua menit, sedangkan bubur di dalam mangkuk tersebut masih ada setengah. Perutnya benar-benar telah penuh. Rasanya begitu mual. Ingin mengeluh pun dirinya tak berani.
Satu suap.
Dua suap.
Tiga suap.
Dan...
"Huekkk."
Muntah. Xiel memuntahkan bubur yang setengah mati dirinya telan.
"Hikss...hmppp." Isakannya keluar tanpa bisa ditahan. Tetapi dengan segera, tangan Xiel terangkat untuk menutup mulutnya sendiri. Mencegah agar suara tangisannya tak keluar, sekaligus menahan rasa mualnya.
Mata bulatnya menatap nanar bubur yang telah bercampur dengan muntah. Ia harus tetap makan. Rasa takutnya begitu besar hingga mengalahkan rasa jijik yang dirinya rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
