4. ࿔prince xiel࿔

21.1K 970 11
                                        

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆


"Nggak mau diinfus..." Suara lirih itu terdengar penuh rengekan, seperti benang halus yang nyaris putus. Di tangan Dokter Gray, jarum kecil itu tampak biasa saja bagi sebagian orang, tapi di mata Xiel, ia menjelma monster bertaring yang siap menerkam. Ketakutannya menebal, melingkupi tubuh mungilnya seperti kabut pekat.

"Lakukan." perintah ayah Luciano meluncur tegas, dingin seperti perintah raja yang tak bisa dibantah. Tak ada ruang untuk kompromi.

Dokter Gray mengangguk cepat, bersiap dengan gerakan yang cekatan. Tapi belum sempat ia mendekat, Xiel sudah bangkit dari tidurnya. Tangisnya membuncah, merangkak pelan dengan tubuh gemetar saat ia memanjat pangkuan Xavier, seperti anak burung yang mencari sarangnya.

"Hikss... nggak... Xiel nggak mau... Daddy, tolong..." Suaranya memelas, menggenggam erat pakaian sang Daddy, seakan dunia akan runtuh jika tak ada pelukan itu.

Xavier tak berkata apa-apa. Ia hanya menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, memeluk erat seolah mencoba mentransfer ketenangan dari jantungnya ke hati kecil Xiel. Jemarinya yang hangat mengusap punggung sang anak perlahan, sabar seperti ayat yang dibisikkan malam. Saat tangis Xiel mulai mereda, Xavier mengangguk pelan pada Dokter Gray, isyarat yang tak terlihat oleh Xiel.

Namun, gerakan kecil itu cukup bagi Xiel untuk kembali panik.

"NGGAK! Hikss... Ja-jangan... Daddy, pleaseee help me... hikss..." Serunya, matanya yang merah menatap Xavier penuh permohonan dan ketakutan. Harapannya bergantung pada sosok lelaki itu, satu-satunya yang bisa melindunginya dari "jarum jahat".

Xavier menunduk, mengecup kelopak mata bengkak sang anak, dan membisikkan. "Ssttt... don't cry, baby. Daddy's here."

Namun ketakutan itu belum pupus. Pandangan Xiel menyapu ruangan, mencari cahaya di tengah badai. Lalu ia menemukannya-seseorang yang memilik mata serupa dengan daddynya.

"Mamas... hikss... tolong adek..." Suara kecilnya memecah keheningan, mengundang kelembutan di seisi ruangan.

Lionel, sang kakak sulung, tersenyum kecil. Tanpa berkata sepatah pun, ia mendekat dan mengangkat Xiel dalam pelukan. Tubuh mungil itu langsung melekat erat di dadanya seperti koala, seolah tak ingin dilepaskan.

Dengan gerakan pelan, Lionel menimang adiknya layaknya bayi kecil.

Dokter Gray berhenti, menahan diri. Menunggu. Semua anggota keluarga D'Lucifer lainnya hanya menyimak dalam diam. Suasana pagi itu terlalu sakral untuk diusik.

"Tak apa, Mamas di sini, dear. Kalau kamu nurut, nanti Mamas kasih hadiah, hmm?" Bisik Lionel, suaranya lebih lembut dari angin musim semi.

Xiel mendongak, matanya masih sembab namun mulai berbinar seperti ada secerca harapan yang menyelinap masuk.

Cupp.

Lionel mengecup bibir mungil adiknya singkat, penuh cinta.

"Promise?" Xiel mengangkat jari kelingkingnya, gerakan kecil yang bermakna besar.

"Hmmm... pinky promise." Lionel tersenyum dan mengaitkan jari mungil itu dengan miliknya. Janji terucap, janji disegel.

Ya demi hadiah, Xiel pasti bisa. Ia menegakkan diri, menarik napas kecil. Jarum jelek, hadiah manis. Sederhana dalam logika anak-anak.

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang