Jarang sekali Han Juhyeok lupa membawa sesuatu dari rumah sampai aku, harus mengantarkannya ke perusahaan. Awalnya, aku berpikir akan menyerahkan dokumen itu dan langsung kembali. Tapi Juhyeok tidak bisa turun karena sedang rapat. Sekretaris Song datang menjemputku dan menyampaikan bahwa Juhyeok ingin aku menunggu untuk makan siang bersama. Itulah kenapa aku kini duduk di ruang kerja Direktur Han.
Berada di perusahaan ini membuatku teringat masa lalu saat aku bekerja keras di perusahaan lama. Sebagai karyawan biasa, aku tidak pernah perlu masuk ke ruang eksekutif seperti ini. Hanya memikirkan dipanggil oleh direktur sudah membuatku merinding. Aku duduk menunggu hingga bosan, lalu mulai berjalan mengelilingi ruangan.
Semuanya tampak sama seperti dulu—desain dekorasi dan suasana ruangan mencerminkan pemiliknya yang serius, dingin, dan sangat tegas. Menurutku, Hyeok memang seperti itu, tapi hanya saat bekerja. Tak lama, orang yang sedang kupikirkan membuka pintu, mengunci ruangan, dan langsung memelukku.
Aku bingung. "Apa ini?"
"Kenapa?" tanya Han Juhyeok sambil mencium pipi dan dahiku, seolah kami tidak bertemu sejak lama, padahal kami baru berpisah di depan pintu rumah pagi ini. "Aku merindukanmu. Apa aku harus sering lupa membawa dokumen agar kau datang mengantarkannya?"
"Apa kau gila?" balasku.
"Aku sudah menyiapkan ruangan di sebelah. Kenapa kau tidak pernah menggunakannya?" tanya Hyeok, menunjuk ke sisi ruangan. Di ruang kerja Direktur Han, ada kamar istirahat lengkap dengan perabotan untukku, baik untuk bekerja maupun sekadar bersantai. "Aku bahkan menyediakan komputer cadangan untukmu."
"Harus bekerja di perusahaanmu? Tak mau," tolakku. "Sekretaris Song bilang kita akan makan siang bersama, benar?"
"Ya," jawabnya. "Lalu kau tinggal bersamaku dan kita pulang bersama. Bagus, bukan?"
"Tidak bagus. Aku tidak begitu suka berada di sini," kataku.
"Tolonglah, hari ini aku sedang mengerjakan proyek besar, sangat melelahkan. Aku ingin kau ada di sini bersamaku," pintanya.
Tentu saja, aku tidak bisa menolak bujukan kekasihku. Aku menyetujui. Kami pergi makan siang di luar, lalu kembali. Aku kira untuk bekerja, tapi kenyataannya tidak demikian. "Hyeok, jangan!" Aku nyaris tidak bisa berdiri saat ia menciumku dengan penuh gairah.
Meski aku protes, tidak ada yang bisa menghentikan hasratnya. Pikiranku mulai kosong saat lidahnya menjelajahi mulutku, menyerap setiap rasa dengan rakus, menggigit bibirku atas dan bawah dengan kuat. Lidah kami saling bertaut hingga terdengar suara air liur. Aku terengah. "Setidaknya lakukan di kamar istirahat!"
"Tapi begini lebih mendebarkan, bukan?" katanya.
Kita benar-benar akan melakukannya di ruang kerja?
Hanya memikirkannya sudah membuatku sangat bersemangat!
Tanpa kusadari, bagian tengah tubuhku mulai mengeras, bersentuhan dengan tubuh besar Han Juhyeok. Ia tersenyum puas, tahu persis apa yang kusuka. Ia sengaja menciumku lebih dalam, membuka kancing bajuku, lalu menjilat leherku hingga ke ujung dada yang sensitif. "Ah..."
"Meski ruangan ini kedap suara, Sekretaris Song ada di depan, tahu," katanya.
"Hmm," gumamku.
"Gigit ini," ujar Han Juhyeok, menyodorkan bajuku untuk kugigit, memperlihatkan dada dan perutku yang penuh bekas luka cinta—jejak gigitan dan hisapan dari malam sebelumnya. Pemandangan yang begitu menggoda. Karena kami melakukannya setiap hari, tubuhku tidak pernah bebas dari bekas. Tentu saja, tubuh Juhyeok juga penuh bekas, termasuk goresan kuku di punggungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] SUGAR VENOM
Romance=AUTHORIZED TRANSLATION= Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis 😊 ⭐️⭐️⭐️ Shin Seoltang, seorang pegawai kantoran yang memiliki aroma tubuh khas. Ia kecanduan masturbasi untuk meredakan stres, namun kini m...
![[END] SUGAR VENOM](https://img.wattpad.com/cover/392438387-64-k975914.jpg)