HAPPY READING 🤍
JANGAN LUPA VOTE 🧚🏻♀️
______________
Hari ini harusnya hari biasa. Bangun, sekolah, buka puasa di rumah, tidur. Tapi tidak. Karena hidup Zia, belakangan ini, lebih mirip sinetron ketabrak FTV.
Semua berawal dari satu chat di grup kelas.
> Vio [17.32]
Guys, buat bukber besok, tolong yang rumahnya searah bareng ya. Biar gampang ngumpulnya.
Zia bareng Kafka yaa~ 🥰
Zia bengong.
Zia ngucek mata.
Zia baca ulang.
Zia bareng Kafka yaa~
Seketika dunia gelap.
> Zia [17.33]
Maaf, Vio. Gue baca Kafka atau... KAFKA?
> Kafka [17.34]
Siap jemput, Princess. Rumah lo yang pagar putih kan? 😏
> Zia [17.35]
Gak usah jemput. Gue bisa jalan kaki ke Planet Mars sendiri.
---
Keesokan harinya, jam empat sore, Kafka beneran nongol depan rumah Zia.
Motor Vario itemnya parkir manis di pinggir jalan. Dia nyender santai di jok belakang, helm di tangan, rambut agak berantakan kena angin, dan senyum tengil level 99.
"Ziaaa~" panggilnya sambil dadah-dadah gak penting. "Lama banget, gue sampe nyari sinyal kehidupan lo."
Zia keluar rumah dengan wajah datar. kemeja cokelat , loose pants, sneakers putih. makeup, no senyum.
"Gue belum ikhlas," katanya dingin sambil ngelihat Kafka dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Kafka ngangkat helmnya. "Lo nggak punya pilihan, bestie. Vio udah atur, jalanin aja kayak ujian hidup."
Zia ngedesis, nyamber helmnya. "Jangan manggil gue bestie. Jijik."
Kafka nyengir. "Maunya apa dong? Sayang?"
Zia: mencoba tidak melakukan tindak kriminal.
---
Di atas motor, Zia duduk jauh sejauh mungkin dari punggung Kafka.
Kafka sadar, tapi bukannya merasa bersalah, dia malah ngomong, "Lo duduk kayak gitu kayak orang takut jatuh cinta."
"Lo ngebacot kayak orang pengen dijatuhin beneran," balas Zia cepat.
Kafka ketawa ngakak, ngebelokin motornya santai. Angin sore berhembus, suara jalanan rame, dan Zia berharap dia bisa teleport ke tempat bukber dalam 0,2 detik.
"Lo sadar nggak sih," ujar Kafka lagi, "kita ini kayak drama Korea."
Zia mencibir. "Lo lebih mirip karakter yang dimatiin di episode satu."
---
Sampai di lokasi bukber, warung makan semi-outdoor dengan lampu gantung estetik dan meja panjang ala buka puasa massal, Zia langsung kabur dari motor. Helm dilempar ke Kafka tanpa tatap muka.
YOU ARE READING
About Us
Teen FictionZia benci Kafka. Paling. Benci. Cowok itu tengil, sok kenal, dan selalu berhasil bikin darah naik tanpa usaha keras. Tapi dunia memang suka bercanda, karena Zia harus satu motor sama dia buat berangkat ke bukber kelas. Awalnya cuma perjalanan singka...
