𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Seorang pemuda dengan tubuh kekar sedang berdiri di dekat pembatas balkon. Tangan sebelah kanannya mengapit sebatang rokok, entah yang ke berapa batang. Mata tajamnya menerawang jauh ke dalam hutan yang berada di balik tembok yang menjulang tinggi.
Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu. -Dara aja gak tau lohhh yaaa itu di luar kendali, hehehe.
Pemuda itu menghisap dalam rokok terakhirnya sebelum membuangnya ke tong sampah. Begitu selesai, ia segera masuk kembali ke dalam kamar dan segera menutup pintu balkonnya.
Dengan tenang, dirinya melangkah mendekati ranjang untuk memastikan apakah bayi manisnya masih tertidur. Begitu melihat sang bayi masih tertidur, dirinya segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri-agar bau rokok itu tak terendus oleh hidung bayinya. Yahhhh, kedua pasangan adam itu adalah Theo dan Xiel.
Beberapa menit berlalu, Theo telah selesai. Kakinya melangkah ke arah walk-in closet. Selang beberapa menit, Theo keluar dengan kemeja biru tua dan celana kain hitamnya. Jam tangan Rolex terpasang apik di tangan yang menunjukkan pukul 9:45, yang berarti sudah waktunya bayi singa untuk bangun.
Theo perlahan berjalan mendekati buntalan kecil yang berada di dalam selimut itu, memperhatikan wajah si empunya dengan intens-memperhatikan setiap inci wajah bulat itu. Lalu turun ke arah tangan mungil yang masing terpasang infus, dengan pelan Theo mulai melepas jarum infus tersebut. Dan yaaa berhasil tanpa harus membuat Bayi singa terbangun dan merasa sakit.
"Wake up, Seraphine," bisikan dari Theo sama sekali tak mengganggu si kecil. Melihat tak ada respons sama sekali, Theo pun menjauhkan wajahnya dan beralih memandang bibir mungil yang sedang aktif menyesap pacifier berwarna baby blue.
Tangan besarnya mengusap pipi bulat kemerahan itu perlahan, sebelum beralih menarik pacifier yang berada di dalam mulut Xiel. Dan yah... Xiel mulai merengek kecil. Tak menyia-nyiakan kesempatan, bibir tebalnya segera menempel di bibir mungil si empu.
Cupppp.
Dasar Theo, mengambil kesempitan dalam kesempatan. Sepuluh detik berlalu, bibir mungil Xiel menyesap pelan bibir tebal Theo.
Membuat Theo tersenyum kecil yang membiarkan kegiatan menyenangkan ini bertahan lebih lama lagi.
Begitu merasa cukup, Theo segera menarik diri. Kegiatannya memang menyenangkan, tetapi Xiel tetap harus makan dan segera meminum obatnya.
"Seraphine. wake up, dear." Bukan bisikan kecil, tetapi suara itu terdengar lembut. Sambil mengusap leher dan tengkuk Xiel-itu adalah cara paling ampuh untuk membangunkannya. Dan terbukti.
"Enghhhh..." lenguhan kecil itu mulai terdengar.
Theo tak menghentikan elusannya, yang membuat badan Xiel mulai menggeliat. Sedikit lagi maka bayi singa ini akan terbangun.
Dan benar saja, mata bulat itu mulai terbuka-mengerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya. Ketika merasa lebih baik, pandangannya langsung tertuju kepada Theo.
"Theoooooo..." suara serak manis dengan nada mendayu itu terdengar dari bibir mungil itu.
"Ya, Seraphine. Waktunya bangun, makan, dan segera minum obatmu, hmm." ucap Theo tanpa berlama-lama, menarik dan membawa Xiel ke dalam pelukannya. Xiel merengsek mencari kenyamanannya di dada bidang Theo, tangan mungil memeluk erat pinggang Theo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
